
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Sepanjang Selasa (23/9/2025), Gunung Merapi tercatat 26 kali meluncurkan guguran lava pijar dari puncaknya.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santosa, memastikan aktivitas ini menandakan suplai magma dari dalam perut bumi masih terus berlangsung.
“Gunung Merapi masih berada di level III atau Siaga. Potensi bahaya utama tetap berupa guguran lava pijar dan awan panas guguran ke sektor selatan-barat daya,” tegas Agus.
Sejak dini hari hingga tengah malam, para petugas pemantau mencatat arah luncuran lava mengarah ke barat daya. Guguran itu mengalir deras ke Kali Sat/Putih, Kali Krasak, dan Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Meski cuaca sepanjang Selasa relatif cerah, berawan, hingga mendung, ancaman dari Gunung Merapi tidak berkurang sedikit pun. Asap kawah berwarna putih tipis hingga tebal terlihat membubung setinggi 75–125 meter di atas puncak.
Data kegempaan mencatat gejala vulkanik signifikan.
- 67 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–23 mm, berdurasi 42–158 detik
- 78 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–24 mm
- 24 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo hingga 80 mm
Rangkaian aktivitas ini memperkuat tanda bahwa dapur magma Merapi masih terus menekan, mendorong material ke permukaan.
Agus Budi Santosa menegaskan, radius bahaya Gunung Merapi saat ini meliputi beberapa sungai yang berhulu di puncak. Potensi awan panas guguran bisa melanda wilayah berikut.
- Sungai Boyong hingga 5 km
- Sungai Bedog, Krasak, Bebeng hingga 7 km
- Sungai Woro hingga 3 km
- Sungai Gendol hingga 5 km
Selain itu, lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif bisa menjangkau radius 3 km dari puncak. Agus meminta masyarakat benar-benar tidak beraktivitas di dalam kawasan berbahaya.
“Jika hujan turun, ancaman banjir lahar dingin juga harus diwaspadai. Material guguran bisa terbawa arus deras dan menghantam permukiman atau jembatan,” kata Agus.
BPPTKG menegaskan masyarakat harus mengantisipasi dampak abu vulkanik. Angin yang bertiup ke arah timur, utara, dan barat berpotensi membawa debu halus hingga jauh dari puncak.
Agus menegaskan, jika aktivitas Gunung Merapi meningkat drastis, pihaknya siap meninjau ulang level status. Pihaknya terus memantau. Jika terjadi perubahan signifikan, status Merapi akan segera dinaikkan. (ef linangkung)