
KabarJawa.com – Suasana pagi di Sukoharjo kembali dikejutkan oleh dentuman keras ketika KA Batara Kresna tertemper mobil pribadi di perlintasan tanpa palang Begajah, Sabtu (15/11/2025) pukul 06.45 WIB.
Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan di wilayah Daop 6 Yogyakarta dan menjadi pengingat bahwa isu keselamatan di jalur kereta api masih memerlukan perhatian serius.
Warga Purwosari Begajah, Ndaru (31), menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Ia menuturkan bahwa mobil Toyota Rush yang ditumpangi pasangan suami istri asal Bakalan, Polokarto, melintas dari arah barat ke timur, sementara kereta melaju dari arah utara.
Saat mobil mendekati perlintasan, KA Batara Kresna sudah membunyikan klakson berulang kali. Namun upaya peringatan itu tidak berhasil menghentikan tragedi. Benturan keras terjadi dan menghantam bodi mobil hingga ringsek.
Akibat benturan tersebut, dua penumpang mobil mengalami luka-luka. Warga sekitar segera mengevakuasi keduanya ke Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo. Polisi memasang garis pembatas dan melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan.
Bangkai mobil yang berada di sisi rel menjadi pengingat betapa rentannya perlintasan tanpa palang terhadap insiden serupa.
KAI Daop 6 Yogyakarta menyayangkan kejadian temperan ini dan kembali mengingatkan masyarakat terkait risiko perlintasan liar.
“Kami sangat menyayangkan terjadinya temperan terhadap KA dan mengingatkan masyarakat agar selalu waspada, berhati-hati, serta disiplin mematuhi rambu-rambu yang ada. Perlintasan liar sangat membahayakan,” tegas Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih.
Kecelakaan terjadi tepat pukul 06.43 WIB di kilometer 16+4 petak jalan antara Sukoharjo–Pasarnguter. KA 514 Batara Kresna yang melayani rute Purwosari–Wonogiri langsung berhenti untuk pengecekan rangkaian.
Seluruh awak serta penumpang dinyatakan selamat. Setelah memastikan keamanan rangkaian, kereta kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 06.50 WIB.
Setibanya di Stasiun Pasarnguter, tim teknis Daop 6 melakukan pemeriksaan lanjutan sebelum mengizinkan perjalanan berlanjut hingga Wonogiri.
KAI menyampaikan permohonan maaf kepada penumpang yang terdampak, meski perjalanan dapat kembali berjalan normal dengan cepat.
Masyarakat diminta untuk mematuhi rambu-rambu, tidak membuat perlintasan liar, dan tidak beraktivitas di jalur KA. “Kawasan tersebut steril dan hanya untuk petugas,” ujarnya.
Feni menambahkan bahwa perilaku abai di perlintasan sebidang tidak hanya mengancam nyawa pengguna jalan, tetapi juga menempatkan penumpang dan petugas kereta api dalam risiko besar.
“Keselamatan bersama merupakan tanggung jawab bersama. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkasnya.