
KabarJawa.com – Wacana menghidupkan kembali transportasi massal yang menghubungkan Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Bantul kini memasuki babak yang semakin menarik.
Pada awal April 2026, Pemerintah Daerah DIY dikabarkan tengah menjajaki pengadaan Kereta Tanpa Rel.
Ini merupakan sebuah inovasi yang digadang-gadang mampu memperluas konektivitas antar kedua wilayah tersebut.
Dan bagi masyarakat yang menaruh perhatian pada sejarah, kabar ini bakal menjadi suatu pengingat bahwa jauh sebelum teknologi ini ramai dibicarakan, Bantul pernah memiliki jaringan perkeretaapian yang begitu berjaya, dan kini tersisa sebagai jejak senyap di antara pertokoan serta terminal bus.
Ketika Bantul Menjadi Jantung Jalur Gula Kolonial
Untuk memahami lebih lanjut soal wacana transportasi masa depan Yogyakarta-Bantul ini, maka kita perlu melangkah mundur lebih dari satu abad ke belakang, lebih tepatnya di era kejayaan industri gula pada masa kolonial Hindia Belanda.
Melansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Bantul, diketahui bahwa kala itu Bantul bukan sekadar kabupaten biasa. Wilayah ini tergolong sebagai sentra Pabrik Gula yang cukup besar di wilayah Yogyakarta.
Hal ini ditandai dengan berdirinya beberapa Pabrik Gula di sana seperti Pabrik Gula Padokan De Volharding yang berdiri tahun 1864, Kedaton Pleret (1881), Pabrik Gula Gesiekan (1897), dan lain sebagainya.
Sementara itu, berdasarkan catatan sejarah Dinas Kebudayaan Yogyakarta, disebutkan bahwa perusahaan kereta api swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS), kemudian melakukan pembangunan jalan kereta api untuk mendukung aktivitas produksi pabrik gula dan membawa hasil produksi.
Adapun diketahui bahwa salah satu rute kereta yang pernah ada itu membentang dari Stasiun Tugu di pusat Yogyakarta, melewati Ngabean, Dongkelan, Winongo, Cepit, hingga Bantul dan Palbapang. Dari sinilah sejarah transportasi selatan Yogyakarta sesungguhnya dimulai.
Stasiun Palbapang – Legenda yang Terlupakan di Lintas Selatan Yogyakarta
Di antara sekian banyak stasiun yang berjejer sepanjang jalur selatan, Stasiun Palbapang menempati posisi yang cukup istimewa.
Berdasarkan penjelasan laman resmi Kalurahan Palbapang, diketahui bahwa stasiun ini adalah yang terbesar di lintas selatan Yogyakarta pada masanya.
Dan salah satu keistimewaan teknis dari Stasiun Palbapang adalah penggunaan spoor dengan lebar 1.435 mm.
Keistimewaan Palbapang tidak berhenti di sana. Stasiun ini juga dilengkapi dengan emplasemen yang cukup luas.
Di sisi timur stasiun bahkan terdapat sebuah depo perawatan lokomotif, sebuah fasilitas yang dimiliki oleh stasiun-stasiun berklasifikasi tinggi. Kehadiran depo ini menandai seperti apa posisi strategis Palbapang dalam keseluruhan peta perkeretaapian kolonial di selatan Yogyakarta.
Antara Perang, Gula yang Runtuh, dan Aspal yang Mengalahkan Rel
Seperti halnya kisah kejayaan yang ujungnya berakhir, jalur kereta Bantul pun tak luput dari hal tersebut. Hal ini terjadi karena hasil dari serangkaian pukulan beruntun yang datang silih berganti selama beberapa dekade.
Pertama, ditandai dengan datangnya tentara Jepang menduduki Jawa pada tahun 1942-an. Kala itu, rel-rel di berbagai penjuru Jawa dibongkar paksa, termasuk jalur selatan Yogyakarta.
Selain itu, beberapa waktu kemudian, pabrik-pabrik gula yang sejak lama menjadi alasan utama keberadaan jalur ini juga mulai runtuh.
Lebih lanjut, tepatnya di era 1970-an, transportasi berbasis aspal seperti bus kota, mobil, dan sebagainya mulai membanjiri jalan-jalan Yogyakarta.
Kala itu, moda transportasi baru ini dinilai lebih fleksibel dan terjangkau bagi masyarakat biasa. Karenanya, lambat laun, berakhirlah era keemasan jalur selatan yang telah menemani kehidupan masyarakat Bantul selama beberapa dekade terakhir.
Kini Stasiun Menjadi Terminal dan Rel Menjadi Jalan
Saat ini, aset-aset fisik peninggalan jalur kereta Bantul mengalami alih fungsi. Jika Anda pernah menyusuri Jalan Bantul dari Yogyakarta ke selatan, maka Anda sejatinya tengah melintas di atas koridor yang cukup berdampingan dengan bekas jalur rel.
Lahan-lahan bekas rel yang beberapa diantaranya diketahui juga berstatus Sultan Ground, dan kini disewa oleh warga lalu bertransformasi menjadi deretan pertokoan dan permukiman.
Secara organik, perubahan ini yang terjadi selama bertahun-tahun ini kemudian menutup satu per satu sisa-sisa fisik rel yang masih tersisa.
Sementara, bangunan megah beserta emplasemen luas bekas Stasiun Palbapang atau yang pernah menjadi kebanggaan lintas selatan, kini telah bertransformasi menjadi Terminal Bus Palbapang yang melayani angkutan jalan raya.
Solusi Masa Depan yang Berpijak pada Pelajaran Masa Lalu
Kini, hampir setengah abad setelah jalur kereta Bantul ditutup, wacana transportasi kereta massal pun mulai mencuat.
Namun kali ini dengan pendekatan yang berbeda. Belakangan, dikabarkan bahwa Pemerintah setempat mengungkap bahwa reaktivasi rel konvensional tergolong tidak memungkinkan, mengingat tak sedikit lahan bekas jalur rel sudah menjadi pemukiman maupun tertutup bangunan.
Dengan demikian, terdapat sebuah inovasi yang kini dilirik yaitu dengan menjajaki kerja sama menyoal kereta tanpa rel.
Di mana, hal ini merupakan moda transportasi yang beroperasi menggunakan sensor virtual di atas permukaan aspal jalan raya biasa. Tiada rel besi, tak ada pembebasan lahan baru, dan tidak ada proyek infrastruktur berskala masif yang harus memindah warga. Langkah penjajakan ini pun dikabarkan akan melibatkan kemitraan dengan pihak Inggris.
Teknologi Berubah, Semangat Menghubungkan Tetap Sama
Kini, wacana transportasi massal ke Bantul kembali dihidupkan. Wacana ini, lebih tepatnya semakin santer usai Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi juga sempat menyatakan harapannya supaya rute transportasi berbasis kereta bisa kembali menjangkau Kabupaten Bantul.
Ia bahkan membuka sinyal positif terkait pemanfaatan lahan Sultan Ground demi mendukung integrasi transportasi masa depan ini.
Dan pada akhirnya, wacana kereta Jogja-Bantul yang didorong oleh Keraton ini seolah menjadi benang merah sejarah. Teknologi mungkin berubah dari lokomotif uap NIS menjadi kereta tanpa rel.
Dimana, hal ini diharapkan akan merajut kembali urat nadi peradaban serta transportasi yang pernah membesarkan nama Bantul di masa silam.***