
KabarJawa.com – Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diselenggarakan di Hotel Sultan, Jakarta pada Selasa (9/12) menetapkan Kiai Haji Zulfa Mustofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum (Ketum) PBNU. Hal ini menggantikan posisi Kiai Haji Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Penunjukan ini sontak membawa sorotan pada sosok Kiai Zulfa Mustofa. Lantas, siapakah sebenarnya sosoknya dan dari garis keturunan siapa ia berasal? Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah profil lengkap KH. Zulfa Mustofa.
Garis Keturunan Kiai Haji Zulfa Mustofa
Kiai Haji Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada tanggal 7 Agustus 1977. Zulfa belakangan secara terbuka mengkonfirmasi garis keturunannya saat agenda rapat pleno PBNU. Berdasarkan pernyataannya saat rapat pleno, ia juga sempat menyinggung soal garis keturunannya.
“Saya keponakan K.H Ma’ruf Amin,” ungkapnya.
Zulfa Mustofa diketahui juga merupakan keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani (Imam Masjidil Haram). Yang mana, Syekh Nawawi dikenal sebagai sosok ulama besar dunia.
Sementara, ayahnya yaitu Kiai Haji Muqarrabin, diketahui berasal dari Pekalongan, sementara sang ibunda, Nyai Haji Marhumah Latifah, berasal dari Kresek, Tangerang.
Jejak Karier Organisasi dan Kontribusi Akademik
Sebelum ditunjuk sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU, rekam jejak Kiai Zulfa di dunia organisasi dan akademik sudah sangat mentereng.
Karier Kiai Zulfa di organisasi NU menunjukkan perjalanan yang matang dan berjenjang. Sebelum menerima penugasan sebagai Pj Ketua Umum, ia menjabat posisi strategis sebagai Wakil Ketua Umum PBNU untuk periode kepengurusan 2022-2027.
Ia juga tercatat pernah aktif sebagai pengurus di Gerakan Pemuda (GP) Ansor dimana ini menunjukkan keterlibatannya dalam kaderisasi ulama muda NU.
Selain aktif dalam struktur organisasi, Kiai Zulfa dikenal sebagai ulama muda yang produktif serta memiliki perhatian besar pada khazanah keilmuan Islam.
Kontribusi hingga Penghargaan Akademik
Kontribusinya tercermin melalui karya tulis yang diperhitungkan di kalangan akademisi dan pesantren. Ia telah menerbitkan dua kitab penting, yaitu:
- Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu
- Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi’i
Karya-karya tersebut menjadi bukti kontribusinya dalam memperkaya khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam mazhab Syafi’i.
Di dunia akademik formal, ia pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) Bidang Ilmu Arudl Kesusastraan Arab dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Dengan adanya penunjukan dalam rapat pleno tersebut, sosok Zulfa Mustofa kini menjadi pusat perhatian dalam ruang lingkup PBNU.***