
KABARJAWA– Wacana pembongkaran Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali kembali mencuat. Menanggapi isu ini, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menekankan pentingnya empati terhadap masyarakat serta solusi terbaik tanpa mengorbankan kenyamanan warga.
“Rasa empati pada masyarakat itu harus tulus dan ikhlas. Jika ada persoalan seperti tempat parkir, maka penyelesaiannya pun harus dengan cara yang baik,” ujar Sultan.
Ia mencontohkan solusi serupa di kawasan utara Hotal Garuda dengan pendekatan yang mengutamakan kenyamanan semua pihak.
Namun, Sultan juga menegaskan agar masyarakat Yogyakarta tidak kembali menjadi korban dalam proses revitalisasi ini. Rakyat harus menjadi perhatian utama dalam pembongkaran TKP ABA ini.
“Jangan rakyat Jogja ditelantarkan. Cari alternatif tempat parkir sebaik-baiknya. Pemindahan sementara ke Mandala Krida atau terminal bukan berarti itu solusi permanen,” katanya.
Menurut beliau, Pemkot Yogyakarta memiliki beberapa opsi lahan, termasuk di wilayah selatan kota, yang bisa menjadi tempat parkir sementara dengan lebih terencana.
Selain itu, Sultan berharap agar proses relokasi ini berlangsung secepatnya dan terbuka kepada publik.
Sultan juga mengingatkan pengalaman masa lalu saat peresmian TKP Abu Bakar Ali yang penuh polemik dan penantian panjang. Peresmian dahulu memang sempat tertunda beberapa saat.
“Kami saat itu sudah hadir dan menunggu dua jam karena terjadi banyak perdebatan yang tidak pernah benar-benar dituntaskan,” kenangnya.
Menutup pernyataannya, Sultan berharap ke depan tidak ada lagi konflik berkepanjangan dalam pembangunan fasilitas publik.
“Yang penting adalah ketulusan menyelesaikan masalah, dengan tetap berpihak pada kepentingan rakyat,” ujarnya. (ef linangkung)