
KabarJawa.com – Danantara Indonesia berencana melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan menyederhanakan jumlah entitas dari lebih dari 1.000 menjadi sekitar 200 perusahaan. Langkah ini disebut sebagai upaya menciptakan efisiensi, transparansi, dan tata kelola yang lebih kuat di tubuh BUMN.
Managing Director Human Capital Danantara Indonesia, Agus Dwi Handaya, mengungkapkan bahwa langkah restrukturisasi ini menjadi bagian dari transformasi menyeluruh untuk memperbaiki kinerja dan daya saing BUMN.
“Restrukturisasi bukan hanya soal penyederhanaan, tetapi juga memperbaiki tata kelola, transparansi, dan integritas di seluruh lapisan,” ujarnya dalam kegiatan Leadership Day 2025 di Gedung GIK UGM, Selasa (11/11/2025).
BUMN Punya Peran Vital, Tapi Belum Efisien
Dalam pemaparannya, Agus menjelaskan bahwa BUMN masih memegang peran strategis dalam perekonomian nasional. Data menunjukkan, total aset BUMN mencapai Rp10.000 triliun, dengan pendapatan Rp3.000 triliun dan laba bersih Rp300 triliun pada 2024.
Selain itu, BUMN berkontribusi sekitar 20 persen terhadap penerimaan pajak nasional dan menyerap lebih dari 1,5 juta tenaga kerja. Namun, di balik peran besar tersebut, masih ada tantangan struktural yang membuat operasional tidak efisien.
“Dengan layer yang begitu banyak, terjadi tumpang tindih dan kompetisi sesama BUMN, bahkan dalam satu induk. Ini mengakibatkan operasional tidak efisien dan tidak kompetitif,” jelas Agus.
Danantara Akui Masih Ada Mismanagement di Tubuh BUMN
Agus secara terbuka mengakui masih adanya praktik mismanagement di sejumlah BUMN. Ia menyoroti adanya investasi publik bernilai triliunan rupiah yang dilakukan tanpa kehati-hatian, hingga berujung pada pemborosan dan penundaan proyek.
“Kami juga menyadari selama ini masih banyak terjadi mismanagement. Contohnya investasi publik dengan nilai triliunan tidak dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Project management yang lemah mengakibatkan cost over run atau project yang delay,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa BUMN masih memiliki portofolio bisnis di luar kompetensi inti, sehingga sulit bersaing.
“Pricing subsidi yang strukturnya tidak efisien serta mismatch financing antara investasi jangka panjang dan pembiayaan jangka pendek juga menjadi masalah serius. Proses restrukturisasi yang dilakukan parsial selama ini belum cukup menyelesaikan akar persoalan,” lanjutnya.
Restrukturisasi dan Transformasi Jadi Solusi Kunci
Untuk menjawab persoalan tersebut, Danantara menggerakkan dua entitas utamanya, Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Investment Management (DIM), untuk menjalankan peran sebagai pemegang saham aktif dan pengelola investasi strategis.
Melalui langkah ini, Danantara menargetkan penyederhanaan struktur BUMN menjadi sekitar 200 entitas yang lebih efisien dan kompetitif.
Agus menuturkan bahwa transformasi BUMN berfokus pada lima pilar utama, yakni business transformation, governance transformation, service transformation, leadership transformation, dan long-term value creation. Dalam aspek tata kelola, Danantara menekankan pentingnya integritas dan transparansi.
Sebagai bentuk konkret, Danantara telah memanggil 17 kantor akuntan terbesar di Indonesia untuk berkomitmen menjaga integritas audit laporan keuangan BUMN.
“Apabila ditemukan rekayasa laporan keuangan, kami akan blacklist dan mereka tidak akan lagi menjadi auditor BUMN,” tegas Agus.
Lebih jauh, Agus menekankan bahwa inti dari perubahan bukan hanya pada sistem dan struktur, tetapi juga pada kualitas kepemimpinan. Ia memperkenalkan konsep Transformational Leadership (TS Leader) yang berlandaskan dua DNA utama: profesionalisme dan nasionalisme.
“Menjadi pemimpin bukan tentang jabatan, tetapi tentang amanah untuk mengabdi bagi Indonesia. Kami ingin semua pemimpin BUMN menjadi reinkarnasi para pejuang bangsa,” ujar Agus.
Menurutnya, pemimpin BUMN ke depan harus memiliki etika tinggi, orientasi kualitas, serta jiwa nasionalisme yang kuat untuk melayani kepentingan publik.
Menuju BUMN yang Efisien dan Berdaya Saing Global
Dengan visi menjadi supreme wealth fund terbaik di dunia, Danantara berkomitmen mendorong BUMN menuju pengelolaan yang lebih korporatif, efisien, dan berkelanjutan. Restrukturisasi ini tidak hanya menjadi upaya teknis, tetapi juga transformasi budaya kerja menuju organisasi yang modern dan adaptif.
“Transformasi ini bukan mimpi instan, tetapi proses jangka panjang untuk menciptakan BUMN yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan negara,” tutup Agus. (bfn)