
KabarJawa.com – Muhammadiyah mengerahkan kekuatan nasional untuk membantu warga terdampak banjir dan longsor di Sumatera.
Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengaktifkan ratusan relawan untuk memberikan layanan darurat di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar).
Bencana yang dipicu Siklon Seyar pada 25 November 2025 mengakibatkan hujan ekstrem, banjir, dan longsor di sejumlah wilayah. Dampaknya meluas dan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa sehingga memerlukan respons yang cepat dan terkoordinasi.
MDMC mengirim tim asistensi tanggap darurat sebagai langkah awal di lokasi terdampak. Tim ini mengoordinasikan pengerahan relawan profesional MDMC se-Regional Sumatera dan MDMC se-Jawa. Penempatan relawan disesuaikan dengan tingkat dampak di masing-masing wilayah.
Untuk Sumbar, relawan ditugaskan dari provinsi yang tidak terdampak langsung, seperti Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, dan Jambi. Mereka bertugas mendirikan dan mengelola pos pelayanan bagi penyintas.
Di Sumut, MDMC memperkuat tim dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tim ini bergerak di wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, hingga Langkat. Sementara itu di Aceh, MDMC DIY dan MDMC Jawa Barat ditempatkan di Lhokseumawe dan Bireuen.
Total 14 pos pelayanan didirikan, terdiri dari tujuh pos di Sumbar, empat pos di Sumut, dan tiga pos di Aceh. Pos pelayanan menyediakan layanan kesehatan, dukungan psikososial, air bersih, hunian darurat, pendidikan darurat, serta distribusi makanan dan logistik nonpangan.
“Pendekatan ini kami susun untuk menjawab kebutuhan mendesak penyintas sekaligus menjaga keberlangsungan layanan dasar di lokasi terdampak,” ujar Wakil Sekretaris LRB PP Muhammadiyah, Budi Santoso.
Pada tahap pertama, Muhammadiyah menurunkan 240 relawan. Mereka terdiri dari Tim Emergency Medical Team (EMT) dari 13 RS Muhammadiyah–’Aisyiyah, tim psikososial, tim logistik, tim manajemen posko koordinasi dan data-informasi, serta Tim SAR Muhammadiyah.
Seluruh tim bekerja bersama pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, dan jaringan kemanusiaan lainnya.
Masa penugasan relawan untuk fase Tanggap Darurat Muhammadiyah ditetapkan hingga 5 Januari 2026 dan dapat disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan. Seluruh operasi mendapat dukungan dari Lazismu sebagai badan filantropi Muhammadiyah.