
Kabarjawa – Tragedi lift crane kembali terjadi di Indonesia. Kali ini, insiden maut menimpa proyek pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Blora.
Kecelakaan yang melibatkan jatuhnya lift crane ini telah merenggut lima nyawa pekerja. Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut guna mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas insiden tragis ini.
Jumlah Korban Meninggal Bertambah
Kecelakaan kerja di proyek pembangunan RS PKU Muhammadiyah Blora telah menyebabkan banyak korban jiwa. Korban kelima, seorang pekerja bernama Rinduan asal Desa Greneng, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Sebelumnya, ia sempat dirujuk ke RS Moewardi Solo sebelum akhirnya kembali ke RS PKU Muhammadiyah Blora, tempat di mana ia menghembuskan nafas terakhir pada Minggu pagi, 9 Maret 2025.
Dengan bertambahnya jumlah korban meninggal, insiden ini semakin menambah duka bagi keluarga dan kerabat korban serta mengundang perhatian masyarakat luas. Banyak pihak mempertanyakan faktor keselamatan kerja dalam proyek konstruksi rumah sakit ini.
Proses Penyelidikan Masih Berlangsung
Hingga saat ini, pihak kepolisian belum menetapkan tersangka atas kecelakaan tersebut. Menurut keterangan dari pihak Polres Blora, mereka masih menunggu hasil investigasi dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah.
Hasil labfor ini menjadi bukti pendukung utama dalam menentukan pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tragis ini.
Menurut pernyataan resmi dari kepolisian, pemeriksaan laboratorium forensik akan membantu mengungkap penyebab pasti kecelakaan, apakah disebabkan oleh faktor teknis, kelalaian manusia, atau kemungkinan lainnya.
Langkah ini dianggap krusial sebelum menetapkan tersangka agar penyelidikan tetap berjalan secara profesional dan transparan.
Kecelakaan lift crane di proyek RS PKU Muhammadiyah Blora telah menelan lima korban jiwa dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.
Hingga saat ini, proses penyelidikan masih berlangsung, dengan kepolisian menunggu hasil laboratorium forensik untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya penerapan standar keselamatan kerja dalam proyek konstruksi guna mencegah tragedi serupa di masa depan.(Kabarjawa)