
KabarJawa.com – Suara gemericik air Sungai Sileng mengiringi langkah ratusan orang yang berjalan perlahan menuju bantaran sungai di Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, Rabu pagi.
Pada peringatan Hari Bumi 2026, InJourney Destination Management bersama PT Taman Wisata Borobudur, Studio Nawung, dan masyarakat setempat memulai sebuah gerakan yang tidak sekadar menanam pohon.
Penghijauan Borobudur
Aksi bertajuk InJourney Green ini menghadirkan semangat kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian alam sekaligus memperkuat fondasi pariwisata berkelanjutan di kawasan Borobudur.
Sebanyak 100 bibit pohon Gayam ditanam serentak di sepanjang bantaran Sungai Sileng, sebuah langkah nyata untuk memulihkan daerah aliran sungai (DAS) yang kian rentan terhadap erosi.
Kegiatan ini tidak dimulai dengan sekadar seremoni biasa. Warga dan tamu undangan terlebih dahulu mengikuti prosesi budaya yang sarat makna.
Iring-iringan penari berjalan anggun menuju tepian sungai, membuka rangkaian acara dengan nuansa sakral.
Tari beksan pinuwunan kemudian dipentaskan sebagai simbol doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Suasana semakin khidmat saat tembang Kidung Pangaksuma dilantunkan, sebuah nyanyian suci yang menyuarakan permohonan ampun dan kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta.
Ritual ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual.
Mengapa Pohon Gayam?
Di balik aksi penghijauan ini, tersimpan alasan kuat mengapa menanam pohon Gayam. Pohon yang dalam filosofi Jawa dimaknai sebagai ayom (teduh) dan ayem (ketentraman) ini memiliki karakteristik biologis yang sangat mendukung konservasi lingkungan.
Gayam memiliki sistem perakaran dalam yang mampu menembus lapisan tanah dan bekerja layaknya spons alami.
Akar tersebut menyerap dan menyimpan air secara perlahan, sehingga membantu menjaga kestabilan cadangan air tanah, terutama saat musim kemarau.
Selain itu, pohon ini juga efektif menahan laju erosi di bantaran sungai. Dengan demikian, keberadaannya tidak hanya memperkuat struktur tanah, tetapi juga menjaga kualitas ekosistem sungai secara keseluruhan.
Direktur Operasi PT Taman Wisata Borobudur, Supriadi Jufri, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan wisata.
Ia menyatakan bahwa pengembangan destinasi tidak boleh hanya berfokus pada aspek ekonomi dan budaya, tetapi juga harus menjaga keseimbangan alam yang menopang keberlanjutan kawasan.
“Melalui program InJourney Green, kami memastikan setiap langkah pengembangan destinasi memberikan dampak nyata bagi lingkungan. Penanaman pohon Gayam ini menjadi upaya konkret untuk menjaga sumber daya air, mengurangi erosi, dan mewariskan lingkungan yang lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya konservasi air di kawasan Borobudur. Ketersediaan air, menurutnya, menjadi fondasi utama bagi kehidupan masyarakat sekaligus keberlangsungan sektor pariwisata.
Menghidupkan Kembali Identitas Lokal
Founder Studio Nawung, Atik, melihat pohon Gayam dari sudut pandang yang lebih dalam. Ia menyebut bahwa Gayam bukan sekadar tanaman, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat Borobudur.
Jejak pohon ini masih dapat ditemukan dalam nama-nama wilayah seperti Kali Gayam dan Dusun Gayam.
Bahkan, pohon Gayam tua masih berdiri kokoh di Dusun Giri Tengah sebagai saksi sejarah yang hidup.
“Penanaman ini bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang menghidupkan kembali identitas lokal dan kesadaran ekologis masyarakat,” jelasnya.
Kepala Desa Karangrejo, Hely Rofikun, menyambut hangat kolaborasi ini. Ia menilai kegiatan ini membawa harapan baru bagi pemulihan ekosistem desa, terutama kawasan sungai yang menjadi sumber kehidupan warga.
Ia berharap langkah ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus berlanjut sebagai gerakan bersama.
“Ini menjadi upaya untuk menyambung kembali identitas alam Borobudur yang mulai memudar. Kami ingin memastikan sumber daya air tetap terjaga untuk generasi mendatang,” ungkapnya.
Awal dari Gerakan Lebih Besar
Aksi ini tidak berhenti pada penanaman. Punggawa ili-ili dari Studio Nawung akan merawat pohon-pohon tersebut secara berkala agar tumbuh optimal.
Menariknya, pemupukan menggunakan kompos hasil pengolahan limbah organik dari kawasan destinasi Candi Prambanan.
Langkah ini menunjukkan pendekatan sirkular dalam pengelolaan lingkungan, mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai.
Melalui InJourney Green, InJourney Destination Management menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inisiatif keberlanjutan yang berdampak nyata.
Penanaman pohon Gayam di Borobudur menjadi titik awal dari gerakan yang lebih luas, gerakan untuk menjaga sumber air, merestorasi ekosistem, dan memperkuat posisi Borobudur sebagai destinasi wisata budaya yang tidak hanya indah, tetapi juga lestari. (ef linangkung)