
KabarJawa.com – Karawitan tidak hanya soal bunyi gamelan yang terdengar pelan dan teratur. Di balik seperangkat gong, kendang, gender, saron, dan instrumen lainnya, ada para maestro yang mengembangkan cara bermain, menciptakan gending, sekaligus mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Sejumlah nama bahkan meninggalkan pengaruh yang masih terasa sampai sekarang. Mereka bukan hanya dikenal karena banyak menciptakan gending, tetapi juga karena berhasil membuat karawitan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Berikut lima maestro karawitan Jawa yang karya dan pemikirannya selalu dikenang oleh generasi sekarang.
5 Maestro Karawitan yang Tak Lekang Oleh Zaman
1. Ki Nartosabdo, Maestro yang Membawa Warna Baru dalam Karawitan
Kalau berbicara tentang maestro karawitan Jawa, nama Ki Nartosabdo hampir tidak mungkin dilewatkan. Ia dikenal sebagai seniman karawitan sekaligus dalang yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan gending Jawa, terutama di luar lingkungan keraton.
Penelitian Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengenai ciri gending-gending Ki Nartosabdo menyebut karya-karyanya membawa nuansa baru yang dikembangkan dari garap tradisi dan kemudian membentuk gaya tersendiri. Pengaruh itu bahkan disebut kuat terhadap perkembangan garap gending Jawa gaya Surakarta di luar keraton.
Salah satu kekuatan Nartosabdo terletak pada keberaniannya mengolah berbagai sumber musikal. Penelitian ISI Yogyakarta tentang tembang macapat sebagai sumber ide gending karya Nartosabdo menunjukkan bahwa macapat digunakan dalam unsur seperti bawa, gerongan, dan lelagon.
Beberapa contoh yang dibahas antara lain Bawa Sekar Mijil, Ladrang Pocung, Lelagon Gambuh Pangatag, Lancaran Wira-wiri, dan Lancaran Begadhang.
Karya lain yang dikenal luas adalah Ibu Pertiwi dan Swara Suling. Penelitian ISI Yogyakarta juga mencatat karya seperti Lagu Praon sebagai bagian dari kreativitas Nartosabdo.
Menariknya, ia tidak hanya terpaku pada gaya Yogyakarta atau Surakarta. Kajian mengenai Gending Wandali menunjukkan bagaimana Nartosabdo memadukan unsur Jawa, Sunda, dan Bali dalam satu komposisi. Nama “Wandali” sendiri merujuk pada tiga unsur tersebut: Jawa, Sunda, dan Bali.
2. K.R.T. Wasitodiningrat, Maestro dari Yogyakarta yang Menghasilkan Ratusan Gending
Nama berikutnya adalah K.R.T. Wasitodiningrat, yang dalam perjalanan keseniannya juga dikenal dengan nama Ki Tjokrowasito atau Ki Wasitodipuro.
Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat Wasitodiningrat sebagai empu atau maestro seni karawitan Jawa. Ia lahir di Yogyakarta pada 17 Maret 1909 dan mulai mengenal karawitan sejak usia sangat muda dari lingkungan keluarganya. Ayahnya merupakan abdi dalem karawitan Pura Pakualaman, sedangkan ibunya adalah penari sekaligus waranggana.
Perjalanan keseniannya kemudian berkembang semakin jauh. Pada 1934, Wasitodiningrat mendirikan perkumpulan karawitan Mardiwiromo. Karya-karyanya juga disiarkan melalui radio sehingga dapat didengar masyarakat di berbagai daerah.
Yang membuat namanya begitu kuat adalah jumlah dan keragaman karya yang ditinggalkan. Dinas Kebudayaan DIY mencatat sekitar 200 komposisi gending karyanya, mulai dari gending kenegaraan, iringan tari, dolanan, hingga kebutuhan ritual keagamaan.
Salah satu karya yang dapat ditelusuri melalui penelitian akademik adalah Lancaran Penghijauan. Jurnal Keteg ISI Surakarta membahas gending tersebut sebagai karya Tjokrowasito yang mengangkat tema lingkungan dan digunakan untuk menyampaikan pesan mengenai program penghijauan pada zamannya.
Ada pula kajian ISI Yogyakarta mengenai ragam garap gending lancaran karya Ki Tjokrowasito yang merujuk pada karya Lancaran Kuwi Apa Kuwi. Penelitian tersebut juga mencatat buku Elo-Elo Lha Endi Buktine: Seabad Kelahiran Empu Karawitan Ki Tjokrowasito sebagai sumber mengenai perjalanan kreativitas dan karya sang maestro.
