
KABARJAWA – Pantai Jungwok Blue Ocean, Gunungkidul, berubah menjadi panggung seni yang hidup. Deru ombak yang biasanya mendominasi suasana, bersanding harmonis dengan lantunan musik tradisi pada Sabtu, 23 Agustus 2025.
Cahaya lampu panggung yang menyorot tajam, memantul di antara pasir putih dan deburan laut, menciptakan atmosfer dramatis yang membuat siapa pun terpukau.
Jungwok Jadi Ruang Apresiasi Seni
Ajang Lomba Tari Kreasi Nusantara menjadikan Jungwok bukan sekadar destinasi wisata alam, tetapi juga ruang apresiasi seni budaya. Dari 20 peserta yang disaring, sebanyak 11 penari terpilih untuk menampilkan karya terbaik mereka.
Para penari muda dari Gunungkidul, Wonosari, Rongkop, hingga Bantul menghadirkan tarian yang memukau, memadukan tradisi dan sentuhan modern yang segar.
Puspa Indah, penyelenggara acara, menegaskan bahwa ajang ini bertujuan melestarikan sekaligus mengembangkan seni tari lokal. Ia ingin memberi ruang bagi anak muda untuk berkreasi dan berekspresi tanpa kehilangan akar budaya.
“Kami ingin generasi muda berani tampil, berani mengekspresikan diri, sekaligus tetap mencintai seni tradisi,” ungkap Puspa.
Di tengah derasnya arus globalisasi, seni tari tradisional mulai kurang diminati generasi muda. Namun, melalui pertunjukan yang dikemas modern ini, para penonton melihat bukti nyata bahwa seni tradisi bisa tetap hidup bila disajikan dengan cara yang segar.
Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Oneng Windu Wardana, hadir langsung menyaksikan kemeriahan acara. Ia menilai lomba tari kreasi semacam ini dapat menjadi magnet baru dalam pariwisata outdoor di Gunungkidul.
“Gunungkidul tidak hanya memiliki pantai indah, tetapi juga warisan seni yang kuat. Perpaduan ini akan menciptakan ekosistem wisata yang semakin kaya,” tegas Oneng.
Menurutnya, menghadirkan pertunjukan seni di destinasi wisata akan memperkaya pengalaman wisatawan. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan laut, tetapi juga merasakan denyut kebudayaan lokal yang otentik.
Panggung Alam Jadi Saksi Kreativitas Generasi Muda
Sorak-sorai penonton mencapai puncaknya ketika Sanggar Tari Puspowarno asal Bantul diumumkan sebagai pemenang lomba. Mereka menampilkan tarian dengan tema perjuangan istri Pangeran Diponegoro melawan penjajah.
Gerakan yang tegas berpadu dengan ekspresi mendalam menciptakan pertunjukan penuh daya magis. Dewan juri menilai tarian ini berhasil memadukan alur cerita sejarah dengan komposisi gerak yang detail, serasi, dan penuh makna.
“Tari ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga kisah perjuangan yang menyentuh hati,” ujar salah satu dewan juri.
Sawwa Putri Larasati Nugroho, salah satu penari Puspowarno, tidak mampu menyembunyikan rasa haru. Dia sangat bahagia bisa membawa kisah perjuangan ini ke panggung alam yang indah.
“Semoga generasi muda makin mencintai tari Nusantara,” katanya.
Lomba Tari Kreasi Nusantara di Pantai Jungwok menjadi bukti bahwa destinasi wisata bisa bertransformasi menjadi panggung budaya. Laut biru dan pasir putih tidak hanya menyuguhkan panorama alam, tetapi juga menjadi saksi lahirnya kreativitas generasi muda yang terus tumbuh.
Ajang ini membuktikan bahwa seni tari mampu menyatukan kearifan lokal dan semangat modern. Jungwok kini bukan hanya destinasi untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga simbol kebangkitan budaya yang menyala di hati anak muda. (ef linangkung)