
KABARJAWA – Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) resmi memantapkan rencana menjadikan Kota Yogyakarta sebagai Ibukota Budaya Indonesia.
JKPI menyatakan penetapan tersebut menjadi momentum kebangkitan baru bagi masyarakat Yogyakarta untuk mengukuhkan produktivitas melalui ekosistem budaya yang telah lama terbentuk dan terjaga.
Tentang JKPI
Direktur Eksekutif JKPI, Nanang Asfarinal, mengungkapkan JKPI hadir sebagai wadah pelestarian benda pusaka, cagar budaya, dan situs sejarah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Nanang menyebut JKPI berdiri sejak 2008 dengan anggota awal hanya 11 daerah, namun saat ini JKPI telah menghimpun 75 daerah anggota.
“Kami mengapresiasi Kota Yogyakarta yang telah mempersiapkan diri secara maksimal sebagai tuan rumah Rakernas JKPI 2025. Tahun berikutnya Rakernas akan digelar di Ternate,” ujar Nanang penuh semangat saat rapat di Ruang Sadewa Balai Kota Yogyakarta pada Rabu (2/7/2025).
Yogyakarta sebagai Ibukota Budaya
Nanang menambahkan JKPI bersama Kementerian Kebudayaan telah melakukan audiensi dan diskusi terkait penetapan Yogyakarta sebagai Ibukota Budaya. Ia memastikan peluncuran Ibukota Budaya akan berlangsung bersamaan dengan rangkaian agenda JKPI pada Agustus 2025.
“Launching Ibukota Budaya nanti bertujuan untuk menguatkan pelestarian budaya sekaligus mengelaborasi peningkatan potensi wisata berbasis kebudayaan,” tegasnya.
Sementara itu Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambut rencana tersebut dengan penuh keyakinan. Hasto menyatakan Yogyakarta memiliki ekosistem dan support system budaya yang lengkap untuk menyandang predikat Ibukota Budaya.
“Potensi budaya di Yogyakarta sudah ada secara existing. Banyak seniman dan budayawan lahir di kota ini. Di sini juga ada perguruan tinggi yang melahirkan professor dan maestro seni budaya sejak zaman dahulu,” ungkap Hasto dengan suara bergetar menahan haru.
Hasto menegaskan ekosistem budaya di Yogyakarta telah menghasilkan sesuatu yang alami dan luar biasa. Ia juga menyoroti kekayaan tak benda Yogyakarta sebagai kekuatan yang tak terlihat tapi terasa oleh siapa saja yang pernah tinggal di tanah ini.
“Setiap orang yang pernah tinggal di Yogyakarta akan melewati proses yang tak tampak, tapi mereka pasti bisa merasakannya. Proses itu membentuk cara berpikir dan kepribadian kita. Kita tumbuh di tengah ekosistem yang kaya akan kompleksitas budaya,” jelasnya dengan tatapan penuh makna.
Hasto meminta masyarakat memanfaatkan kekayaan seni, budaya, dan sejarah Yogyakarta untuk kegiatan yang produktif. Ia mengajak semua pihak berpikir jauh ke depan demi keberlanjutan kejayaan budaya Yogyakarta.
“Kita harus membangun bangunan yang diproyeksikan untuk puluhan tahun ke depan. Bangunan itu akan menjadi situs budaya dan heritage kebanggaan bangsa ini,” tuturnya. (ef linangkung)