3. Ki Martopangrawit, Maestro yang Meninggalkan Warisan Pengetahuan
Berbeda dari dua nama sebelumnya, Ki Martopangrawit dikenang bukan hanya karena kepiawaiannya dalam karawitan, tetapi juga karena pemikirannya yang menjadi rujukan dalam pendidikan karawitan.
Namanya sangat erat dengan buku Pengetahuan Karawitan. Literatur akademik ISI menunjukkan bahwa karya Martopangrawit tersebut menjadi salah satu rujukan penting untuk memahami berbagai unsur karawitan, mulai dari irama, lagu, gending, laras, hingga patet.
Buku tersebut bukan sekadar buku teori. Ia ikut membantu membentuk cara generasi berikutnya memahami karawitan sebagai sebuah sistem musikal yang memiliki aturan sekaligus ruang kreativitas.
Nama Martopangrawit juga terus muncul dalam penelitian karawitan di lingkungan ISI. Literatur akademik mengenai karawitan gaya Surakarta, misalnya, masih merujuk Pengetahuan Karawitan I sebagai salah satu sumber penting.
Warisan Martopangrawit akhirnya tidak hanya berupa repertoar yang dimainkan, tetapi juga pengetahuan yang dipelajari. Dalam konteks kebudayaan, warisan semacam ini tidak kalah penting karena membantu menjaga kesinambungan ilmu karawitan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
4. Ki Wiryah Sastrowiryono, Guru dan Pencipta Gending
Nama Ki Wiryah Sastrowiryono mungkin tidak sepopuler Nartosabdo di kalangan masyarakat umum. Namun, dalam dunia karawitan Jawa, jejaknya cukup penting.
Penelitian yang diterbitkan dalam Resital: Jurnal Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta menyebut Ki Wiryah Sastrowiryono sebagai salah seorang empu karawitan Jawa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri sebagai pendidik, pengrawit, dan pencipta gending.
Ia pernah mengajar karawitan di sejumlah lembaga, termasuk SMKI atau KONRI Yogyakarta, ISI Yogyakarta, Taman Kesenian Taman Siswa, Pamulangan Beksa Ngayogyakarta, serta Yayasan Gambirsawit Yogyakarta.
Perannya sebagai guru menjadi bagian penting dari warisannya. Ia ikut menyusun buku-buku ajar karawitan Jawa yang digunakan dalam proses pendidikan pada sekitar dekade 1960-an hingga 1980-an.
5. Rahayu Supanggah, Membawa Karawitan Jawa ke Ruang Akademik dan Eksperimental
Nama terakhir membawa kita ke generasi yang lebih modern, yakni Rahayu Supanggah. Supanggah dikenal sebagai komponis sekaligus akademisi yang memiliki kontribusi besar terhadap kajian karawitan. Salah satu warisan intelektualnya yang paling dikenal adalah Bothekan Karawitan I dan Bothekan Karawitan II: Garap.
Katalog Perpustakaan Universitas Indonesia mencatat Bothekan Karawitan II: Garap sebagai karya Rahayu Supanggah yang diterbitkan ISI Surakarta pada 2007. Buku tersebut membahas karawitan Jawa dari sisi sejarah dan kajian musikal.
Dalam pembahasan Supanggah, garap menjadi bagian penting. Sederhananya, garap bisa dipahami sebagai proses kreativitas pengrawit dalam mengolah bahan musikal sehingga sebuah gending memiliki karakter dan rasa tertentu.
Pengaruh gagasan tersebut terlihat dalam banyak penelitian karawitan di lingkungan perguruan tinggi seni. Kajian ISI Yogyakarta, misalnya, menggunakan konsep garap Supanggah untuk menjelaskan hubungan antara materi, penggarap, sarana, teknik, hingga pertimbangan dalam penyajian karawitan.
Supanggah juga menunjukkan bahwa karawitan dapat berdialog dengan medium seni lain. Penelitian ISI Surakarta mengenai musik film Opera Jawa karya Garin Nugroho mencatat peran Supanggah sebagai music director. Dalam film tersebut, ia mengolah nuansa karawitan Jawa melalui tembang, pathetan, palaran, ada-ada, gending tradisi, komposisi baru, hingga musik eksplorasi.
Salah satu komposisi yang dibahas dalam penelitian tersebut adalah Goyah, karya Supanggah yang digunakan sebagai musik ilustrasi dalam Opera Jawa. Komposisi itu memadukan unsur vokal dan instrumen gamelan dengan pendekatan yang tidak sepenuhnya mengikuti bentuk gending tradisional.
Di titik ini, Supanggah menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu berarti berhenti pada bentuk lama. Karawitan bisa terus bergerak, berdialog dengan film, teater, tari, bahkan bentuk musik lain.***