
KabarJawa.com— Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo memulai langkah penting dengan melakukan identifikasi awal budidaya vanili di sejumlah titik wilayah.
Ini adalah sebuah proses yang disusun secara sistematis untuk memetakan potensi sekaligus memahami permasalahan nyata di tingkat petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, Trenggono Trimulyo mengungkapkan kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga.
- Tim Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo yang dipimpin oleh Duwianta, S.P.
- Tim Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) DIY yang diwakili oleh Christina Astri Wirasti S.P., M.Sc. dan Sulistiyah, S.Si., M.Si.
- Akademisi dari Universitas Gadjah Mada melalui Prof. Tri Joko dan Dr. Suryanti dari Program Studi Proteksi Tanaman
“Sinergi kelembagaan ini menghadirkan perpaduan pengalaman lapangan, riset ilmiah, dan pendekatan teknis untuk memastikan langkah pemulihan pamor vanili berjalan terukur dan tepat sasaran,” tuturnya.
Menyusuri Lahan-Lahan Budidaya Vanili Kulon Progo
Tim gabungan bergerak ke berbagai kelompok tani yang menjadi kantong budidaya vanili di Kulon Progo.
Identifikasi berlangsung di KT Ngudi Makmur (Brajan, Banjararum, Kalibawang), KT Ayem (Pagerharjo, Samigaluh), serta KT Suka Tani II (Duren Sawit, Banjaroya, Kalibawang).
Di setiap titik lokasi, tim melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi tanaman, identifikasi hama dan penyakit, pengambilan sampel tanaman dan tanah, hingga mengamati pola budidaya petani.
Pendekatan ini menghasilkan pemetaan kondisi lapangan yang akurat sebagai fondasi bagi pendampingan teknis maupun rekomendasi pengembangan komoditas vanili ke depan.
Dia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menilai kembali potensi vanili yang selama ini menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Dinas Pertanian Pangan ingin memastikan pengembangan vanili dapat bergerak berdasarkan data lapangan yang faktual dan kebutuhan petani secara langsung.
Petani Sampaikan Kendala
Dalam proses identifikasi, para petani vanili menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini membebani produktivitas mereka.
Hama dan penyakit menjadi kendala utama yang sering kali menghambat pertumbuhan tanaman, sementara pengendalian yang tepat belum sepenuhnya mereka kuasai.
Di sisi lain, harga jual vanili yang anjlok menjadi kekhawatiran paling besar. Petani mengaku merindukan masa ketika harga vanili mampu menyentuh jutaan rupiah per kilogram, sebuah kondisi yang sempat menjadikan vanili sebagai primadona dan sumber kesejahteraan keluarga.
Harapan agar vanili kembali berjaya terdengar kuat di setiap titik kunjungan. Petani berharap pendampingan berkelanjutan bisa membantu mereka mengatasi keterbatasan teknis sekaligus membuka peluang pasar yang lebih menjanjikan.
Kegiatan identifikasi awal ini menjadi pijakan penting dalam menghidupkan kembali pamor vanili sebagai komoditas unggulan Kulon Progo.
Pemeriksaan lapangan yang detail, kolaborasi lintas lembaga, serta keterlibatan aktif petani menegaskan bahwa vanili masih memiliki potensi besar untuk bangkit.
Kerjasama dengan perguruan tinggi seperti UGM menjadi nilai tambah strategis. Masuknya teknologi terbaru dan pendekatan ilmiah mutakhir akan memberikan solusi konkret, dari pengendalian hama-penyakit, perbaikan budidaya, hingga penguatan kualitas produk.
Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo meyakini bahwa kolaborasi, sinergi, dan pendampingan berkelanjutan merupakan kunci menghadirkan pertanian yang maju dan berdaya saing.
Dengan dukungan riset dan pendampingan lapangan yang intensif, Kulon Progo menargetkan vanili kembali ke panggung utama sebagai emas hijau. (ef linangkung)