
KabarJawa.com — Sejarah baru terukir di jantung Amerika Serikat. Zohran Kwame Mamdani, politisi muda berusia 34 tahun asal Queens, resmi terpilih sebagai Wali Kota New York City ke-111.
Kemenangan ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi simbol perubahan besar dalam lanskap politik negeri Paman Sam. Untuk pertama kalinya, seorang Muslim memegang kendali atas kota terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
Gelombang emosi dan sorak kemenangan membanjiri Brooklyn Paramount Theater malam itu. Ribuan pendukung berteriak ketika Mamdani naik ke panggung, mengangkat tangan tinggi dengan senyum lebar. Suaranya bergetar namun tegas saat ia berucap,
“Kalian telah berani meraih sesuatu yang lebih besar. Kita telah menumbangkan dinasti politik lama!” teriak Mamdani.
Kemenangan Memecah Rekor dan Serangan Identitas
Mamdani yang maju dari Partai Demokrat dan dikenal sebagai democratic socialist menumbangkan dua lawan berat: mantan Gubernur New York Andrew Cuomo yang maju sebagai calon independen, serta Curtis Sliwa dari Partai Republik.
Berdasarkan hasil penghitungan 88 persen suara, Mamdani unggul dengan 50,3 persen, jauh di atas Cuomo yang meraih 41,6 persen dan Sliwa 7,2 persen.
Media besar Amerika seperti The New York Times, CNN, NBC News, dan The Guardian memuat kemenangan ini di halaman utama mereka.
Tidak hanya karena Mamdani menjadi Muslim pertama yang memimpin New York, tetapi juga karena ia adalah wali kota termuda dalam lebih dari satu abad terakhir.
Kemenangan ini datang di tengah gelombang sukses Partai Demokrat di tingkat nasional, termasuk di New Jersey dan Virginia, yang juga memenangkan kursi gubernur.
Namun, kemenangan Mamdani dianggap memiliki nuansa tersendiri, ia dipandang mewakili generasi baru politik Amerika yang progresif, terbuka, dan anti-elit.
Perjalanan Mamdani penuh liku dan inspirasi. Lahir di Uganda dari keluarga imigran keturunan Asia Selatan, ia tumbuh besar di New York dan memahami kerasnya kehidupan kelas pekerja.
Ia terjun ke dunia politik pada 2020 sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York, memperjuangkan perumahan, keadilan sosial, dan kebijakan transportasi publik.
Dalam kampanyenya, Mamdani membawa visi besar: pembekuan sewa apartemen berstabil harga, transportasi umum gratis, serta layanan penitipan anak universal yang dibiayai pajak dari kalangan superkaya. Janji ini menggema kuat di telinga warga muda dan keluarga kelas menengah bawah.
Strateginya banyak memakai media sosial. Video kampanye sederhana namun kuat menjadi viral. Interaksi langsungnya membuat warga merasa “dilihat” dan “didengar.” Exit poll NBC News menunjukkan ia unggul 43 poin pada pemilih di bawah 45 tahun.
Meski kampanyenya positif, serangan politik tetap datang. Beberapa media konservatif seperti New York Post menuduhnya terlalu radikal, bahkan mempertanyakan kesetiaannya terhadap Amerika karena latar belakang Islam dan keluarganya.
Mantan Presiden Donald Trump ikut menyerangnya melalui Truth Social, menyebut Mamdani “tidak mampu” dan mengajak publik memilih Cuomo.
Namun serangan itu justru menjadi bumerang. Pemilih muda dan kelompok minoritas merasa terwakili oleh sikap Mamdani yang tetap tenang. Ia menjawab kritik dengan pesan persatuan: “Ini bukan tentang siapa kita, tapi apa yang bisa kita capai bersama.”
Partisipasi pemilih pun melonjak. Lebih dari dua juta warga New York menyalurkan suara, rekor tertinggi sejak 1969, didorong oleh lonjakan pemungutan suara awal yang meningkat 65 persen dibandingkan pemilu 2021.
Respons dari Indonesia dan Harapan Masa Depan
Kemenangan Mamdani menggema hingga ke Indonesia. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dadang Kahmad, menyebut kemenangan ini sebagai momen bersejarah yang membuktikan bahwa dunia mulai menilai seseorang dari kapasitas, bukan agamanya.
“Sungguh menggembirakan. Saya ucapkan selamat bertugas, semoga sukses karena jika sukses membawa kemajuan akan merubah citra Muslim dan kepercayaan rakyat di seluruh AS untuk tidak ragu memilih Muslim sebagai pemimpin,” ujar Dadang (05/11).
Dadang menegaskan bahwa kemenangan ini mencerminkan karakter masyarakat Barat yang fungsional.
“Individu tersebut bisa meyakinkan pemilih untuk memilih dirinya tanpa melihat latar belakang agamanya, sekaligus memanfaatkan sentimen negatif masyarakat terhadap Presiden Trump dan Partai Republik,” ujarnya.
Menurut Dadang, kemenangan Mamdani bukti bahwa Islam bisa berdiri sejajar di panggung demokrasi Barat jika diwakili oleh sosok yang bekerja keras dan memiliki empati sosial tinggi.
“Ini bukan sekadar kemenangan politik, tapi kemenangan moral,” tambahnya.
Mamdani akan dilantik pada Januari 2026. Ia akan menghadapi isu krisis perumahan, keamanan publik, dan kesenjangan sosial. Namun publik optimistis.
Pemilih melihat Mamdani sebagai simbol harapan baru, pemimpin muda yang tidak hanya berbicara perubahan, tetapi berupaya mewujudkannya.
Bagi umat Muslim, kemenangan ini menginspirasi. Di tengah stigma dan prasangka, keberhasilan Mamdani menunjukkan bahwa integritas dan kerja keras mampu menembus sekat identitas.
“Kita tidak dipilih karena kita Muslim, kulit hitam, atau imigran. Kita dipilih karena kita bekerja keras untuk semua orang,” ujar dia.