
KabarJawa.com– Suasana pagi di jalur utama Wonosari, tepatnya di timur Perempatan Ketandan, Banguntapan, semrawut. Deretan kendaraan, terutama sepeda motor, memenuhi hampir seluruh badan jalan saat menunggu lampu merah.
Pemandangan itu viral di media sosial, menimbulkan kegelisahan masyarakat, hingga akhirnya Polres Bantul turun tangan. Kemacetan yang tercipta bukan sekadar antrean panjang biasa.
Banyak pengendara sepeda motor nekat menempati jalur lawan arah dengan alasan ingin lebih cepat lolos dari kemacetan. Marka jalan yang jelas terpampang seolah hanya menjadi hiasan.
Pengendara Penuhi Badan Jalan Wonosari
Postingan seorang warganet dengan akun @dianchamomile di platform X membuat kondisi itu viral. Dalam unggahannya, ia menulis dengan nada gusar, keluhkan perilaku pengendara yang memenuhi badan jalan.
“Hampir setiap pagi lewat sini selalu seperti ini di timur perempatan Ketandan. Bahkan pengendara dari arah timur juga menunggu di tepi utara jalan sehingga mereka melawan arah. Yuk, warga Jogja, kita sama-sama tertib lalu lintas. Kalau takut telat, tidak ada salahnya untuk berangkat lebih pagi,”tulisnya.
Keluhan itu langsung memicu diskusi ramai. Warga lain menimpali dengan nada serupa. Mereka mengeluhkan bukan hanya perempatan ringroad Ketandan, tetapi juga jalur barat jembatan hingga ke timur yang kerap macet total. Suara publik akhirnya sampai ke telinga aparat.
Tindakan Aparat
Tak ingin masalah ini berlarut, Polres Bantul segera bertindak. Petugas Unit Lantas Polsek Banguntapan diterjunkan pagi itu juga. Polisi lalu lintas langsung mengambil alih kendali, mengatur kendaraan, sekaligus memberi peringatan tegas kepada pengendara yang bandel.
“Kami langsung merespons aduan masyarakat dengan cepat, dengan menempatkan polisi lalu lintas di lokasi untuk melakukan pengaturan lalu lintas,” tegas Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, Selasa (16/9/2025).
Ia menegaskan, kesemerawutan terjadi karena banyak pengguna jalan tidak mematuhi aturan. Marka jalan sudah ada, rambu-rambu sudah jelas, namun ketertiban kalah oleh ego.
“Kalau semua mau tertib, kondisi itu tidak akan terjadi. Namun, dengan dalih terburu-buru, akhirnya banyak yang melanggar,” jelasnya.
Rita tidak hanya berhenti pada penertiban. Ia juga mengajak seluruh pengendara agar sadar bahwa keselamatan lalu lintas bukan urusan pribadi, melainkan kepentingan bersama.
“Patuhi rambu-rambu lalu lintas, jangan melakukan pelanggaran yang bisa merugikan orang lain. Kecelakaan diawali dengan pelanggaran. Keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Karena itu, pelanggaran sekecil apa pun bisa menjadi awal dari kecelakaan,” tegas Rita
Menurut Rita, Fenomena di Perempatan Ketandan ini menjadi cermin nyata betapa masih rendahnya kesadaran tertib lalu lintas sebagian masyarakat.
Jalan raya seolah hanya menjadi arena siapa cepat dia selamat, padahal risiko yang mengintai bisa jauh lebih besar daripada sekadar terlambat sampai tujuan.
Viralnya kejadian ini sekaligus menunjukkan bagaimana kekuatan media sosial mampu mengubah arah kebijakan dalam hitungan jam. Aduan warga di dunia maya langsung direspons dengan aksi nyata aparat di lapangan. (ef linangkung)