
KABAR JAWA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengingatkan pentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai landasan mewujudkan cita-cita Indonesia sehat dan berkeadaban menuju tahun 2045.
Pesan ini disampaikannya dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang penuh refleksi.
Menurut Taruna, Indonesia sebagai bangsa besar dengan keragaman budaya, agama, dan suku, membutuhkan teladan Rasulullah dalam memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kasih sayang, serta menegakkan keadilan sosial.
Ia menegaskan bahwa ajaran Nabi Muhammad SAW relevan untuk membangun kedamaian dan kesejahteraan bangsa.
“Tidak ada damai tanpa cinta, dan tidak ada cinta tanpa kejujuran. Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bahwa akhlak adalah fondasi peradaban. Jika kita mengikuti jejak beliau, Indonesia akan menjadi negeri yang aman, tenteram, dan penuh rahmat Allah SWT,” ujar Taruna Ikrar dengan penuh haru.
Tugas BPOM Sebagai Amanah
Dalam pidatonya, Taruna menekankan bahwa tugas BPOM tidak hanya sekadar menjalankan regulasi pengawasan obat dan makanan, melainkan juga bagian dari ibadah dan pengabdian kepada bangsa.
Melindungi masyarakat dari produk berbahaya dianggapnya sebagai tanggung jawab moral sekaligus bentuk nyata meneladani Rasulullah.
“Ini adalah amanah. Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Melindungi rakyat dari obat dan makanan yang berbahaya adalah wujud kecil dari cinta kami untuk bangsa,” tegasnya.
Dengan pengawasan yang ketat, BPOM berupaya memastikan setiap produk yang beredar di masyarakat aman, bermutu, dan bermanfaat.
Hal ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang mengedepankan kesehatan sebagai fondasi kemajuan.
Maulid Nabi sebagai Momentum Perbaikan
Lebih lanjut, Taruna mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak boleh berhenti pada perayaan seremonial semata.
Ia menekankan, momentum ini harus dijadikan titik balik untuk menata kembali hati, niat, dan perbuatan.
Hakikat Maulid, menurutnya, adalah menghidupkan teladan Rasulullah dalam keseharian.
Mulai dari kesabaran beliau saat menghadapi ujian, kejujuran ketika berdagang, kasih sayang dalam memimpin, hingga pengorbanan untuk membela umat.
“Peringatan Maulid Nabi harus menjadi cermin. Apakah kita sudah menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam rumah tangga, pekerjaan, maupun kehidupan berbangsa? Jika setiap pribadi menanamkan akhlak Nabi, maka bangsa ini akan dipenuhi cahaya rahmat Allah SWT,” jelasnya.
Rahmat bagi Semesta Alam
Taruna juga menegaskan bahwa Maulid Nabi merupakan wujud rasa syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Anbiya: 107:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”
Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa menebarkan kasih sayang, kedamaian, dan kebaikan di tengah masyarakat. Nilai itu, kata dia, harus terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Harapan untuk Indonesia
Menutup pesannya, Taruna Ikrar menyampaikan doa agar Indonesia menjadi negeri yang damai, penuh berkah, dan dipimpin oleh pemimpin yang amanah.
“Ya Allah, jadikan negeri ini negeri yang Engkau berkahi, negeri yang penduduknya saling menyayangi, negeri yang pemimpinnya jujur dan amanah, serta negeri yang rakyatnya damai mengikuti ajaran Rasul-Mu tercinta. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin,” tutupnya.
Melalui refleksi tersebut, Kepala BPOM mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperkuat persatuan, meneladani akhlak Rasulullah, serta membangun Indonesia yang sehat dan berkeadaban menuju 2045.***