
Kabar Jawa – Simak berikut ini beberapa rekomendasi warung soto enak dan legendaris yang ada di Yogyakarta. Mana sajakah lokasinya?
Soto, hidangan khas Indonesia yang merakyat, menjadi pilihan utama untuk berbagai waktu makan. Di Jogja, soto hadir dalam ragam versi legendaris yang menggoda selera, dari kuah bening hingga santan kental, cocok untuk sarapan, makan siang, hingga malam hari.
Yogyakarta tak hanya dikenal dengan gudeg dan bakpia, namun juga menyimpan kekayaan rasa dalam semangkuk soto.
Di tengah geliat budaya dan tradisi yang kental, sajian soto hadir sebagai comfort food yang cocok dinikmati kapan pun: pagi, siang, ataupun malam.
Warung-warung soto legendaris tersebar di berbagai sudut kota, masing-masing dengan ciri khas dan sejarah panjang yang membentuk cita rasa unik. Berikut adalah deretan soto paling melegenda di Yogyakarta yang layak Anda sambangi.
Rekomendasi Soto Enak di Jogja
1. Soto Kadipiro: Warisan Rasa Sejak 1921
Di bilangan Jalan Wates No. 33, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, berdiri sebuah warung sederhana dengan papan nama yang nyaris tak berubah sejak zaman kolonial. Itulah Soto Kadipiro, salah satu ikon kuliner soto tertua di Yogyakarta yang telah berdiri sejak tahun 1921.
Apa yang membuatnya istimewa? Kuah bening kekuningan yang kaya rempah, disajikan bersama lenthok (perkedel singkong), suwiran ayam kampung, seledri segar, dan irisan kol mentah.
Sentuhan rasa gurih, sedikit manis, dan sedikit asam menjadikan sotonya terasa seimbang dan nikmat. Pelengkap seperti tahu bacem, sate jeroan, hingga telur puyuh tersedia untuk menambah kelezatan.
Warung ini masih mempertahankan suasana tradisional dengan dinding berhias foto-foto lawas, lukisan, dan kalender jadul, memberi nuansa nostalgia pada setiap suapan. Meski buka hingga pukul 14.30 WIB, pengunjung disarankan datang lebih pagi karena stok sering habis lebih awal. Harganya? Mulai dari Rp 15.000 saja.
2. Soto Pak Sholeh Al Barokah: Aroma Arang yang Tak Terlupa
Sejak 1952, Soto Pak Sholeh Al Barokah telah menyajikan soto sapi khas dengan kuah bening yang gurih, dimasak menggunakan arang untuk menciptakan aroma otentik yang sulit ditiru. Daging sapi yang empuk dipadukan dengan kuah bening yang menyegarkan menjadikan hidangan ini terasa ringan namun memuaskan.
Berlokasi di Jln Wiratama No. 84, Tegalrejo, warung ini tetap eksis dan terus dikembangkan oleh generasi penerusnya. Selain soto sapi, tersedia pula menu lain seperti sop buntut, empal goreng, dan otak goreng. Semuanya dibanderol dengan harga ramah di kantong, mulai dari Rp 15.000.
Menariknya, Soto Pak Sholeh Al Barokah kini memiliki cabang di berbagai titik strategis di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti Jalan Kaliurang, Jalan Magelang, hingga Jalan Raya Jogja-Solo. Hal ini memudahkan para pencinta kuliner untuk menikmati cita rasa legendaris ini di mana pun berada.
3. Soto Pak Marto: Kenikmatan Babat dalam Semangkuk Soto
Didirikan sejak tahun 1960, Soto Pak Marto dikenal sebagai pelopor soto babat di Yogyakarta. Warung utamanya terletak di Jalan Mayor Jenderal S. Parman No. 44, tak jauh dari Keraton Yogyakarta dan Istana Taman Sari. Kuah sotonya yang agak kental berwarna kekuningan menciptakan sensasi rasa yang gurih, menyatu dengan potongan babat sapi yang empuk.
Tak hanya babat, Anda juga bisa memilih potongan iso, daging sapi, atau ayam. Cita rasanya yang manis-gurih begitu lekat di lidah. Tambahan seperti sate telur puyuh dan tempe goreng tepung membuat makan di sini terasa lebih komplet.
Dengan jam buka dari pukul 07.00 hingga 21.00 WIB, Soto Pak Marto selalu ramai dikunjungi pelanggan setia. Warung ini juga telah membuka cabang di Jl. Janti, Banguntapan; Jl. Kabupaten, Gamping; dan Jl. Imogiri Barat, Sewon.
4. Soto Sulung Stasiun Tugu: Keaslian Rasa dari Tahun 1968
Tepat di sekitar kawasan Stasiun Tugu, ada sebuah tempat makan yang telah menjadi bagian dari sejarah kuliner Yogyakarta sejak 1968: Soto Sulung. Menawarkan kehangatan rasa dari semangkuk soto sapi, warung ini tak hanya mengandalkan nostalgia, tetapi juga kualitas rasa yang terjaga.
Soto Sulung dikenal dengan potongan daging sapi yang besar, telur rebus utuh, dan kuah pekat dengan bumbu rempah yang dalam. Pilihan menu tidak hanya terbatas pada soto daging, tetapi juga ada soto ayam dan soto jeroan dengan berbagai variasi.
Keunikan lain dari warung ini adalah penyajian bahan pelengkap secara terpisah dalam bungkusan kecil di atas meja, memungkinkan pengunjung memilih dan menyesuaikan isi sotonya sesuai selera. Dari sisi harga, Anda cukup merogoh kocek mulai dari Rp 15.000 untuk menikmati semangkuk kelezatan ini.
5. Soto Bathok Mbah Katro: Sentuhan Tradisional di Desa Wisata
Jika Anda mencari suasana makan soto yang tidak biasa, mampirlah ke Warung Soto Bathok Mbah Katro di Desa Wisata Sambisari, Kalasan. Yang menjadikannya unik adalah penggunaan batok kelapa sebagai mangkuk. Hal ini tidak hanya memperkuat nuansa tradisional, tetapi juga memberi pengalaman makan yang lebih personal dan akrab.
Kuah bening, suwiran ayam kampung, lenthok, serta taburan seledri dan bawang goreng menyatu dalam kelezatan yang sederhana namun berkesan. Dengan harga mulai dari Rp 8.000 saja, Soto Bathok Mbah Katro sangat cocok untuk santapan pagi atau sore sambil menikmati suasana pedesaan yang asri.
Kesimpulan: Soto sebagai Cerminan Kekayaan Rasa Jogja
Beragamnya jenis soto di Yogyakarta adalah cerminan dari kekayaan kuliner dan kreativitas masyarakatnya dalam menjaga tradisi.
Dari Soto Kadipiro yang melegenda hingga Soto Bathok yang memadukan tradisi dan inovasi, semuanya menawarkan kelezatan yang tak lekang oleh waktu.
Tak hanya mengenyangkan, setiap mangkuk soto menyimpan cerita sejarah dan nilai budaya yang tinggi. Dan yang paling menarik, kelezatan ini hadir dengan harga yang sangat bersahabat.
Jadi, saat Anda berkunjung ke Yogyakarta, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi soto-soto legendaris ini.
***