
KabarJawa.com– DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Gunungkidul mengecam keras tindakan Roy Suryo dan kelompoknya. Mereka dianggap melecehkan makam almarhumah Sujiatmi Notomiharjo, ibunda Presiden Joko Widodo, di Solo.
Ketua DPD PSI Gunungkidul, Danang Ardiyanta, menyampaikan kecaman itu setelah video perilaku tak pantas tersebut viral di berbagai platform media sosial.
Video yang beredar memperlihatkan bagaimana Roy Suryo, Tifa, dan rombongan mereka mendatangi area makam almarhumah Sujiatmi. Kemudian, mereka melontarkan kata-kata dan perilaku yang tidak pantas di depan pusara seseorang.
Dalam tayangan kanal YouTube Agri Fanani, Brojomusti, dan Bang Bill Offside, tampak tindakan mereka mengolok-olok yang menyeret nama almarhumah ke dalam urusan politik.
Sikap PSI Gunungkidul
Danang Ardiyanta menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan perbuatan biadab yang jauh dari nilai moral, adat Jawa, dan ajaran agama.
Ia menyebut, tidak sepatutnya seseorang yang sudah wafat, apalagi seorang ibu, jadi bahan ejekan demi kepentingan politik.
“Perilaku itu tidak hanya menyinggung keluarga Presiden, tetapi juga melukai rasa kemanusiaan dan nilai-nilai luhur budaya Jawa. Ini adalah tindakan yang tidak beradab,” ujar Danang.
Melalui pernyataan resminya, DPD PSI Gunungkidul menyampaikan tiga sikap tegas terkait insiden tersebut.
Pertama, PSI mengutuk keras tindakan amoral dan biadab Roy Suryo, Tifa, dan kelompoknya di makam almarhumah Sujiatmi Notomiharjo.
Danang menilai, aksi itu bukan hanya melanggar norma sosial, tetapi juga menciderai etika kemanusiaan serta keadaban publik.
Kedua, PSI Gunungkidul meminta Polda Metro Jaya segera menahan Roy Suryo dan rekan-rekannya, mengingat status hukum mereka sebagai tersangka.
Menurut PSI, penegakan hukum yang tegas perlu untuk menjaga stabilitas dan kondusivitas masyarakat agar tidak terpecah karena provokasi politik murahan.
“Bangsa ini tidak boleh terus-menerus diracuni oleh tindakan provokatif seperti itu. Aparat harus segera bertindak agar masyarakat tidak kehilangan kepercayaan terhadap penegakan hukum,” ujar Danang.
Ketiga, PSI menyoroti bahwa makam keluarga merupakan area privat yang tidak boleh sembarang orang masuki. Tindakan Roy Suryo cs dinilai telah melanggar privasi keluarga dan bisa diproses secara hukum. PSI meminta kepolisian menindaklanjuti kasus tersebut dengan prosedur hukum yang berlaku.
Teguran Keras bagi Para Politikus Tak Bermoral
Danang Ardiyanta juga menegaskan bahwa peristiwa tersebut seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama para politikus, untuk menjaga moralitas dan etika dalam berpolitik.
Ia menilai tindakan semacam itu tidak mencerminkan sikap seorang warga negara yang beradab, apalagi tokoh publik.
“Politik seharusnya menjadi alat untuk membangun bangsa, bukan untuk merendahkan martabat orang lain, terlebih lagi yang sudah meninggal dunia. Kami di PSI percaya bahwa politik yang beradab adalah politik yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, PSI Gunungkidul meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh aksi-aksi provokatif semacam ini.
PSI berharap aparat penegak hukum segera menuntaskan kasus tersebut agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
“Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi sopan santun. Jangan sampai nilai luhur itu luntur karena ulah segelintir orang yang hanya mencari sensasi politik,” pungkas Danang. (ef linangkung)