
KabarJawa.com— Di balik keberhasilan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menaklukkan pandemi COVID-19, tersimpan kekuatan tak kasat mata yang berakar pada jiwa masyarakatnya: kearifan lokal dan budaya gotong royong.
Dua hal itu, menurut Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, menjadi benteng utama yang menjaga harmoni dan solidaritas di masa krisis.
Dalam sesi wawancara bersama Erni Zuhriyati, mahasiswa S3 Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tengah meneliti kepemimpinan daerah DIY di masa pandemi, Sri Paduka menuturkan pandangan mendalam tentang filosofi masyarakat Yogyakarta yang selalu menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan.
Kekuatan DIY Hadapi Pandemi
“Kami memahami dan mengerti bahwa di DIY itu punya kelebihan, yaitu kearifan lokal. Kami punya pengalaman penanganan bencana sebelumnya, gempa, erupsi, dan lain-lain. Di Jogja itu selalu meletakkan warga sebagai subjek, bukan objek,” tegasnya di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (22/10).
Wagub DIY, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Satgas COVID-19 DIY, menjelaskan bahwa sistem sosial dan budaya di Yogyakarta bukan sekadar nilai warisan leluhur, melainkan sistem hidup yang nyata dan terus berdenyut dalam keseharian.
Ia menuturkan konsep 4K, yakni kampus, kantor, kampung, dan keraton, sebagai bentuk kolaborasi khas Jogja yang menjadi senjata utama dalam mengatasi pandemi.
“Konsep berkehidupan di Jogja itu 4K: kampus mewakili akademisi, kantor mewakili pemerintah, kampung mewakili warga, dan keraton mewakili institusi budaya. Nah, keempatnya harus berkolaborasi. Ini yang menjadi kekuatan Jogja,” ungkapnya.
Konsep 4K ini mencerminkan filosofi sangkan paraning dumadi yaitu kesadaran akan asal dan tujuan hidup manusia. Itu menuntun masyarakat Yogyakarta untuk menjaga keseimbangan antara ilmu, tata pemerintahan, kehidupan sosial, dan nilai-nilai budaya.
Dalam praktiknya, setiap unsur bahu-membahu. Akademisi meneliti dan memberi masukan berbasis data.
Pemerintah merumuskan kebijakan yang humanis. Masyarakat kampung menerapkan disiplin sosial. Dan keraton memberikan teladan moral serta spiritual.
Rahasia Kepemimpinan Lokal
Sementara itu, Erni Zuhriyati, yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menuturkan bahwa kunjungannya ke Kepatihan merupakan bagian penting dari riset lapangan disertasinya tentang kepemimpinan daerah di era pandemi. Ia menilai kepemimpinan DIY memiliki karakter unik yang sulit ditemukan di daerah lain.
“Ini adalah rangkaian dari penelitian kami tentang kepemimpinan di DIY di era COVID. Kami melakukan wawancara dengan berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh kunci yang terlibat dalam penanganan pandemi,” ujar Erni.
Menurutnya, alasan utama melakukan wawancara dengan KGPAA Paku Alam X adalah karena peran strategis beliau sebagai Ketua Satgas COVID-19 DIY yang memimpin koordinasi lintas sektor, dari pemerintah daerah hingga elemen masyarakat, selama masa pandemi berlangsung.
“Beliau menjadi figur sentral dalam koordinasi dan komunikasi. Dari wawancara kami, terlihat jelas bahwa kepemimpinan beliau tidak hanya administratif, tetapi juga spiritual dan kultural,” tambahnya.
Dari hasil wawancara dan pengamatan lapangan, Erni menemukan bahwa keberhasilan DIY dalam menghadapi pandemi tidak semata-mata karena kebijakan formal, melainkan karena budaya sebagai pondasi sosial masyarakat.
“Kami mendapatkan banyak informasi bahwa keberhasilan penanganan COVID-19 di DIY ini tidak lepas dari kekuatan budaya. Pondasi budaya itulah yang menjadi penguat dari penanganan pandemi itu sendiri,” jelasnya.
Bagi Erni, temuan ini bukan sekadar catatan riset, tetapi menjadi novelty atau temuan baru dalam disertasi yang ia susun.
Ia menilai bahwa konsep kepemimpinan berbasis budaya seperti di DIY bisa menjadi model bagi daerah lain di Indonesia.
“Temuan ini menjadi hal baru bagi disertasi kami. Bahwa budaya bukan sekadar simbol, tetapi instrumen nyata yang bekerja dalam sistem kepemimpinan daerah,” pungkasnya.
Gotong Royong, Warisan yang Tetap Hidup
Pengalaman DIY selama pandemi COVID-19 menjadi bukti bahwa kearifan lokal dan gotong royong bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan.
Dari setiap kampung, warga saling menjaga dan berbagi. Di setiap kantor, ASN bekerja melampaui jam tugas. Dari kampus, para peneliti mencurahkan pengetahuan. Lalu, dari keraton, nilai luhur terus mengalir menenangkan hati warga.
Dalam pandangan KGPAA Paku Alam X, keberhasilan itu bukan karena teknologi semata, melainkan karena rasa, rasa tanggung jawab, rasa persaudaraan, dan rasa cinta pada tanah kelahiran.
“Jogja bisa bertahan karena kita saling memahami, saling menguatkan. Kearifan lokal itu yang membuat kita tidak mudah goyah,” tutup Sri Paduka. (ef linangkung)