
Kabar Jawa – Kepergian Paus Fransiskus pada usia 88 tahun menjadi momen yang menyentuh bagi jutaan umat Katolik di seluruh dunia.
Ia wafat pada pukul 9.45 waktu setempat di tengah proses pemulihan dari pneumonia ganda yang dideritanya.
Namun yang paling membekas bukan hanya tentang wafatnya seorang pemimpin spiritual, melainkan juga tentang bagaimana ia meninggalkan dunia dengan pesan yang begitu kuat: kesederhanaan adalah kemuliaan.
Warisan Kerendahan Hati Seorang Paus
Sejak awal masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus dikenal luas sebagai sosok pemimpin yang rendah hati. Ia menolak segala bentuk kemewahan dan lebih memilih mendekatkan diri pada umat.
Dalam banyak kesempatan, ia tampil tanpa kemegahan yang biasa melekat pada seorang Paus. Prinsip itu tetap ia pegang teguh, bahkan hingga ajal menjemput.
Wasiatnya sangat jelas: tidak ada kemegahan dalam kematiannya, hanya keheningan dan penghormatan yang sederhana.
Pemakaman Tanpa Kemewahan: Peti Tunggal dan Tanpa Panggung
Salah satu wujud nyata dari wasiat Paus Fransiskus adalah keputusan untuk dimakamkan dalam peti tunggal yang sederhana.
Tidak seperti para paus sebelumnya yang dimakamkan dengan tiga lapis peti—kayu, timah, dan kayu ek—Paus Fransiskus hanya menginginkan satu peti kayu dengan lapisan seng.
Tak hanya itu, ia juga menolak untuk disemayamkan di atas catafalque, yaitu panggung khusus yang biasanya digunakan dalam prosesi jenazah Paus.
Sebagai gantinya, umat akan diberi kesempatan memberikan penghormatan terakhir di Basilika Santo Petrus, di mana peti akan dibuka dan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau.
Dimulainya Masa Berkabung dan Prosesi Liturgis
Setelah kepergiannya dikonfirmasi oleh tim medis Vatikan dan disahkan oleh Camerlengo, Kardinal Kevin Joseph Farrell, jenazah Paus langsung dipindahkan ke kapel pribadi.
Di sana, ia akan dikenakan jubah merah dan kasula putih, sebagai simbol kepausan dalam liturgi. Salah satu simbol penting, yaitu Fisherman’s Ring—cincin khas pemimpin tertinggi Gereja Katolik—akan dihancurkan. Ini adalah tanda resmi berakhirnya masa jabatannya sebagai Paus.
Selama empat hingga enam hari, masa berkabung akan berlangsung. Dalam kurun waktu ini, umat dan para pejabat gereja diberikan waktu untuk mempersiapkan prosesi pemakaman.
Misa perpisahan dijadwalkan berlangsung sekitar tujuh hari setelah wafat diumumkan. Prosesi tersebut akan dilangsungkan di Lapangan Santo Petrus, dipimpin oleh para kardinal dari berbagai negara.
Lokasi Pemakaman Pilihan: Basilika Santa Maria Mayor
Paus Fransiskus memilih tempat peristirahatan terakhir yang tidak lazim. Jika mayoritas pendahulunya dimakamkan di kompleks Vatikan, ia justru menginginkan dimakamkan di Basilika Santa Maria Mayor—gereja favoritnya.
Sejak awal masa kepausannya, Paus kerap mengunjungi basilika tersebut untuk berdoa, terutama sebelum dan sesudah perjalanan luar negeri.
Pilihan ini sangat mencerminkan kepribadiannya. Ia tidak ingin dikubur di pusat kekuasaan spiritual, melainkan di tempat yang dekat dengan umat dan penuh makna pribadi.
Wasiat ini menjadi penanda bahwa bahkan di akhir hidupnya, Paus Fransiskus tetap setia pada nilai-nilai yang ia anut: kesederhanaan, kedekatan dengan umat, dan cinta pada tempat ibadah yang bermakna baginya.
Tradisi Terakhir Sebelum Penguburan
Menjelang pemakaman, jenazah Paus Fransiskus akan dikenakan ritual penutupan yang khas dalam tradisi Katolik. Sebuah kain sutra putih akan diletakkan di wajahnya—simbol perpisahan terakhir antara pemimpin dan umatnya.
Di dalam peti, juga akan dimasukkan dokumen yang mencatat seluruh riwayat hidup, dedikasi, dan pencapaian selama masa kepausannya.
Prosesi pemakaman akan dibuka dengan prosesi pembawa salib, kemudian diikuti oleh misa agung yang akan dihadiri para kepala negara, perwakilan umat dari berbagai negara, serta tokoh-tokoh agama dunia.
Berita duka atas wafatnya Paus Fransiskus menyebar cepat ke seluruh dunia. Ucapan belasungkawa datang dari berbagai penjuru, termasuk para tokoh agama, pemimpin negara, dan publik figur.
Bagi banyak orang, kepergian beliau tidak hanya meninggalkan kekosongan dalam struktur Gereja Katolik, tetapi juga meninggalkan pesan kuat tentang kemanusiaan, kesetiaan pada nilai spiritual, dan sikap anti kemewahan yang langka di era modern.***