
Kabarjawa – Upacara Melasti menjadi salah satu tradisi sakral bagi umat Hindu di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Hindu Tengger yang tinggal di lereng Gunung Semeru dan Bromo. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Nyepi untuk menyambut Tahun Baru Saka 1947.
Ribuan umat Hindu berkumpul di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar Awar, Pasirian, Lumajang, guna melaksanakan ritual penyucian diri dan alam semesta.
Prosesi Sakral Upacara Melasti
Ritual Melasti diawali dengan tarian sakral Rejang Renteng dan Rejang Dewa yang diiringi oleh musik khas Bale Ganjur.
Tari-tarian ini menjadi simbol penyambutan roh suci yang hadir dalam prosesi. Setelah itu, umat Hindu melanjutkan dengan upacara persembahyangan yang dilakukan secara khidmat di tepi pantai.
Lebih dari 2.500 umat Hindu Tengger mengikuti prosesi ini dengan penuh rasa hormat dan kekhidmatan. Upacara ini memiliki makna mendalam, yaitu menyucikan Buana Agung (alam semesta) dan Buana Alit (makhluk hidup), agar keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan tetap terjaga.
Ritual Larung Sesaji ke Laut Selatan
Salah satu puncak dari Upacara Melasti adalah prosesi melarung jempana, yaitu tempat sesaji yang berisi beragam persembahan seperti makanan dan hewan ternak, ke tengah Laut Selatan Lumajang.
Prosesi ini melambangkan pelepasan segala kotoran dan energi negatif, sekaligus penyucian diri sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.
Makna dan Harapan dari Upacara Melasti
Melasti bukan sekadar ritual penyucian, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Hindu untuk merefleksikan diri dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Tradisi ini juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi.
Teguh Widodo, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Lumajang, menyampaikan bahwa upacara ini menjadi simbol harapan agar umat Hindu selalu menjaga keharmonisan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Upacara Melasti di Pantai Watu Pecak Lumajang menjadi cerminan kearifan lokal yang sarat akan makna spiritual dan kebersamaan.
Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam semesta sekaligus mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Nyepi dengan hati yang bersih.
Melalui ritual ini, umat Hindu Tengger memperkuat nilai-nilai kehidupan yang selaras dengan alam dan Sang Pencipta.(Kabarjawa)