
KABAR JAWA – Indonesia kembali mencetak sejarah dalam dunia perfilman melalui film Believe: The Ultimate Battle, sebuah karya yang tak hanya menyajikan laga perang penuh intensitas, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan humanis para penontonnya.
Lewat narasi yang kuat dan produksi yang matang, film ini disebut-sebut telah menetapkan standar baru untuk genre aksi perang di Tanah Air.
Disutradarai oleh Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana, serta diproduksi oleh rumah kreatif Bahagia Tanpa Drama, film ini diadaptasi dari buku biografi Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto berjudul Believe – Based on a True Story of Faith, Dream, and Courage.
Tayang Serentak di Bioskop dan Dimeriahkan Nobar Eksklusif
Film Believe: The Ultimate Battle dijadwalkan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia pada 24 Juli 2025. Jaringan bioskop besar seperti XXI, CGV, Cinepolis, hingga bioskop independen akan memutar film ini untuk publik luas.
Tidak hanya itu, sebagai bagian dari rangkaian promosi sekaligus bentuk apresiasi, rumah produksi Bahagia Tanpa Drama juga menyelenggarakan program nonton bareng (nobar) eksklusif di 33 kota dan kabupaten di Indonesia.
Screening ini secara khusus menyasar keluarga prajurit dan masyarakat luas agar bisa meresapi pesan mendalam yang diangkat oleh film.
Prestasi Internasional yang Membanggakan
Film Believe tidak hanya menuai pujian di dalam negeri, tetapi juga telah meraih pengakuan bergengsi di kancah internasional.
Dalam Montreal International Film Festival 2025 di Kanada, film ini dianugerahi penghargaan Best Director, sebuah pencapaian yang mengukuhkan kualitas penyutradaraan sineas Indonesia di mata dunia.
Festival film tersebut dikenal sebagai ajang yang menonjolkan film-film dengan kekuatan narasi, orisinalitas cerita, dan dampak sosial yang kuat.
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa film Indonesia mampu bersaing di tingkat global dan membawa suara dari Timur ke panggung dunia.
Cerita Humanis di Balik Latar Perang
Walau dikemas dalam format aksi militer, kekuatan utama Believe: The Ultimate Battle justru terletak pada eksplorasi kisah keluarga yang menyentuh hati.
Cerita berfokus pada perjalanan hidup Agus (diperankan Ajil Ditto), seorang pemuda yang tumbuh dalam bayang-bayang ayahnya, Sersan Kepala Dedi (Wafda Saifan)—seorang prajurit yang lebih sering berada di medan tempur daripada di rumah.
Ditinggalkan sejak kecil, Agus dipenuhi pertanyaan akan pilihan hidup ayahnya. Namun, rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi panggilan hidup.
Agus akhirnya memilih menjadi prajurit, bukan semata karena warisan darah, tetapi karena keinginan untuk memahami makna pengabdian, tanggung jawab, dan keberanian.
Karakter Evi (Adinda Thomas), istri Agus, menjadi simbol perempuan tangguh yang tetap bertahan dalam ketidakpastian. Sedangkan Iin (Maudy Koesnaedi), ibu mertua Agus, menggambarkan ketegaran generasi sebelumnya dalam menopang keluarga yang ditinggal bertugas.
Produksi Penuh Riset dan Ketelitian
Untuk menjaga akurasi dan memperkuat nuansa sejarah, tim produksi melakukan riset intensif sebelum memulai syuting.
Lokasi, properti militer, kostum, serta suasana era 70 hingga 90-an dirancang sedetail mungkin untuk menciptakan pengalaman visual yang autentik.
Latar peristiwa berangkat dari Operasi Seroja tahun 1975 hingga operasi militer pada tahun 1999, menjadikan film ini sebagai kolaborasi antara sejarah dan seni sinema.
Film ini juga didukung oleh jajaran pemeran lintas generasi seperti Marthino Lio, Muhammad Faqih Alaydrus, hingga Yoriko Angeline.
Setiap karakter berkontribusi memperkaya dinamika cerita yang tidak hanya berkutat pada peperangan, tetapi juga keteguhan cinta dan nilai-nilai keluarga.
Menjadi Tolok Ukur Baru Bagi Film Aksi Tanah Air
Believe: The Ultimate Battle berhasil membuktikan bahwa sinema Indonesia mampu menghasilkan film laga dengan standar internasional.
Melalui sentuhan naratif yang dalam dan sinematografi yang memukau, film ini tidak hanya menghibur tetapi juga menggugah kesadaran nasionalisme.
Lebih dari itu, film ini menghadirkan refleksi mendalam akan realitas hidup keluarga para prajurit—sebuah kisah yang jarang diangkat, namun menyimpan kekuatan luar biasa.
Di balik suara tembakan dan ledakan, ada kisah cinta, kehilangan, dan keteguhan hati yang membentuk jiwa bangsa.
Dengan semangat tersebut, Believe: The Ultimate Battle diharapkan mampu menginspirasi sineas muda untuk terus menciptakan karya monumental.
Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang pengingat bahwa sinema juga bisa menjadi medium perjuangan dan perubahan.***