
KabarJawa.com – Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Jawa memiliki agenda wajib yang tak boleh terlewatkan yaitu tradisi Nyadran.
Tradisi ini bukan sekadar ritual ziarah kubur biasa. Di balik prosesinya, tersimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan sesama.
Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai asal-usul dan makna filosofis Nyadran.
Asal-Usul Kata – Dari Sraddha hingga Sodrun
Istilah “Nyadran” memiliki sejarah etimologi yang beragam. Ada beberapa versi mengenai asal mula kata ini antara lain adalah sebagai berikut.
Pertama, Nyadran disebut berasal dari kata “Sraddha” yang berarti keyakinan. Sementara itu, dalam Bahasa Jawa (Sudra) dimaknai dari kata “Menyudra”, yang berarti berkumpul dengan orang awam (rakyat jelata). Ini mengingatkan hakikat bahwa di hadapan Tuhan, derajat semua manusia adalah sama.
Selanjutnya, melansir laman Pemkab Bantul, ada pula yang mengartikan dari kata “Sodrun” yang berarti dada atau hati. Ini mengisyaratkan bahwa Nyadran adalah soal ketulusan hati.
Perubahan bunyi menjadi “Nyadran” diduga terjadi karena logat masyarakat Jawa yang cenderung medhok dalam melafalkan istilah asing.
Sejarah Akulturasi Budaya yang Indah
Sejarah Nyadran berakar dari tradisi Hindu-Buddha (Sraddha) untuk menghormati roh leluhur. Ketika Islam masuk melalui Wali Songo, tradisi ini tidak dihapus, melainkan diakulturasi.
Para Wali menyelaraskan budaya tersebut dengan nilai Islam. Isinya diubah menjadi ziarah kubur, bersih makam (besik), doa bersama (tahlil), dan kenduri (makan bersama) yang dilaksanakan pada bulan Ruwah (Syaban) sebagai pengingat kematian sebelum Ramadhan.
Pelaksanaan Nyadran
Setiap daerah memiliki ciri khas dalam melaksanakan Nyadran. Umumnya masyarakat membersihkan makam sambil membawa sadranan (bungkusan makanan hasil bumi) ke area pemakaman untuk dimakan bersama usai doa.
Sementara itu di wilayah Muntilan, Magelang tradisi di wilayah ini sedikit berbeda. Masyarakat biasanya tidak membawa makanan (sadranan) saat membersihkan makam.
Kegiatan makan bersama atau kenduri doa biasanya dilakukan terpisah, yakni satu hari setelah bersih makam, baik di rumah warga atau balai desa.
Makna Filosofis yang Mendalam
Melansir laman Kementerian PANRB, Nyadran juga menyimpan makna filosofis mendalam. Tradisi ini sering kali dinilai sebagai upaya membersihkan makam dimaknai sebagai simbol membersihkan hati dari sifat dengki dan amarah sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Kemudian, mendoakan arwah agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Ini adalah bukti bahwa anak cucu tidak melupakan “sangkan paraning dumadi” (asal-usul keberadaannya).
Selain itu, kegiatan Ziarah mengingatkan bahwa manusia pasti akan kembali kepada Sang Pencipta, sehingga memacu semangat ibadah.
Lebih lanjut, kegiatan kenduri atau makan bersama adalah wujud syukur atas hasil panen dan sarana mempererat persaudaraan (Ukhuwah) antarwarga tanpa memandang status sosial.
Bukan Sekadar Tradisi
Jadi kesimpulannya, makna tradisi Nyadran sebelum puasa adalah ritual penyucian diri dan penghormatan kepada leluhur melalui ziarah kubur.
Secara filosofis, Nyadran mengajarkan kita untuk menghormati masa lalu (leluhur), rukun dengan sesama (kenduri), dan mempersiapkan masa depan (akhirat) dengan hati yang bersih menyambut Ramadhan.***