Mengungkap Filosofi Blangkon Jogja, Simbol Budaya Sarat Makna

Bagikan :
Blangkon Jogja tak sekadar penutup kepala tetapi juga menyimpan makna filosofis, berikut selengkapnya (Dok. Kraton Jogja)

KabarJawa.com – Ketika berbicara mengenai busana tradisional Jawa, salah satu elemen yang tidak bisa dilepaskan adalah blangkon. Penutup kepala yang kerap dikenakan oleh pria ini bukan hanya sekadar aksesori untuk melengkapi pakaian adat, melainkan juga menyimpan makna yang sangat dalam.

Khususnya di Yogyakarta, blangkon memiliki filosofi yang mencerminkan nilai spiritual, sosial, hingga identitas budaya masyarakat Jawa.

Blangkon Jogja pada dasarnya dibuat dari kain batik yang diikat dan dibentuk menyerupai penutup kepala.

Dari segi fungsi, blangkon awalnya digunakan untuk melindungi kepala dari panas matahari. Namun seiring waktu, perannya berkembang menjadi simbol status sosial, kebanggaan, serta wujud kedekatan seseorang dengan nilai-nilai kehidupan Jawa.

Ciri Khas Blangkon Jogja

Blangkon dengan gaya Yogyakarta dapat dikenali dengan mudah, salah satunya melalui keberadaan mondolan di bagian belakang.

Mondolan berbentuk tonjolan menyerupai bulatan sebesar telur yang berisi lipatan kain. Keunikan inilah yang membedakan blangkon Jogja dengan gaya Solo, yang lebih ramping di bagian belakang.

Menariknya, pada masa lalu blangkon model Jogja banyak digunakan oleh kalangan bangsawan keraton.

Baca juga  Mengurai Ajaran Hidup Jawa: Makna ‘Sangkan Paraning Dumadi’ dalam Kehidupan Modern

Kehadiran mondolan tidak hanya menjadi ciri fisik, tetapi juga menyimpan simbol kebulatan tekad dalam menjalani kehidupan.

Filosofi dalam Blangkon Jogja

Menurut penjelasan yang tercatat laman UNS, diketahui bahwa bentuk blangkon Jogja memiliki beragam simbol penuh makna, antara lain:

  • Wiron atau wiru: Lipatan pada blangkon berjumlah 17, melambangkan jumlah rakaat sholat dalam satu hari.
  • Mondolan: Menjadi simbol tekad bulat seorang pria dalam menghadapi kewajiban hidup, meskipun penuh tantangan.
  • Cetetan: Bermakna permohonan pertolongan kepada Allah agar segala urusan dimudahkan.
  • Kemadha: Melambangkan sikap menyamakan orang lain sebagaimana anak sendiri, bentuk penghormatan dan kasih sayang.
  • Tanjungan: Menggambarkan harapan agar pemakainya terlihat tampan, disanjung, dan dihormati masyarakat.

Dari filosofi tersebut dapat dipahami bahwa blangkon tidak dibuat secara asal. Nilai-nilai kehidupan sehari-hari, religiusitas, hingga simbol penghormatan sosial terangkum dalam bentuk sederhana sebuah penutup kepala.

Proses Pembuatan Blangkon

Pada zaman dahulu, blangkon tidak dapat dibuat oleh sembarang orang. Pengerjaannya hanya dilakukan oleh para seniman yang memahami pakem tradisional, mulai dari ukuran kain hingga teknik lipatan yang harus tepat.

Baca juga  Sinoman dalam Perspektif Kekinian: Tradisi hingga Makna Filosofisnya

Kain batik yang digunakan biasanya berukuran persegi dengan panjang dan lebar sekitar 105 sentimeter.

Dari kain tersebut kemudian dibentuk menjadi iket atau udeng yang setelahnya dijahit sedemikian rupa agar praktis digunakan.

Ragam Motif Blangkon Jogja

Selain bentuknya, keindahan blangkon Jogja juga terlihat dari motif batiknya. Setiap motif memiliki makna simbolis yang menjadi nasihat kehidupan, di antaranya:

  • Motif Modang: Melambangkan kesaktian untuk meredam sifat angkara murka.
  • Motif Blumbang: Berarti kolam atau wadah air, simbol ketenangan dan kesejukan hati.
  • Motif Truntum: Motif berbentuk bunga kecil yang melambangkan bintang di malam hari, simbol cinta yang abadi.
  • Motif Celeng Kewengen: Menggambarkan sifat berani, jujur, polos, dan apa adanya.
  • Motif Kumitir: Melambangkan semangat untuk terus bergerak, tidak tinggal diam, serta selalu berusaha keras dalam hidup.

Ragam motif ini membuktikan bahwa blangkon bukan hanya sekadar penutup kepala, tetapi juga sarana penyampai pesan moral dan falsafah hidup orang Jawa.

Blangkon sebagai Identitas Budaya

Di tengah derasnya arus modernisasi, blangkon masih eksis, terutama di wilayah pedesaan atau dalam acara budaya dan adat. Kehadirannya bukan hanya pelengkap busana tradisional, melainkan juga bagian dari identitas masyarakat Jawa yang patut dilestarikan.

Baca juga  Makna Mendalam Bunga Kantil dalam Upacara Tradisional Jawa

Blangkon Jogja mengajarkan bahwa sebuah benda sederhana bisa menyimpan banyak pesan kehidupan. Ini menjadi simbol tekad, penghormatan, serta cerminan nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Messi memimpin Argentina juara Piala Dunia 2022 setelah menang adu penalti atas Prancis dalam final dramatis di Qatar.
Pada Tahun Berapa Messi Memimpin Argentina Meraih Gelar Piala Dunia?
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya