
KabarJawa.com – Pantangan bulan Sapar menurut orang Jawa masih menjadi perbincangan setiap kali kalender Jawa memasuki bulan Sapar atau Safar dalam penanggalan Hijriah.
Di berbagai daerah, khususnya di Pulau Jawa, bulan Sapar acapkali dikaitkan dengan berbagai kepercayaan mengenai nasib, keselamatan, hingga waktu yang dianggap tepat untuk melaksanakan kegiatan penting.
Tidak sedikit masyarakat yang masih memilih menunda pernikahan, membangun rumah, atau menggelar hajatan besar ketika memasuki bulan Sapar. Sebagian masyarakat juga banyak menggelar tradisi selamatan atau ritual tolak bala sebagai bentuk doa agar terhindar dari musibah.
Kepercayaan ini sendiri lahir dari warisan budaya Jawa yang berkembang jauh sebelum Islam menyebar di Nusantara. Seiring berjalannya waktu, tradisi lokal kemudian berakulturasi dengan kehidupan masyarakat yang mayoritas beragama Islam sehingga sejumlah mitos tetap bertahan hingga sekarang.
Meski demikian, para ulama dan lembaga keagamaan menegaskan bahwa anggapan bulan Safar sebagai bulan sial tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara tradisi budaya yang hidup di masyarakat dengan ajaran agama.
Pantangan Bulan Sapar yang Masih Diyakini Masyarakat Jawa
Dalam tradisi Jawa, bulan Sapar sering dipandang sebagai waktu yang membutuhkan kehati-hatian. Berbagai pantangan diwariskan secara turun-temurun melalui primbon, petuah para sesepuh, maupun kebiasaan masyarakat setempat. Berikut sejumlah pantangan bulan Sapar yang masih diyakini sebagian besar masyarakat Jawa:
1. Menunda pernikahan
Pantangan yang paling dikenal adalah larangan menggelar pernikahan selama bulan Sapar. Sebagian masyarakat percaya pasangan yang menikah pada bulan ini akan menghadapi berbagai cobaan dalam rumah tangga, mulai dari persoalan ekonomi, hubungan yang kurang harmonis, hingga sering tertimpa kesialan.
Kepercayaan ini membuat banyak calon pengantin memilih mencari bulan lain yang dianggap lebih membawa keberuntungan. Bahkan, di sejumlah daerah, jumlah pendaftaran pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) cenderung menurun ketika memasuki bulan Safar karena masyarakat memilih menunda akad nikah.
Tradisi ini sebenarnya berasal dari kepercayaan primbon Jawa yang menghubungkan waktu dengan peruntungan hidup, bukan berasal dari ajaran Islam.
2. Menghindari hajatan besar
Selain pernikahan, sebagian masyarakat juga enggan mengadakan pesta besar, khitanan, syukuran rumah baru, hingga berbagai acara keluarga lainnya selama bulan Sapar.
Menurut kepercayaan lama, hajatan yang dilaksanakan pada bulan ini dikhawatirkan tidak berjalan lancar atau mendatangkan hambatan di kemudian hari. Karena alasan tersebut, banyak keluarga memilih menggeser jadwal acara ke bulan berikutnya.
3. Tidak memulai pembangunan rumah
Pantangan lain yang masih dijumpai di beberapa daerah adalah menghindari peletakan batu pertama atau memulai pembangunan rumah pada bulan Sapar.
Dalam pandangan sebagian masyarakat Jawa, pembangunan yang dimulai pada bulan tersebut dipercaya berpotensi mendatangkan kesulitan bagi pemilik rumah atau menghambat proses pembangunan. Oleh sebab itu, sebagian orang memilih berkonsultasi dengan sesepuh adat atau menggunakan perhitungan penanggalan Jawa sebelum menentukan waktu membangun rumah.
4. Menunda pindah rumah atau membuka usaha
Selain membangun rumah, pindah tempat tinggal maupun memulai usaha baru juga sering dihindari selama bulan Sapar.
Ada keyakinan bahwa usaha yang dimulai pada bulan tersebut akan sulit berkembang, sedangkan pindah rumah dipercaya dapat membawa berbagai hambatan dalam kehidupan keluarga. Meskipun tidak semua masyarakat masih mempercayainya, tradisi ini tetap bertahan di sejumlah wilayah pedesaan.
5. Menggelar ritual keselamatan
Menariknya, bulan Sapar tidak selalu dimaknai sebagai waktu yang harus dihindari. Di banyak daerah Jawa justru berkembang tradisi selamatan sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Tuhan.
Tradisi Saparan yang masih dilestarikan di berbagai daerah, seperti Saparan Bekakak di Ambarketawang, Sleman, menjadi contoh bagaimana masyarakat mengisi bulan Sapar dengan doa bersama, kenduri, kirab budaya, hingga berbagai pertunjukan seni tradisional.
Bagi masyarakat pendukungnya, ritual tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan ungkapan syukur sekaligus permohonan agar seluruh warga diberikan keselamatan, kesehatan, dan dijauhkan dari berbagai marabahaya.
Mengapa Bulan Sapar Dianggap Sakral?
Pandangan mengenai kesakralan bulan Sapar tidak muncul begitu saja. Dalam budaya Jawa, bulan ini identik dengan masa refleksi, permohonan keselamatan, serta penghormatan kepada leluhur.
Berbagai upacara adat digelar sebagai simbol menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Salah satunya adalah Upacara Saparan Bekakak di Gamping yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Tradisi tersebut diselenggarakan untuk mengenang jasa Kyai Wirosuto dan Nyai Wirosuto, abdi dalem Sri Sultan Hamengku Buwana I yang diyakini menjadi cikal bakal masyarakat Ambarketawang. Rangkaian upacaranya meliputi Midodareni Bekakak, kirab budaya, penyembelihan simbolis bekakak dari tepung ketan, hingga kenduri bersama.
Bagi masyarakat Jawa, pelaksanaan ritual semacam ini menjadi cara untuk menjaga hubungan dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Karena itu, meski sebagian pantangan mulai ditinggalkan, tradisi Saparan sebagai bentuk pelestarian budaya masih terus dipertahankan hingga sekarang.
Pandangan Islam tentang Bulan Safar dan Mitos Kesialan
Berbeda dengan kepercayaan dalam tradisi Jawa, Islam tidak mengenal konsep bulan yang membawa kesialan.
Pada masa Arab Jahiliah, masyarakat memang meyakini bulan Safar sebagai bulan yang penuh kemalangan sehingga mereka menghindari perjalanan, pernikahan, maupun aktivitas penting lainnya. Namun keyakinan tersebut kemudian diluruskan oleh Rasulullah SAW.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada penularan penyakit (tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hammah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.”
Hadis tersebut menjadi penegasan bahwa Islam menolak seluruh bentuk takhayul yang mengaitkan waktu tertentu dengan nasib buruk.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menjelaskan bahwa anggapan bulan Safar membawa kesialan merupakan warisan kepercayaan Arab Jahiliah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Senada dengan itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menegaskan bahwa seluruh bulan dalam kalender Hijriah memiliki kedudukan yang sama dan tidak ada satu pun yang secara syariat dianggap membawa sial.
Nama Safar sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “kosong” atau “sepi”. Istilah tersebut merujuk pada kebiasaan masyarakat Arab kuno yang meninggalkan rumah mereka untuk berdagang atau berperang sehingga permukiman menjadi kosong.
Dalam sejarah Islam, bulan Safar justru menjadi saksi berbagai peristiwa penting. Salah satunya adalah ekspedisi menuju Khaibar yang dipimpin Rasulullah SAW pada tahun ketujuh Hijriah. Peristiwa itu menunjukkan bahwa bulan Safar tidak pernah menjadi penghalang untuk melakukan aktivitas besar.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa nasib manusia tidak ditentukan oleh waktu ataupun bulan tertentu. Dalam Surah Al-Isra ayat 13 dijelaskan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas amal perbuatannya sendiri.
Karena itu, Islam menganjurkan umatnya untuk mengisi bulan Safar sebagaimana bulan-bulan lainnya dengan memperbanyak amal saleh seperti berdoa, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, menjalankan puasa sunnah, serta memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, pantangan bulan Sapar menurut orang Jawa merupakan bagian dari warisan budaya yang tumbuh dalam tradisi lokal. Sebagian masyarakat masih menjadikannya pedoman dalam menentukan waktu pelaksanaan berbagai kegiatan penting, sementara sebagian lainnya memaknainya sebagai bagian dari kearifan budaya tanpa meyakini adanya unsur kesialan.
Memahami perbedaan antara tradisi dan ajaran agama menjadi hal penting agar masyarakat dapat tetap menghargai budaya leluhur sekaligus menjaga akidah sesuai tuntunan Islam. Dengan demikian, bulan Sapar dapat dipandang sebagai momentum untuk melestarikan budaya, mempererat kebersamaan, serta meningkatkan ibadah tanpa diliputi rasa takut terhadap mitos yang tidak memiliki landasan syariat.