
KabarJawa.com – Nuwun sewu adalah salah satu ungkapan dalam bahasa Jawa yang sangat akrab di telinga masyarakat, terutama ketika seseorang hendak meminta jalan, menyela pembicaraan, atau menyampaikan permintaan maaf secara halus.
Dua kata ini terdengar sederhana, tetapi penggunaannya menyimpan nilai penting dalam budaya Jawa: kesopanan, penghormatan, dan kesadaran untuk menempatkan diri ketika berhadapan dengan orang lain.
Dalam percakapan sehari-hari, kita mungkin sering mendengar seseorang berkata, “Nuwun sewu,” ketika hendak melewati orang yang lebih tua. Ungkapan serupa juga dapat terdengar ketika seseorang ingin menyampaikan pendapat yang berbeda atau meminta izin melakukan sesuatu.
Lantas, apa sebenarnya arti nuwun sewu dan kapan waktu yang tepat untuk mengucapkannya? Berikut artikel ini akan menjelaskannya secara detail dan terperinci.
Arti Nuwun Sewu dalam Bahasa Jawa
Secara bahasa, “nuwun sewu” bisa diartikan “permisi”. Ungkapan ini digunakan untuk menunjukkan sikap sopan ketika seseorang hendak melewati, menyela, mendatangi, atau meminta perhatian orang lain.
Namun, makna “nuwun sewu” tidak selalu dapat diterjemahkan secara kaku berdasarkan arti setiap katanya. Sebagai ungkapan atau idiom, maknanya sangat bergantung pada konteks percakapan.
Dalam kajian mengenai tindak tutur permintaan maaf masyarakat Jawa, Betari Irma Ghasani menjelaskan bahwa “nuwun sewu” memiliki karakteristik penggunaan yang berbeda dari kata “sorry” atau “excuse me” dalam bahasa Inggris.
Kajian tersebut menempatkan kata ini sebagai bagian dari strategi berbahasa yang berkaitan erat dengan konteks budaya dan cara masyarakat Jawa menyampaikan permintaan maaf atau permisi.
Sementara itu, “Kamus Basa Jawa (Jawa-Indonesia, Indonesia-Jawa) karya Nursam Windarti”, sebagaimana dikutip dalam pembahasan kebahasaan, menjelaskan bahwa “nuwun sewu” digunakan dengan makna “permisi”.
Di sinilah menariknya bahasa Jawa. Sebuah ungkapan tidak selalu cukup dipahami melalui terjemahan kata demi kata. Situasi, hubungan antara penutur dan lawan bicara, serta maksud yang ingin disampaikan ikut menentukan maknanya.
Mengapa Nuwun Sewu Dianggap Sopan?
Dalam budaya Jawa, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pesan tetapi juga menjadi bagian dari tata krama. Penelitian Puji Arfianingrum mengenai penerapan unggah-ungguh bahasa Jawa menjelaskan bahwa tata tutur Jawa mempertimbangkan siapa yang berbicara, siapa lawan bicaranya, serta situasi ketika percakapan berlangsung. Tujuannya adalah menjaga kesopanan sekaligus menunjukkan penghormatan kepada orang lain.
Prinsip inilah yang membuat “nuwun sewu” memiliki kedudukan penting dalam percakapan masyarakat Jawa. Ketika seseorang hendak melewati orang lain, misalnya, ia tidak serta-merta berjalan begitu saja. Ia terlebih dahulu memberi tanda bahwa dirinya hendak lewat dengan mengucapkan, “Nuwun sewu.”
Ungkapan tersebut seolah-olah menyampaikan pesan: “Saya mohon izin untuk lewat.” Meskipun hanya terdiri atas dua kata, “nuwun sewu” menunjukkan kesadaran bahwa ruang dan keberadaan orang lain perlu dihormati.
