
TUGUJOGJA– Musim kemarau di Gunungkidul diprediksi lebih pendek. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung menyiapkan langkah antisipasi.
Pemerintah mengambil langkah dengan menyiapkan 1.500 tangki air bersih untuk program droping air.
Antisipasi Kemarau di Gunungkidul
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi, menyampaikan bahwa pemerintah akan melakukan pendistribusian air ke wilayah-wilayah yang rentan kekeringan, terutama di kapanewon yang kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau.
“Kami menyiapkan 1.500 tangki air bersih yang akan kami distribusikan ke warga apabila kekeringan mulai terjadi,” ujar Sumadi, Jumat (18/04/2025).
BPBD juga mencatat bahwa pada tahun 2024 lalu, pihaknya telah melakukan dropping air sebanyak 1.672 tangki untuk membantu warga yang terdampak kekeringan di 14 kapanewon.
Droping air terbanyak dilakukan di wilayah Girisubo, Rongkop, dan Tepus yang mengalami krisis air terparah.
“Tahun lalu kita drop sampai 1.672 tangki. Jadi angka 1.500 tahun ini sifatnya masih bisa bertambah jika kondisi memang membutuhkan,” tambah Sumadi.
BPBD akan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan menyusun strategi distribusi mulai awal Mei. Pihaknya juga meminta kapanewon untuk menyiapkan anggaran mandiri sebagai bagian dari penanganan bencana kekeringan.
“Beberapa kapanewon kemungkinan bisa melakukan droping secara mandiri, namun kami masih menunggu hasil pemetaan,” jelasnya.
Droping air kemungkinan besar bermula pada bulan Juni atau Juli, beberapa pekan setelah masuknya musim kemarau di wilayah Gunungkidul.
Prediksi BMKG
Berdasarkan prediksi BMKG Yogyakarta, kemarau di wilayah Gunungkidul bagian utara seperti Gedangsari, Patuk, dan Nglipar akan mulai pada dasarian III April.
Sementara itu, wilayah tengah dan selatan seperti Wonosari, Paliyan, dan Tanjungsari akan mengalami kemarau mulai dasarian I Mei.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, menyebut bahwa musim kemarau tahun ini diprakirakan bersifat netral, tapi dengan curah hujan di atas normal. Dan kemungkinan kemarau tahun ini lebih pendek.
“Artinya, kemarau tahun ini cenderung lebih basah dan kemungkinan akan berakhir pada dasarian II Oktober,” katanya.
Reni juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau dan mempersiapkan berbagai langkah antisipasi, termasuk penyesuaian pola tanam untuk menghindari gagal panen.
Dengan langkah-langkah antisipasi tersebut, Pemkab Gunungkidul berharap bisa meminimalkan dampak kekeringan bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah langganan krisis air. (ef linangkung)