
KabarJawa.com – Upaya mendorong peningkatan nilai dagang Indonesia kembali mendapat momentum baru setelah Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri resmi melepas ekspor perdana dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Momen ini sekaligus menegaskan arah pemerintah untuk menggenjot performa perdagangan internasional pada 2026 melalui penguatan industri kreatif dan pemberdayaan UMKM berbasis ekspor.
Dalam acara tersebut, Wamendag mengapresiasi keseriusan pelaku UMKM DIY yang mampu mempertahankan daya saingnya. Industri kreatif berbasis home industry disebut menjadi tulang punggung ekonomi daerah sekaligus pintu masuk produk lokal ke pasar global.
Palem Craft Kirimkan Produk ke Amerika dan Belgia
Ekspor kali ini berasal dari CV Palem Craft, UMKM berbasis serat alam asal Bantul yang terus aktif memperluas jaringan pasarnya di luar negeri.
Nilai pengiriman yang tercatat mencapai 30 ribu USD dengan tujuan Amerika Serikat dan Belgia. Permintaan tinggi terhadap produk dekorasi rumah berbahan alami menjadi salah satu faktor percepatan ekspansi pasar.
Wamendag menyebut lonjakan permintaan menunjukkan tren yang sangat positif.
“Untuk home decor ini sebetulnya sangat menarik, karena kalau kita melihat tahun ini khususnya dari Januari hingga September, itu ada peningkatan ekspor sebesar 5%. Dan ini trennya dari tahun 2020 hingga 2024 itu juga naik terus hingga hampir 20%,” beber Dyah di Bantul, Rabu (26/11/2025).
Ia menambahkan bahwa antusiasme pasar internasional terhadap produk Indonesia semakin terasa.
“Banyak sekali negara-negara internasional itu sangat amat minat dengan produk-produk dari Indonesia,” ungkapnya.
Selain peningkatan volume perdagangan, ia turut menyoroti dampak sosial dari ekspor berbasis home industry.
“Yang saya nilai sangat positif adalah multiplier efeknya. Jadi kita melihat dari from end-to-end bahwasannya masyarakat daerah Bantul itu betul-betul dipekerjakan gitu, perempuan mayoritas tadi di dalam hingga di rumah masing-masing,” ucapnya.
Konsep keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya ramah lingkungan disebut relevan dengan arah pasar global.
Bantul Jadi Episentrum Ekonomi Kreatif DIY
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menegaskan bahwa industri kreatif menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi daerah.
“Perlu disampaikan bahwa di Bantul ini ranking pertama kontributor PDRB itu sektor industri termasuk di dalamnya industri kreatif, baru pertanian, baru pariwisata,” ujarnya.
Ia menyebut kreativitas masyarakat Bantul menjadi modal terbesar meski bahan baku tidak berasal dari dalam daerah.
“Ini menunjukkan bahwa dengan kreativitas walaupun kita tidak punya bahan baku, bahan baku itu impor semuanya dari daerah lain, itu tetap saja bisa membuat sektor industri kreatif itu eksis,” puji Halim.
Daya Ekspor Produk di DIY Stabil
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Yuna Pancawati memastikan iklim ekspor masih kondusif meski adanya kebijakan tarif Amerika Serikat.
“Ini masih tarif yang lama, karena ini merupakan hasil kesepakatan yang sebelumnya,” ujarnya.
Ia melaporkan bahwa perkembangan ekspor DIY meningkat sekitar 12% dari tahun ke tahun. Hingga akhir 2025, angka ekspor DIY naik 7% dengan nilai mencapai sekitar 417 juta USD, dan Bantul menjadi penyumbang terbesar melalui subsektor kerajinan, mebel, dan tekstil.
CEO Palem Craft, Deddy Effendi, mengungkapkan bahwa pengiriman dilakukan secara rutin ke berbagai negara.
“Sampai November ini setiap bulan kita melakukan ekspor 3-4 kontainer ke beberapa negara. Ada Amerika Latin, Eropa, dan juga beberapa negara Asia,” paparnya.
Dengan nilai rata-rata 25–30 ribu USD per kontainer, permintaan terus meningkat terutama untuk produk berbahan serat alami.
“Produk-produk ramah lingkungan ini sebenarnya jauh lebih membuka solusi buat kebutuhan mereka,” pungkas Deddy.
(bfn).