Karena itu, ungkapan ini sering digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, orang yang belum dikenal, tamu, atau seseorang yang memiliki kedudukan tertentu. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, “nuwun sewu” juga dapat digunakan kepada siapa pun ketika situasinya membutuhkan ungkapan permisi yang sopan.
Kapan Waktu yang Tepat Mengucapkan Nuwun Sewu?
Ada beberapa situasi yang umum menjadi waktu tepat untuk mengucapkan “nuwun sewu”, di antaranya:
1. Ketika Hendak Melewati Orang Lain
Ini adalah penggunaan yang paling sering ditemui. Misalnya, ketika seseorang harus melewati kerumunan, berjalan di depan orang yang sedang duduk, atau melewati jalan yang cukup sempit.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa seseorang tidak ingin menerobos begitu saja tanpa memperhatikan keberadaan orang lain.
2. Ketika Hendak Menyela Pembicaraan
Dalam budaya Jawa, menyela pembicaraan secara tiba-tiba dapat dianggap kurang sopan, terutama ketika lawan bicara adalah orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan yang dihormati.
Karena itu, “nuwun sewu” dapat digunakan sebelum seseorang menyampaikan sesuatu. Ungkapan tersebut membuat pembicaraan terasa lebih halus. Penutur seolah-olah meminta ruang sebelum mengambil giliran berbicara.
3. Ketika Menyampaikan Pendapat yang Berbeda
Nuwun sewu juga dapat digunakan ketika seseorang ingin menyampaikan pandangan yang tidak sama dengan lawan bicaranya. Dalam konteks ini, “nuwun sewu” bukan berarti penutur harus merasa bersalah karena memiliki pendapat berbeda.
Ungkapan ini lebih berfungsi sebagai cara halus untuk menjaga hubungan sosial agar perbedaan pendapat tidak terdengar sebagai serangan.
Nuwun Sewu dan Unggah-Ungguh dalam Budaya Jawa
Penggunaan nuwun sewu tidak dapat dilepaskan dari konsep unggah-ungguh. Dalam penelitian mengenai pembelajaran unggah-ungguh bahasa Jawa, Winda Dwi Lestari, Djoko Sulaksono, dan Budi Waluyo menjelaskan bahwa unggah-ungguh merupakan bagian dari kearifan lokal yang berkaitan dengan cara menghormati orang lain. Bahkan, unggah-ungguh dipandang sebagai salah satu ukuran etika dan tata krama seseorang dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Dengan demikian, nuwun sewu bukan sekadar kata permisi. Ia merupakan bagian kecil dari sistem nilai yang lebih besar. Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa hubungan antarmanusia perlu dijaga melalui pilihan kata dan sikap.
Dalam kajian tentang budaya Jawa, bahasa bahkan tidak hanya dipandang sebagai alat komunikasi, tetapi juga dapat mencerminkan tata krama dan posisi sosial antara penutur dan lawan bicara. Ungkapan seperti “nuwun sewu” dan “nderek langkung” menjadi contoh bagaimana bahasa digunakan untuk menunjukkan kesopanan ketika berinteraksi.
Dalam beberapa situasi, “nuwun sewu” memang dapat memiliki nuansa seperti “maaf” atau “permisi”. Namun, penggunaannya tidak selalu sama dengan permintaan maaf setelah melakukan kesalahan.
Perbedaan konteks inilah yang membuat ungkapan Jawa memiliki kekayaan makna. Satu frasa dapat memiliki nuansa yang berbeda bergantung pada situasi dan hubungan sosial.
Pada akhirnya, “nuwun sewu” mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: sebelum memasuki ruang orang lain, sebelum menyela pembicaraan, atau sebelum menyampaikan sesuatu yang mungkin berbeda, ada baiknya kita terlebih dahulu menunjukkan penghormatan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kebiasaan kecil semacam ini mungkin tampak sederhana. Namun, justru dari kebiasaan kecil itulah tata krama dan penghormatan kepada sesama dapat terus hidup.***