
KabarJawa.com – Sistem penyediaan air bersih dari Bendungan Sungai Bawah Tanah Bribin di Kabupaten Gunungkidul hingga kini belum berfungsi optimal.
Kerusakan pada instalasi Bribin II sejak 2017 masih menjadi kendala utama dalam pemanfaatan sumber air di kawasan tersebut.
Infrastruktur ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman sejak awal 2000-an.
Sistem Bribin menggunakan teknologi Pump as Turbine (PAT) yang memanfaatkan aliran air untuk memompa air ke permukaan, sebagai solusi di wilayah karst yang minim sumber air permukaan.
Kapasitas dan Target Layanan
Pelaksana Tugas Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Sulistyo Wibowo, menyampaikan bahwa sistem Bribin dirancang dengan kapasitas pemanfaatan air sekitar 80 hingga 100 liter per detik.
Sistem tersebut ditargetkan mampu melayani sekitar 79.000 jiwa atau kurang lebih 6.000 kepala keluarga, terutama di wilayah rawan kekeringan di Gunungkidul.
“Kami menargetkan warga terutama yang tinggal di wilayah-wilayah rawan kekeringan di Gunungkidul,” ujarnya.
Dampak Kerusakan Bribin II
Kerusakan pada sistem Bribin II terjadi setelah Badai Cempaka pada 2017 yang berdampak pada instalasi utama.
Sejak saat itu, pemanfaatan sumber air dari sistem tersebut belum dapat dilakukan secara maksimal.
Saat ini, PDAM Tirta Handayani masih mengandalkan Bribin I untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Tantangan Teknis Perbaikan
Proses perawatan dan perbaikan instalasi di kawasan gua menghadapi kendala teknis.
Tim harus bekerja di dalam lorong sempit dengan kondisi medan berupa batuan karst, stalaktit, dan ruang terbatas.
“Proses perawatan dan perbaikan tidak bisa dilakukan dengan cepat,” kata Sulistyo.
Kondisi tersebut membuat upaya pemulihan sistem membutuhkan waktu dan penanganan khusus.
Potensi Pemanfaatan ke Depan
Jika Bribin II dapat kembali berfungsi, kapasitas suplai air bersih diperkirakan akan meningkat signifikan, khususnya untuk wilayah Kapanewon Tepus dan Rongkop yang masih menghadapi keterbatasan akses air.
“Optimalisasi Bribin II akan menjadi game changer bagi layanan air bersih di wilayah selatan Gunungkidul,” ujarnya.
Upaya dan Harapan Revitalisasi
PDAM Tirta Handayani terus mendorong dukungan dari pemerintah pusat dan daerah untuk revitalisasi sistem Bribin II.
Upaya ini dinilai penting untuk menjamin keberlanjutan layanan air bersih di masa mendatang.
“Kami berharap ada langkah konkret untuk menghidupkan kembali Bribin II. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi soal kebutuhan dasar masyarakat,” kata Sulistyo.
Hingga saat ini, pengembangan dan pemulihan sistem masih menunggu dukungan kebijakan serta pendanaan agar dapat kembali beroperasi secara optimal.