
KABARJAWA – Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) kembali menyita perhatian publik. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menunjukkan rasa bangga luar biasa.
Ia meninjau langsung salah satu rumah penerima bantuan di Padukuhan Gentungan, Kapanewon Karangmojo, Senin (28/7/2025).
Tak sekadar bangga, Bupati juga terharu melihat semangat gotong royong masyarakat yang menyulap rumah reyot menjadi hunian kokoh nan layak huni.
Bupati Endah melangkah pasti menuju rumah milik Gunari, seorang warga yang menerima bantuan BSPS senilai Rp20 juta dari APBD Kabupaten Gunungkidul.
Namun, yang membuatnya terpukau bukan sekadar bantuan itu, melainkan swadaya luar biasa dari Gunari dan keluarganya yang mencapai angka Rp37 juta.
“Saya terharu dan bangga. Rumah Pak Gunari ini buktikan bahwa semangat swadaya masyarakat Gunungkidul tidak main-main. Rumahnya sekarang bersih, kokoh, ada empat kamar, termasuk ruang salat. Dapur masih pakai bangunan lama, tapi selebihnya sudah luar biasa,” ujar Bupati.
Swadaya Warga Gunungkidul
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui skema BSPS mengalokasikan dana Rp20 juta untuk setiap kepala keluarga yang masuk dalam daftar penerima.
Namun, bantuan ini bukan hibah penuh, melainkan stimulan yang mensyaratkan partisipasi aktif warga melalui swadaya.
Di Padukuhan Gentungan, lima keluarga telah menerima bantuan tersebut dan semuanya diwajibkan membangun sendiri dengan tambahan dana atau tenaga.
“Bantuan ini memang stimulan, bukan hibah total. Pemerintah kasih dorongan, tapi warga yang menentukan kualitas rumahnya. Kalau mereka mau swadaya lebih, hasilnya pasti lebih baik,” tegas Bupati.
Bupati juga menegaskan bahwa untuk mendapatkan BSPS, warga harus memenuhi tiga syarat utama, yaitu memiliki tanah milik sendiri, berpenghasilan di bawah UMP, dan bersedia melakukan swadaya.
Ia menepis anggapan bahwa penyaluran bantuan ini tidak adil, karena banyak warga yang merasa sudah disurvei tapi tak kunjung mendapat bantuan.
“Sering kali mereka menyatakan tidak sanggup swadaya saat disurvei. Nah, itu otomatis gugur. Karena aturan dari Kementerian PUPR memang mewajibkan adanya swadaya. Ini bukan semata soal rumah, tapi membentuk karakter tangguh dan mandiri,” jelasnya tegas.
Tantangan Masih Besar
Tahun 2025, Pemkab Gunungkidul sudah menganggarkan BSPS untuk 246 kepala keluarga. Namun, jumlah rumah tidak layak huni (RTLH) masih sangat tinggi, mencapai 16.538 unit. Bupati mengakui tantangan ini tak mudah, tapi ia memastikan pemerintah tidak akan menyerah.
“Kita tidak tinggal diam. Kita terus mendorong melalui APBD. Dan pagi ini kita dapat kabar gembira, ada tambahan 500 calon penerima BSPS lewat jalur aspirasi Ibu Esti Wijayanti, anggota DPR RI. Nanti teknisnya PU akan bekerja sama dengan lurah,” ungkap Bupati.
Tak semua warga memiliki kemampuan untuk swadaya. Bupati Gunungkidul menyadari betul fakta itu.
Untuk kelompok miskin ekstrem yang benar-benar tidak mampu, Pemkab tengah merumuskan skema bantuan penuh berupa hibah. Ia mengajak semua pihak bergotong royong demi menciptakan keadilan.
“Kalau memang benar-benar tidak bisa swadaya, kita upayakan hibah 100 persen. Tapi tentu, warga juga harus punya komitmen. Jangan sampai rumah sudah dibantu, tapi penghasilannya habis buat rokok atau judi online. Itu akan merusak semangat program ini,” katanya.
Di balik kisah sukses pembangunan rumah Pak Gunari dan warga Gentungan lainnya, terlihat satu kekuatan besar: gotong royong.
Warga bergandengan tangan, saling membantu, menyumbang tenaga, bahkan bahan bangunan. Semangat kolektif inilah yang mengubah bantuan kecil menjadi perubahan besar.
“Kalau tanpa gotong royong, mungkin rumah ini belum jadi. Tapi karena semua warga ikut terlibat, hasilnya luar biasa. Ini kekuatan budaya kita yang tak ternilai,” tambah Bupati Endah.
Melalui kombinasi bantuan stimulan, swadaya warga, dan kerja sama lintas sektor, Pemkab Gunungkidul berharap mampu mengikis angka RTLH secara signifikan. Bupati Endah menutup kunjungannya dengan harapan besar.
“Kita ingin semua warga punya rumah yang layak, aman, sehat, dan manusiawi. Bukan sekadar atap dan dinding, tapi tempat yang benar-benar nyaman untuk membangun masa depan,” tuturnya. (ef linangkung)