
KabarJawa.com — Ribuan warga memadati kawasan Kraton Yogyakarta pada Selasa malam (16/6/2026) untuk mengikuti tradisi Malam 1 Suro.
Selain ritual Topo Bisu Mubeng Beteng yang menjadi agenda utama, masyarakat juga disuguhi pertunjukan langka Wayang Kulit Gedhog yang kini semakin jarang dipentaskan.
Tradisi Mangayubagya Warsa Enggal 1 Sura Be 1960 itu berlangsung khidmat sejak sore hingga lewat tengah malam.
Warga dari berbagai daerah tampak berbaur dengan wisatawan yang datang khusus untuk menyaksikan salah satu tradisi budaya paling sakral di Yogyakarta.
Kawasan kraton mulai ramai sejak menjelang petang. Di sejumlah sudut, pengunjung terlihat mencari tempat duduk terbaik. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang sibuk bertanya kepada sesama peserta mengenai urutan prosesi malam itu.
Wayang Gedhog Langka Jadi Pembuka
Rangkaian acara dimulai pukul 19.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sebelum pertunjukan dimulai, antrean pengunjung sudah tampak memenuhi area sekitar bangsal. Menariknya, tak sedikit anak muda yang memilih duduk bersila menikmati pertunjukan hingga larut malam.
Wayang Gedhog yang dipentaskan dipimpin dalang MB Cermo Gupito dari Kawedanan Kridhamardawa.
Jenis wayang ini berbeda dari Wayang Purwa yang mengangkat kisah Mahabharata dan Ramayana. Wayang Gedhog mengisahkan cerita Panji yang tumbuh dari akar kebudayaan Jawa.
Keberadaannya kini tergolong langka karena koleksinya menjadi salah satu aset budaya Keraton Yogyakarta yang jarang ditampilkan kepada publik.
“Melalui rangkaian acara ini, masyarakat dapat memaknai pementasan wayang sebagai bekal introspeksi diri karena di dalam cerita wayang terdapat banyak falsafah kehidupan,” ujar Cermo Gupito.
Lakon Panji Sarat Nilai Kehidupan
Pada malam itu, dalang membawakan lakon Jaya Berdangga.
Cerita berkisah tentang perjuangan Raden Panji yang menyamar demi memenuhi permintaan Dewi Sekartaji yang sedang mengandung.
Ia harus mencari Sari Swara Renggani Jagad demi keselamatan kerajaan dan keluarganya. Berbagai rintangan menghadang, mulai dari ancaman terhadap stabilitas Kerajaan Kediri hingga upaya pihak lain meminang Dewi Sekartaji.
Pada akhirnya, kegigihan Raden Panji membuahkan hasil. Lakon tersebut memuat pesan tentang pengorbanan, tanggung jawab, kesetiaan, dan keteguhan hati yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Generasi Muda Ikut Tertarik
Ari (25), pemuda asal Lampung Timur, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan Wayang Gedhog secara langsung.
“Saya sebenarnya juga tidak terlalu paham, tetapi rasanya menarik. Saya ingin lebih mengenal budaya dan tradisi Jawa secara langsung,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi lama masih mampu memantik rasa ingin tahu generasi muda, bahkan di tengah derasnya arus budaya digital.
Topo Bisu Mubeng Beteng
Menjelang pukul 23.00 WIB, suasana mulai berubah. Lantunan tembang Macapat terdengar dari kompleks kraton. Percakapan pelan yang sebelumnya terdengar perlahan menghilang.
Tepat pukul 24.00 WIB, peserta Topo Bisu Mubeng Beteng mulai bergerak meninggalkan Bangsal Kamandungan Lor. Tak ada aba-aba keras. Tak ada sorak.
Yang terdengar hanya langkah kaki ribuan peserta menyusuri jalan-jalan Kota Yogyakarta.
Di tengah kehidupan yang dipenuhi notifikasi telepon genggam, linimasa media sosial, dan berbagai distraksi digital, malam itu ribuan orang justru memilih diam.
Menyusuri Jejak Refleksi di Sepanjang Benteng Kraton
Rute perjalanan dimulai dari Bangsal Kamandungan Lor menuju Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan H Agus Salim, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan Suryowijayan, Jalan MT Haryono, Jalan Mayjen Sutoyo, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, Jalan Pekapalan Alun-alun Utara, sebelum kembali ke titik awal.
Sepanjang perjalanan, peserta berjalan tertib. Sebagian mengenakan busana adat Jawa lengkap. Sebagian lainnya memilih pakaian sederhana berwarna gelap.
Ada yang menunduk sepanjang perjalanan. Ada pula yang sesekali memejamkan mata saat berhenti sejenak di tepi jalan.
Ruang Refleksi Diri
Wulan (34) menjadi salah satu peserta yang kembali mengikuti Topo Bisu setelah terakhir kali mengikutinya pada 2013. Baginya, ritual tersebut bukan sekadar tradisi tahunan.
Setiap langkah menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun terakhir.
“Merefleksi apa yang masih kurang dan apa yang perlu diperbaiki dalam hidup,” ujarnya.
Menurut Wulan, konsep Topo Bisu masih relevan bagi generasi muda.
Jika saat ini banyak orang mengenal istilah healing, mindfulness, atau meditasi, masyarakat Jawa sejatinya telah memiliki ruang kontemplasi serupa melalui tradisi turun-temurun.
“Kalau sekarang orang menyebut healing atau meditasi, sebenarnya Topo Bisu Mubeng Beteng juga bentuk meditasi yang bergerak. Kita berjalan, tetapi tetap diam dan fokus pada diri sendiri,” katanya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal ternyata memiliki nilai universal yang mampu menjawab kebutuhan manusia modern untuk menemukan ketenangan batin.
Mengenakan Pakaian Adat untuk Menghormati Warisan Leluhur
Peserta lain, Boim (30), warga Sleman, memilih mengenakan pakaian adat Jawa saat mengikuti ritual untuk pertama kalinya. Ia mengaku sengaja memakai busana tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya yang diwariskan para leluhur.
Baginya, pakaian adat bukan sekadar kostum. Busana tersebut menjadi simbol penghargaan terhadap identitas budaya Jawa. Ia juga ingin ikut berkontribusi menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Pengen ikut melestarikan budaya dengan pakaian adat ini supaya lebih memaknai tradisinya,” ujarnya.
Meski baru pertama kali mengikuti ritual, Boim merasa setiap warga Yogyakarta setidaknya perlu sekali seumur hidup merasakan pengalaman mengikuti malam 1 Suro.
Ketika Tradisi Menjadi Pengingat Jati Diri
Malam terus berjalan. Langkah kaki ribuan peserta perlahan menyelesaikan putaran mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta. Keheningan tetap terjaga hingga prosesi berakhir. Tidak ada kemewahan ataupun hingar-bingar pesta.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah tradisi Topo Bisu Mubeng Beteng menemukan maknanya. Tradisi tersebut mengajarkan bahwa manusia perlu berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Manusia perlu menengok ke dalam dirinya sendiri.
Malam 1 Suro di Yogyakarta kembali membuktikan bahwa warisan budaya bukan sekadar ritual masa lalu.
Tradisi itu terus hidup, beradaptasi, dan menemukan makna baru di setiap generasi. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ribuan warga memilih berjalan perlahan dalam diam. Mereka menyusuri benteng kraton sambil membawa harapan, doa, dan refleksi.
Dan ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur, Yogyakarta sekali lagi menunjukkan kepada dunia bahwa keheningan pun dapat berbicara begitu lantang tentang jati diri, kebijaksanaan, dan kekayaan budaya yang tak lekang oleh waktu.