
KABARJAWA – Semangat kemerdekaan tak hanya berkibar di langit-langit Indonesia. Di Pilangrejo, Kapanewon Nglipar, ribuan warga membawa merah putih melintasi jalanan kampung, bersatu dalam harmoni budaya dan nasionalisme yang membara.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul merayakan HUT ke-80 RI dengan cara yang tak biasa. Mereka menggelar kirab budaya dan membagikan bendera merah putih sebagai simbol gerakan cinta tanah air yang menyatu dengan kearifan lokal.
Bulan Agustus kembali menggugah semangat nasionalisme dari Sabang sampai Merauke. Namun, di Kalurahan Pilangrejo, peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia tak hanya sekadar seremoni.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggabungkan semangat kemerdekaan dengan denyut budaya lokal dalam satu peristiwa kolosal, Kirab Budaya Merah Putih.
Kirab Budaya Merah Putih Gunungkidul
Pemkab Gunungkidul memulai acara dengan membagikan 100 bendera merah putih secara simbolis kepada warga Pilangrejo.
Aksi ini menjadi bagian dari program nasional Gerakan Pembagian Bendera Merah Putih yang dicanangkan pemerintah pusat.
Namun, Gunungkidul tak sekadar mengikuti. Mereka menambahkan elemen kuat: pelestarian budaya sebagai bentuk perlawanan terhadap lupa, sekaligus cinta yang tak lekang terhadap Indonesia.
Pemerintah melibatkan ribuan warga dalam kirab budaya. Anak-anak SD hingga lansia turun ke jalan mengenakan busana adat Jawa.
Para perempuan mengenakan kebaya dan jarik, para pria mengenakan beskap, ikat kepala dan membawa gunungan hasil bumi.
Di sepanjang rute kirab, gamelan mengalun syahdu, tembang dolanan menggema, dan gelombang merah putih berkibar menyatu dengan kain lurik dan batik yang mengalungi tubuh para peserta.
Di tengah kemeriahan, Giran (44), warga Padukuhan Pilang, berdiri di tepi jalan dengan sorot mata berbinar. Ia mengaku baru kali ini merasakan peringatan kemerdekaan yang menyentuh hati sedalam ini.
“Biasanya budaya ya jalan sendiri, upacara juga sendiri. Tapi ini digabung. Jadi kita ngerasain banget, kemerdekaan itu bukan cuma soal perang dan hormat bendera, tapi juga soal menjaga budaya kita sendiri,” ujar Giran.
Giran merasa bangga anak-anaknya ikut mengenal sejarah lewat budaya, bukan hanya dari buku pelajaran. Ia berharap momentum ini tak berhenti di tahun ini.
“Saya ingin anak-anak tahu bahwa menjadi Indonesia itu bukan hanya pakai seragam upacara. Tapi juga pakai lurik, nyanyi lagu dolanan, ngerti kenapa kita kibarkan bendera. Semoga tahun depan bisa lebih besar lagi,” imbuhnya.
Budaya di Tengah Arus Globalisasi
Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, ikut hadir dan berjalan bersama warga dalam kirab tersebut.
Ia memandang kirab budaya sebagai strategi jitu untuk mengembalikan kesadaran kebangsaan yang akhir-akhir ini tercerai-berai oleh arus globalisasi.
“Budaya adalah akar kekuatan bangsa. Tapi politik kebangsaan kita hari ini sering tercerabut dari akar itu. Maka kami ingin kemerdekaan ini tidak hanya dimaknai sebagai hasil perjuangan senjata, tapi juga perjuangan mempertahankan identitas budaya yang menyatukan kita,” tegas Joko.
Joko menekankan bahwa bangsa yang kehilangan budayanya akan kehilangan arah. Ia menyadari banyak generasi muda yang saat ini lebih mengenal simbol asing ketimbang jati diri bangsa.
“Di tengah gempuran budaya luar dan simbol-simbol fiksi dari negeri lain, kita harus perkuat akar kita sendiri. Menghidupkan budaya lokal adalah bentuk pertahanan politik sekaligus perlawanan terhadap penjajahan gaya baru,” tambahnya.
Wakil Bupati juga mengajak masyarakat agar tidak hanya menjadikan budaya sebagai dekorasi acara, tetapi sebagai jantung kehidupan sehari-hari.
“Kalau budaya kita hidup, maka bangsa ini akan kuat. Kita harus tunjukkan bahwa menjadi Indonesia itu keren, berwibawa, dan punya karakter,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Gunungkidul, Johan Eko, menyoroti fenomena yang mulai mengkhawatirkan, maraknya penggunaan atribut fiksi dalam perayaan 17 Agustus.
Ia mengingatkan agar masyarakat tak melupakan identitas nasional di tengah euforia hiburan.
“Kami tidak melarang ekspresi kreatif. Tapi jangan sampai bendera bajak laut One Piece lebih banyak dikibarkan daripada merah putih. Ini persoalan serius,” ucap Johan.
Ia menegaskan bahwa negara harus hadir untuk meluruskan makna perayaan kemerdekaan. Edukasi publik menjadi kunci, dan kirab budaya seperti ini menjadi salah satu bentuknya.
“Kirab budaya ini bukan sekadar tontonan. Ini adalah pengingat sejarah. Identitas bangsa harus tampil di ruang publik. Kalau bukan kita yang menjaga merah putih, siapa lagi?” pungkasnya. (ef linangkung)