
KabarJawa.com – Setelah beberapa tahun berlalu, nama Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto, kembali menjadi sorotan publik.
Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sosok yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan Indonesia tersebut.
Upacara penganugerahan dilakukan di Istana Negara, Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025.
Dalam acara seremoni itu, dua anak Soeharto, yakni Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut dan Bambang Trihatmodjo, hadir untuk menerima penghargaan secara simbolis dari Presiden Prabowo.
Sejak saat itu, perbincangan publik di media sosial dan pemberitaan ramai menyoroti satu istilah Jawa yang kerap disebut para tokoh, yaitu Mikul Dhuwur Mendhem Jero.
Ungkapan ini disampaikan oleh Ketua MPR Ahmad Muzani dan kemudian kembali ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo yang menyebut bahwa nilai dalam pepatah Jawa tersebut sangatlah baik.
Lalu, apa sebenarnya makna dari Mikul Dhuwur Mendhem Jero dan mengapa istilah ini kembali menjadi pembicaraan?
Apa Arti Mikul Dhuwur Mendhem Jero?
Secara bahasa, Mikul Dhuwur Mendhem Jero berarti “menjunjung tinggi dan memendam dalam-dalam.” Berdasarkan penjelasan dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, ungkapan ini mengandung pesan moral untuk menghormati dan menjaga kehormatan orang tua, leluhur, serta pemimpin.
Mikul Dhuwur menggambarkan sikap menjunjung tinggi jasa dan kebaikan mereka yang telah berjasa dalam kehidupan kita.
Artinya, masyarakat Jawa diajarkan untuk terus mengingat, menghargai, dan mengangkat nama baik orang yang telah memberikan teladan, baik dalam keluarga maupun dalam lingkup sosial yang lebih luas.
Sementara Mendhem Jero mengandung makna memendam kesalahan atau kekurangan seseorang dalam-dalam, bukan untuk menutupi kebenaran, melainkan sebagai bentuk penghormatan agar martabatnya tetap terjaga.
Dalam filosofi Jawa, menjaga nama baik seseorang yang dihormati bukan berarti membenarkan kesalahannya, melainkan memilih untuk tidak menjadikannya bahan gunjingan atau hujatan yang bisa memperburuk citra mereka di mata publik.
Antara Menghormati dan Menjaga Martabat
Makna Mikul Dhuwur Mendhem Jero sering kali disalahpahami sebagai ajakan untuk menutupi segala kesalahan pemimpin atau orang yang dihormati.
Namun, sejatinya filosofi ini mengajarkan keseimbangan antara menghargai jasa dan tetap menjaga integritas.
Seseorang yang dihormati, entah itu pemimpin, orang tua, atau tokoh masyarakat, justru dituntut untuk menjadi teladan.
Mereka seharusnya memiliki budi pekerti yang luhur, tanggung jawab moral yang tinggi, serta sikap yang bisa dijadikan contoh oleh generasi berikutnya.
Dengan begitu, kehormatan yang dijunjung bukan hanya berasal dari status sosial, tetapi juga dari perilaku baik yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap Mikul Dhuwur dan Mendhem Jero menumbuhkan rasa hormat tanpa kehilangan objektivitas. Artinya, masyarakat diajak untuk tetap menghargai jasa orang lain sambil terus menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Nilai Moral dalam Kehidupan Sosial
Filosofi Mikul Dhuwur Mendhem Jero memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan modern. Nilai yang terkandung di dalamnya bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga panduan etika sosial yang menumbuhkan kebijaksanaan dalam bersikap.
Dalam praktiknya, berdasarkan filosofi ini, maka dapat diketahui bahwa seseorang diajak supaya tidak mudah menghakimi atau mempermalukan seseorang di ruang publik, terutama jika orang tersebut pernah berjasa.
Sebaliknya, kebaikan mereka tetap diingat dan dihormati, sementara kekurangannya dijadikan pelajaran agar generasi berikutnya bisa memperbaiki diri.
Dengan demikian, arti filosofis Mikul Dhuwur Mendhem Jero adalah mengajarkan bahwa menjaga kehormatan bukan berarti menghapus sejarah, tetapi menghargai nilai-nilai kebaikan yang pernah diwariskan.***