
KABARJAWA — Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, secara tegas mendorong perempuan di wilayahnya untuk bangkit dan berdaya melalui jalur wirausaha.
Ia menyampaikan seruan ini saat membuka Pelatihan Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA) yang digelar Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gunungkidul di SD Al Mujahidin Wonosari, Sabtu (14/6/2025).
Pemberdayaan Perempuan melalui Wirausaha
Joko Parwoto menyampaikan bahwa kaum perempuan memiliki potensi besar dalam menopang perekonomian, baik di tingkat keluarga maupun daerah.
Ia mengajak para peserta pelatihan untuk tidak ragu memulai usaha dan terus mengasah keterampilan agar mampu bersaing di era digital.
“Perempuan Gunungkidul bisa menjadi motor penggerak ekonomi. Tapi harus mau belajar dan mengikuti perkembangan zaman,” ujar Joko dengan penuh semangat.
Wabup juga menekankan pentingnya kemampuan adaptif terhadap kemajuan teknologi serta kecakapan dalam menggunakan media sosial sebagai alat pemasaran. Ia mengajak peserta untuk mengemas produk dengan menarik dan relevan terhadap tren pasar.
“Jangan hanya fokus menjual produk yang enak, tapi pikirkan juga bagaimana cara menarik perhatian konsumen lewat tampilan visual dan media digital. Sekarang media sosial adalah etalase yang paling efektif untuk usaha,” tambahnya.
Joko menilai pelatihan ini sebagai langkah konkret yang mendukung program Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menekan angka kemiskinan.
Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah
Ia mengapresiasi langkah MEK PDA Gunungkidul yang telah berinisiatif menyelenggarakan pelatihan berbasis pemberdayaan perempuan.
“Ini sejalan dengan visi kami membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Saya berharap para peserta bisa memanfaatkan kesempatan ini secara maksimal,” tegasnya.
Ketua MEK PDA Gunungkidul, Hj. Siti Latifah, menjelaskan bahwa kegiatan Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah ini berlangsung selama empat hari, yakni pada 14, 15, 21, dan 22 Juni 2025.
Ia menargetkan lahirnya pelaku usaha perempuan di setiap kecamatan di Gunungkidul sebagai hasil nyata dari pelatihan ini.
“Kami ingin melahirkan pengusaha perempuan yang mampu menjalankan usahanya secara berkelanjutan. Selain itu, kami juga mendorong terbentuknya kedai ‘Aisyiyah di setiap wilayah,” ujar Siti.
Siti menambahkan bahwa pihaknya mengajak MEK di daerah lain, khususnya di wilayah DIY, untuk mereplikasi kegiatan serupa. Ia berharap sinergi antarwilayah dapat mempercepat proses pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi.
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Gunungkidul, Hj. Endang Wahyuni Nugraha, mengungkapkan bahwa pelatihan ini merupakan angkatan kedua dan diikuti oleh sekitar 40 peserta dari 18 cabang se-Kabupaten Gunungkidul.
Ia menyebut bahwa para peserta merupakan kader potensial yang siap didampingi untuk menjadi pelaku usaha yang tangguh dan adaptif.
“Kami percaya, perempuan yang berdaya secara ekonomi tidak hanya memperkuat keluarga, tetapi juga membangun fondasi ekonomi daerah yang lebih kokoh,” ucap Endang.
Endang berharap para peserta mampu menjadi agen perubahan di komunitasnya masing-masing, membawa semangat kemandirian ekonomi dan menularkan ilmu wirausaha kepada lingkungan sekitarnya.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan seperti ‘Aisyiyah, Gunungkidul menatap masa depan pemberdayaan perempuan dengan lebih optimis.
Pelatihan ini bukan hanya tentang teori bisnis, tetapi menjadi ruang tumbuh bagi para perempuan untuk berani bermimpi dan membangun usaha yang berdampak. (ef linangkung)