
KabarJawa.com – Masyarakat Jawa memiliki banyak ungkapan yang digunakan untuk menyampaikan nasihat tentang kehidupan.
Meskipun dalam kalimat pendek dan terdengar sederhana, setiap ungkapan memiliki makna yang tidak selalu bisa dipahami hanya dengan menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Ungkapan seperti urip iku urup, nrima ing pandum, dan tepa selira misalnya, tidak hanya berbicara tentang cara seseorang menjalani hidup.
Di dalam ungkapan-ungkapan ini terdapat nilai mengenai hubungan dengan orang lain, pengendalian diri, tanggung jawab, hingga cara menghadapi keadaan.
Sejumlah ungkapan Jawa bahkan berfungsi sebagai pedoman etika sosial. Kajian mengenai tepa slira, misalnya, menjelaskan konsep tersebut sebagai cara memperlakukan orang lain dengan menjadikan diri sendiri sebagai ukuran.
8 Ungkapan Jawa tentang Hidup
Berikut contoh delapan ungkapan Jawa tentang hidup yang memiliki makna yang lebih luas dibandingkan artinya:
1. Urip Iku Urup
Urip iku urup secara harfiah dapat dimaknai sebagai hidup itu menyala. Namun, kata urup tidak berhenti pada gambaran tentang cahaya.
Ungkapan ini sering dimaknai sebagai ajakan agar kehidupan seseorang memberikan manfaat bagi orang lain. Artinya, keberadaan manusia idealnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Nilai tersebut membuat urip iku urup relevan dengan kehidupan modern. Seseorang tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk dianggap bermanfaat.
Membantu orang lain, berbagi pengetahuan, atau menjalankan pekerjaan dengan baik juga dapat menjadi bentuk kontribusi.
2. Nrima Ing Pandum
Nrima ing pandum kerap diterjemahkan sebagai menerima bagian yang telah diberikan. Secara sederhana, ungkapan ini mengajarkan penerimaan terhadap keadaan yang dihadapi seseorang.
Namun, nrima tidak selalu identik dengan menyerah tanpa usaha. Dalam konteks filosofi Jawa, penerimaan lebih dekat dengan kemampuan berdamai dengan kenyataan setelah seseorang menjalankan bagian yang dapat diusahakannya.
Karena itu, nrima ing pandum dapat dipahami sebagai pengendalian keinginan agar manusia tidak terus-menerus dikuasai rasa kurang, iri, atau kecewa terhadap apa yang dimiliki orang lain.
3. Tepa Selira
Tepa selira sering diterjemahkan sebagai tenggang rasa. Akan tetapi, maknanya memiliki dimensi sosial yang lebih kuat.
Tepa dapat dipahami sebagai ukuran, sedangkan slira merujuk pada diri sendiri. Prinsipnya adalah menjadikan pengalaman diri sebagai pertimbangan ketika memperlakukan orang lain.
Dengan demikian, seseorang diajak berpikir sebelum bertindak: jika dirinya tidak ingin diperlakukan dengan buruk, ia pun seharusnya tidak melakukan hal serupa kepada orang lain.
Nilai ini menjadikan tepa selira sebagai salah satu prinsip penting dalam membangun hubungan sosial. Ia mengajarkan empati sekaligus batas agar seseorang tidak bertindak semaunya.
4. Aja Dumeh
Aja dumeh berarti jangan mentang-mentang. Ungkapan ini biasanya digunakan untuk mengingatkan seseorang yang mulai menyalahgunakan kelebihan yang dimilikinya.
Kelebihan itu dapat berupa jabatan, kekayaan, kepandaian, pengaruh, maupun kekuasaan. Pesannya sederhana: keadaan seseorang hari ini tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Karena itu, aja dumeh bukan sekadar nasihat agar tidak sombong. Ia juga mengandung pengingat bahwa posisi dan kelebihan dapat berubah sehingga seseorang perlu tetap rendah hati.
5. Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe
Ungkapan sepi ing pamrih, rame ing gawe memiliki arti kurang lebih bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan kepentingan pribadi sebagai tujuan utama.
Dalam kajian mengenai ungkapan Jawa, frasa tersebut dimaknai sebagai tindakan yang dilakukan dengan ketulusan dan tidak didasarkan pada keinginan pribadi semata.
Ada perbedaan antara bekerja tanpa pamrih dan bekerja tanpa tujuan. Ungkapan ini tidak mengajarkan seseorang untuk mengabaikan hak atau hasil kerja, melainkan menekankan agar kepentingan pribadi tidak mengalahkan tanggung jawab terhadap pekerjaan.
Dengan kata lain, kualitas seseorang dinilai dari apa yang dikerjakan, bukan semata-mata dari seberapa sering ia membicarakan hasil yang ingin diperoleh.
6. Sapa Nandur Bakal Ngunduh
Sapa nandur bakal ngunduh secara harfiah berarti siapa yang menanam akan memanen. Ungkapan ini menggambarkan hubungan antara tindakan dan akibat yang muncul kemudian.
Menanam dalam ungkapan tersebut tidak terbatas pada kegiatan bercocok tanam. Ia dapat menjadi gambaran tentang berbagai pilihan manusia dalam kehidupan.
Seseorang yang menanam kebaikan berpeluang mendapatkan kebaikan, sedangkan tindakan buruk dapat menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan.
Pesan utama dari ungkapan ini adalah manusia perlu bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
7. Aja Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa
Ungkapan aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa memiliki pesan tentang kerendahan hati. Secara bebas, maknanya adalah jangan merasa paling mampu, tetapi harus mampu memahami keadaan.
Bagian kedua menjadi penting karena kemampuan seseorang tidak hanya diukur dari kepandaian menyelesaikan persoalan.
Ada pula kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, membaca situasi, dan menyadari keterbatasan diri.
Ungkapan ini mengingatkan bahwa kepandaian tanpa kepekaan dapat membuat seseorang kehilangan hubungan baik dengan lingkungan sosialnya.
8. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Ungkapan datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan mengajarkan keteguhan menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan.
Secara umum, pesannya adalah tidak mudah sakit hati ketika terkena masalah dan tidak larut dalam kesedihan ketika mengalami kehilangan.
Bukan berarti seseorang dilarang merasa sedih atau kecewa. Sebaliknya, ungkapan ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk tidak membiarkan kesedihan menguasai seluruh kehidupan.
Dalam konteks sekarang, pesan tersebut dekat dengan kemampuan mengelola kegagalan, kehilangan, dan perubahan.
Manusia boleh mengalami masa sulit, tetapi tetap perlu menemukan cara untuk melanjutkan kehidupan.
Kenapa Ungkapan Jawa Tidak Selalu Bisa Diterjemahkan Harfiah
Ungkapan Jawa menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi sarana untuk mewariskan nilai dan etika. Kalimat yang hanya terdiri dari beberapa kata bisa memuat pandangan mengenai hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungan sosial.
Karena itu, menerjemahkan urip iku urup sebagai hidup itu menyala saja belum menjelaskan pesan yang hendak disampaikan.
Begitu pula tepa selira tidak cukup hanya diterjemahkan menjadi tenggang rasa tanpa melihat prinsip memperlakukan orang lain sebagaimana seseorang ingin diperlakukan.
Hal serupa terlihat pada sepi ing pamrih, rame ing gawe. Maknanya berkaitan dengan ketulusan bekerja dan mendahulukan kepentingan yang lebih luas, bukan sekadar ajakan untuk bekerja keras.
Pada akhirnya, kekuatan ungkapan Jawa terletak pada kemampuannya menyampaikan nasihat secara singkat tanpa kehilangan kedalaman.
Nilai seperti rendah hati, tenggang rasa, menerima keadaan, bertanggung jawab, dan memberi manfaat tetap dapat dibaca ulang dalam konteks kehidupan masyarakat hari ini.***