Kenapa Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Dimakamkan di Imogiri? Sejarah dan Filosofi di Balik Makam para Raja Mataram Islam

Bagikan :
Kompleks makam Raja-Raja di Imogiri (Dok. Jogjaprov)

KabarJawa.com – Kabar duka masih menyelimuti lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi, raja yang memimpin Surakarta selama lebih dari dua dekade, berpulang pada Minggu pagi, 2 November 2025.

Kepergian Pakubuwono XIII yang dikenal sebagai sosok tenang dan berwibawa ini meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar keraton, tetapi juga bagi warga masyarakat sekitarnya.

Jenazah sang raja direncanakan akan dimakamkan di kompleks makam raja-raja Mataram Islam di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi sebagian orang mungkin muncul pertanyaan, mengapa seorang raja Kasunanan Surakarta dimakamkan di Imogiri?

Jawabannya ternyata berkaitan erat dengan sejarah panjang Kerajaan Mataram Islam serta filosofi yang terkandung dalam tempat tersebut.

Alasan Mengapa Pakubuwono XIII Dimakamkan di Imogiri

Makam Imogiri telah lama dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir para raja Mataram Islam beserta keturunannya.

Berdasarkan keterangan dari laman resmi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, meskipun setelah tahun 1755 terjadi Perjanjian Giyanti, status kompleks makam Pajimatan Imogiri tetap tidak berubah.

Makam ini tetap dianggap sebagai “harta suci” bersama. Artinya, baik pihak Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta memiliki tanggung jawab dan hak yang sama dalam menjaga serta memelihara kawasan tersebut.

Baca juga  Menguak Jejak Arsitektur Jawa Kuno: dari Candi hingga Rumah Joglo yang Mulai Hilang Tergerus Zaman

Oleh karena itu, raja dari Kasunanan Surakarta memiliki hak untuk dimakamkan di area barat kompleks Imogiri, yang memang diperuntukkan bagi keturunan Pakubuwono.

Maka, tidak mengherankan jika Sri Susuhunan Pakubuwono XIII akan disemayamkan di samping pusara ayahandanya, Sri Susuhunan Pakubuwono XII, di sisi barat kompleks tersebut.

Sejarah Pembangunan Makam Imogiri

Makam Imogiri berdiri di puncak Bukit Merak, wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul. Kawasan ini dibangun atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja besar Kerajaan Mataram Islam yang memerintah pada tahun 1613 hingga 1646 Masehi.

Menurut sumber dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Bantul, pada akhir masa pemerintahannya, Sultan Agung sempat memerintahkan pamannya, Panembahan Juminah, untuk membangun makam di Giriloyo, Imogiri.

Namun sebelum pembangunan selesai, Panembahan Juminah wafat dan dimakamkan di tempat yang sedang ia bangun.

Setelah itu, Sultan Agung memerintahkan Kyai Tumenggung Citrokusumo untuk melanjutkan pembangunan di tempat yang kemudian dikenal sebagai Pajimatan Imogiri.

Nama Imogiri sendiri berasal dari kata “hima” yang berarti kabut dan “giri” yang berarti gunung. Jika digabungkan, Imogiri dapat dimaknai sebagai “gunung yang diselimuti kabut.”

Baca juga  Apa Itu Hari Perhubungan Darat Nasional 2025? Ini Makna, Sejarah, dan Tujuannya

Adapun makam tersebut kemudian digunakan untuk memakamkan Sultan Agung, raja-raja Mataram beserta keturunannya.

Struktur dan Pembagian Kompleks Makam

Kompleks pemakaman Imogiri terbagi menjadi tiga kelompok besar yang tersusun dari arah barat ke timur, masing-masing mewakili garis keturunan kerajaan. Berikut detailnya.

Kompleks Raja-Raja Mataram Islam

Area ini terdiri dari dua kedhaton, yaitu Kedhaton Sultan Agungan dan Kedhaton Pakubuwanan. Di sinilah Sultan Agung dan penerus awal Mataram Islam dimakamkan.

Kompleks Raja-Raja Kasultanan Yogyakarta

Terdiri dari tiga kedhaton, yaitu Kedhaton Kasuwargan, Kedhaton Besiyaran, dan Kedhaton Saptarengga. Kawasan ini menjadi tempat peristirahatan raja-raja Kasultanan Yogyakarta serta keluarganya.

Kompleks Raja-Raja Kasunanan Surakarta

Bagian ini mencakup tiga kedhaton, yakni Kedhaton Bagusan, Kedhaton Astana Luhur, dan Kedhaton Girimulya. Di kompleks inilah raja-raja Surakarta, termasuk Pakubuwono X, Pakubuwono XII dimakamkan.

Filosofi dan Makna Sakral di Balik Area Pemakaman

Setiap bagian dari kompleks Imogiri memiliki makna filosofis yang mendalam. Area makam terbagi menjadi beberapa lapisan yang sarat makna.

Bagian pertama adalah area publik, yang menjadi tempat awal menuju kawasan pemakaman. Ciri khasnya adalah gapura berbentuk supit urang, yang menandai pintu masuk menuju kawasan Kasultanagungan.

Baca juga  Momen Bersejarah yang Jatuh pada 27 Maret 2025

Area selanjutnya dikenal dengan sebutan Srimanganti. Di area semi sakral ini terdapat gapura Paduraksa yang memiliki atap serta daun pintu yang dapat dibuka dan ditutup.

Pada bagian sisi gapura terdapat ornamen sayap burung yang melambangkan kebebasan jiwa dari raga, menggambarkan lepasnya arwah dari badan.

Adapun area tertinggi adalah area sakral, yang disebut Kedhaton. Di area sakral serta semi sakral itulah para raja dan anggota keluarga kerajaan dimakamkan.

Simbol Persatuan dan Warisan Abadi

Pemakaman Sri Susuhunan Pakubuwono XIII di Imogiri bukan hanya melanjutkan tradisi ratusan tahun, tetapi juga menjadi simbol persatuan antara dua kerajaan.

Imogiri menjadi bukti bahwa kerajaan-kerajaan Jawa kini tetap bersatu dalam nilai budaya serta spiritual yang sama. Lebih dari sekadar makam, Imogiri adalah warisan peradaban.

Maka, dimakamkannya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII di sana tidak hanya sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap akar sejarah Mataram Islam yang menjadi dasar kebesaran budaya Jawa hingga hari ini.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid