
Kabarjawa – Gunung Lawu tak hanya dikenal dengan keindahan alamnya dan puncak Hargo Dumilah yang menawan, tetapi juga karena sosok istimewa yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan banyak pendaki.
Sosok itu adalah Mbok Yem, penjaga warung tertinggi di Indonesia yang selama puluhan tahun menjadi penyemangat dan teman seperjalanan bagi siapa saja yang menapaki jalur menuju puncak. Kabar kepergian Mbok Yem membawa duka mendalam di kalangan pecinta alam dan komunitas pendaki di seluruh nusantara.
Mbok Yem, Sosok Legendaris Gunung Lawu
Mbok Yem, yang memiliki nama asli Wakiyem, telah puluhan tahun menjaga sebuah warung kecil di ketinggian sekitar 3.150 meter di atas permukaan laut.
Lokasinya berada di dekat puncak Gunung Lawu, menjadikannya warung tertinggi di Indonesia. Bagi banyak pendaki, warung ini bukan hanya tempat untuk mengisi perut, melainkan juga tempat beristirahat, berbagi cerita, dan mendapatkan semangat baru di tengah perjalanan yang berat.
Mengakhiri Perjalanan di Usia 82 Tahun
Mbok Yem meninggal dunia dalam usia 82 tahun di kediamannya di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Sebelumnya, kondisi kesehatannya menurun sejak awal tahun 2025.
Biasanya, Mbok Yem turun gunung menjelang Lebaran, namun kali ini ia harus turun lebih awal, yakni pada awal Maret, karena kondisi yang semakin memburuk. Ia ditandu oleh enam orang dari puncak untuk kembali ke rumahnya.
Perpisahan yang Mengharukan
Kabar duka ini langsung menyebar di kalangan pendaki dan pecinta alam. Puluhan pendaki datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada Mbok Yem dan turut mengantarkan jenazahnya ke Tempat Pemakaman Umum Desa Gonggang.
Banyak dari mereka menganggap Mbok Yem bukan hanya seorang penjaga warung, tapi juga seperti keluarga sendiri yang selalu menyambut dengan senyum dan kata-kata penuh semangat.
Warung di Atas Awan, Tempat Hangat di Tengah Kabut
Sejak era 1980-an, warung Mbok Yem menjadi tempat yang sangat berarti di jalur pendakian Lawu. Di tengah suhu dingin dan kabut tebal, warung tersebut selalu menjadi titik perhentian hangat untuk mengisi tenaga dan semangat.
Tak sedikit pendaki yang mengalami kelelahan atau kebingungan di jalur merasa tenang kembali setelah beristirahat di warung milik Mbok Yem.
Kenangan dan Warisan Semangat
Warisan terbesar yang ditinggalkan Mbok Yem bukanlah bangunan warung atau makanan yang ia jual, melainkan semangat, kehangatan, dan kebijaksanaan hidup yang ia berikan kepada setiap orang yang datang. Kisah hidupnya akan terus dikenang oleh generasi pendaki berikutnya sebagai inspirasi dan simbol ketulusan.
Kepergian Mbok Yem meninggalkan duka, namun juga menjadi momen refleksi akan pentingnya kehadiran satu orang yang bisa memberikan pengaruh besar dalam kehidupan banyak orang. Semangat, keramahan, dan dedikasinya menjadi teladan yang akan terus hidup dalam ingatan para pendaki.
Gunung Lawu kehilangan satu bintangnya, namun kenangan akan Mbok Yem akan terus bersinar di hati mereka yang pernah bertemu dan merasakan kehangatan warungnya di atas awan.(Kabarjawa)