Arti Mikul Dhuwur Mendhem Jero, Istilah Ramai Disebut Usai Soeharto Resmi Jadi Pahlawan Nasional

Bagikan :
Mikul Dhuwur Mendhem Jero kini jadi istilah yang ramai disebut setelah Presiden ke-2 RI, Soeharto resmi jadi pahlawan nasional (Instagram//@titieksoeharto)

KabarJawa.com – Setelah beberapa tahun berlalu, nama Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto, kembali menjadi sorotan publik.

Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sosok yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan Indonesia tersebut.

Upacara penganugerahan dilakukan di Istana Negara, Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025.

Dalam acara seremoni itu, dua anak Soeharto, yakni Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut dan Bambang Trihatmodjo, hadir untuk menerima penghargaan secara simbolis dari Presiden Prabowo.

Sejak saat itu, perbincangan publik di media sosial dan pemberitaan ramai menyoroti satu istilah Jawa yang kerap disebut para tokoh, yaitu Mikul Dhuwur Mendhem Jero.

Ungkapan ini disampaikan oleh Ketua MPR Ahmad Muzani dan kemudian kembali ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo yang menyebut bahwa nilai dalam pepatah Jawa tersebut sangatlah baik.

Lalu, apa sebenarnya makna dari Mikul Dhuwur Mendhem Jero dan mengapa istilah ini kembali menjadi pembicaraan?

Apa Arti Mikul Dhuwur Mendhem Jero?

Secara bahasa, Mikul Dhuwur Mendhem Jero berarti “menjunjung tinggi dan memendam dalam-dalam.” Berdasarkan penjelasan dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, ungkapan ini mengandung pesan moral untuk menghormati dan menjaga kehormatan orang tua, leluhur, serta pemimpin.

Baca juga  Titik Sebaran Sesar di Pulau Jawa Terbaru: Ada di Mana Saja?

Mikul Dhuwur menggambarkan sikap menjunjung tinggi jasa dan kebaikan mereka yang telah berjasa dalam kehidupan kita.

Artinya, masyarakat Jawa diajarkan untuk terus mengingat, menghargai, dan mengangkat nama baik orang yang telah memberikan teladan, baik dalam keluarga maupun dalam lingkup sosial yang lebih luas.

Sementara Mendhem Jero mengandung makna memendam kesalahan atau kekurangan seseorang dalam-dalam, bukan untuk menutupi kebenaran, melainkan sebagai bentuk penghormatan agar martabatnya tetap terjaga.

Dalam filosofi Jawa, menjaga nama baik seseorang yang dihormati bukan berarti membenarkan kesalahannya, melainkan memilih untuk tidak menjadikannya bahan gunjingan atau hujatan yang bisa memperburuk citra mereka di mata publik.

Antara Menghormati dan Menjaga Martabat

Makna Mikul Dhuwur Mendhem Jero sering kali disalahpahami sebagai ajakan untuk menutupi segala kesalahan pemimpin atau orang yang dihormati.

Namun, sejatinya filosofi ini mengajarkan keseimbangan antara menghargai jasa dan tetap menjaga integritas.

Seseorang yang dihormati, entah itu pemimpin, orang tua, atau tokoh masyarakat, justru dituntut untuk menjadi teladan.

Mereka seharusnya memiliki budi pekerti yang luhur, tanggung jawab moral yang tinggi, serta sikap yang bisa dijadikan contoh oleh generasi berikutnya.

Baca juga  Forum Kesehatan Genomik 2025: Indonesia-Inggris Sepakati Kemitraan Strategis di Bidang Inovasi Kesehatan Global

Dengan begitu, kehormatan yang dijunjung bukan hanya berasal dari status sosial, tetapi juga dari perilaku baik yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap Mikul Dhuwur dan Mendhem Jero menumbuhkan rasa hormat tanpa kehilangan objektivitas. Artinya, masyarakat diajak untuk tetap menghargai jasa orang lain sambil terus menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Nilai Moral dalam Kehidupan Sosial

Filosofi Mikul Dhuwur Mendhem Jero memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan modern. Nilai yang terkandung di dalamnya bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga panduan etika sosial yang menumbuhkan kebijaksanaan dalam bersikap.

Dalam praktiknya, berdasarkan filosofi ini, maka dapat diketahui bahwa seseorang diajak supaya tidak mudah menghakimi atau mempermalukan seseorang di ruang publik, terutama jika orang tersebut pernah berjasa.

Sebaliknya, kebaikan mereka tetap diingat dan dihormati, sementara kekurangannya dijadikan pelajaran agar generasi berikutnya bisa memperbaiki diri.

Dengan demikian, arti filosofis Mikul Dhuwur Mendhem Jero adalah mengajarkan bahwa menjaga kehormatan bukan berarti menghapus sejarah, tetapi menghargai nilai-nilai kebaikan yang pernah diwariskan.***

Baca juga  Bantuan Sosial April 2025: Program Pemerintah untuk Meringankan Beban Masyarakat Jelang Idul Fitri

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
tiktok-5064078_1280
Ramai di TikTok, Warung Madura Baju Kuning Viral, Apa Isi Kontennya?
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya