
Kabar Jawa – Seruan mengejutkan datang dari kalangan ulama Muslim dunia yang tergabung dalam Persatuan Ulama Muslim Internasional (International Union of Muslim Scholars atau IUMS), yang baru-baru ini mengeluarkan fatwa besar menyerukan jihad terhadap Israel.
Fatwa ini dirilis sebagai respons atas agresi militer Israel yang terus berlangsung ke Jalur Gaza sejak Oktober 2023, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sekretaris Jenderal IUMS, Ali Al Qaradaghi, menjadi tokoh utama dalam menyampaikan seruan tersebut.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa seluruh negara berpenduduk mayoritas Muslim memiliki tanggung jawab moral dan keagamaan untuk segera melakukan intervensi, baik secara politik, ekonomi, maupun militer, guna menghentikan pembantaian dan kehancuran total yang dialami rakyat Palestina.
“Ketidakmampuan pemerintah Arab dan negara Islam dalam melindungi Gaza dari kehancuran merupakan pelanggaran besar menurut hukum Islam,” ungkap Qaradaghi dalam fatwa resmi yang terdiri dari 15 poin penting.
Ia juga menegaskan bahwa mendukung Israel, baik secara langsung maupun tidak langsung, merupakan tindakan yang diharamkan dalam Islam.
Fatwa ini menyebutkan secara eksplisit bahwa memberikan dukungan dalam bentuk apa pun kepada Israel—baik melalui penjualan senjata, penggunaan jalur transportasi seperti Terusan Suez, Selat Hormuz, atau Bab Al-Mandab—merupakan perbuatan yang diharamkan.
Sebagai bentuk aksi konkret, IUMS juga menyerukan pemblokiran jalur laut, darat, dan udara terhadap Israel oleh seluruh negara Muslim.
Seruan Fatwa untuk Perangi Israel
Fatwa ini bukan hanya sekadar dokumen keagamaan, tetapi juga menjadi bentuk perlawanan simbolis yang menandakan semakin kuatnya suara dari dunia Islam terhadap agresi yang terus berlangsung di Palestina.
Bahkan, para ulama yang mendukung fatwa ini menyerukan agar negara-negara Muslim meninjau ulang seluruh bentuk kerja sama dan perjanjian damai dengan Israel.
Dukungan terhadap fatwa ini datang dari berbagai kalangan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, KH Sudarnoto Abdul Hakim, menyatakan bahwa pihaknya mendukung penuh langkah IUMS tersebut.
Ia menambahkan bahwa fatwa ini sejalan dengan hasil Ijtima Ulama MUI yang juga menegaskan kewajiban umat Islam untuk membela Palestina.
“Sudah terlalu lama penjajahan dan genosida ini berlangsung. Fatwa ini adalah bentuk panggilan untuk bertindak, bukan hanya berbicara,” tegas Kiai Sudarnoto. Ia juga menyerukan agar Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera melakukan konsolidasi kekuatan demi menghentikan kekejaman yang dilakukan oleh Israel.
Fatwa ini menjadi lebih kuat karena didukung oleh warisan ulama besar Syekh Yusuf Al Qaradawi, pendiri IUMS yang telah wafat pada 2022.
Ulama yang dikenal luas di kalangan Muslim Sunni ini meninggalkan pengaruh besar terhadap pemikiran keislaman kontemporer, khususnya dalam hal pembelaan terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Dalam kesempatan yang sama, Qaradaghi menyerukan agar komunitas Muslim di negara-negara Barat, khususnya di Amerika Serikat, menggunakan pengaruh politik mereka untuk menekan pemerintah, terutama kepada Presiden Donald Trump, agar mengambil sikap yang jelas dalam menghentikan agresi Israel.
Fatwa ini tidak hanya berdampak pada kalangan religius, namun juga menggugah reaksi politik dan kemanusiaan global.
Dengan jumlah umat Islam dunia yang mencapai lebih dari 1,7 miliar jiwa, fatwa ini berpotensi menjadi kekuatan moral dan strategis dalam menekan kekuatan internasional untuk bertindak menghentikan krisis kemanusiaan yang terjadi di Jalur Gaza.
Dukungan MUI
MUI pun menambahkan, dalam keputusan ijtima sebelumnya telah disampaikan bahwa pengiriman pasukan untuk melindungi rakyat Gaza dari genosida harus menjadi opsi yang dikaji secara serius oleh negara-negara Muslim.
Tidak hanya itu, MUI juga menegaskan bahwa teror dan kekejaman yang dilakukan Israel adalah bentuk kejahatan kemanusiaan terbesar di abad ini.
“Jika dunia Islam tidak bersatu sekarang, maka kehancuran yang lebih besar akan menanti kita semua,” tutup Sudarnoto dengan penuh ketegasan dikutip KabarJawa dari berbagai sumber.
***