
Kabar Jawa – Di jantung Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, tersembunyi sebuah situs purbakala yang tak hanya menyimpan keindahan alam, tetapi juga sarat akan nilai sejarah dan spiritualitas.
Tempat tersebut dikenal dengan nama Tuk Bima Lukar, sebuah mata air yang menjadi sumber dari Sungai Serayu, salah satu sungai besar yang mengalir melintasi Jawa Tengah bagian barat.
Di balik kesunyian dan kejernihan airnya, Tuk Bima Lukar menyimpan kisah yang menggabungkan mitos pewayangan, kepercayaan masyarakat setempat, hingga jejak peninggalan masa Hindu-Buddha.
Sejarah dan Asal-Usul Nama Tuk Bima Lukar
Nama Tuk Bima Lukar berasal dari gabungan kata dalam bahasa Jawa. Kata “tuk” berarti mata air, sedangkan “Bima” merujuk pada salah satu tokoh Pandawa Lima dalam cerita pewayangan, yakni Bimasena atau Werkudara.
Sementara itu, “lukar” berarti tanpa busana atau telanjang, yang merujuk pada legenda ketika Bima dan saudara-saudaranya berada dalam kondisi melepas pakaian dalam suatu perlombaan membuat sungai.
Konon, pada masa kerajaan Hindu dahulu, Pandawa dan Kurawa berlomba menggali sungai dengan alat vital mereka. Bima keluar sebagai pemenang dalam perlombaan tersebut.
Setelah berhasil membuat aliran sungai, ia terpana melihat seorang gadis cantik dan spontan mengucapkan kata “Sira ayu” yang berarti “Kamu cantik” dalam bahasa Jawa. Dari ucapan tersebut, dipercaya lahir nama Sungai Serayu.
Legenda inilah yang kemudian melekat pada mata air yang menjadi hulu sungai tersebut, dan akhirnya dinamakan Tuk Bima Lukar.
Kepercayaan masyarakat setempat terhadap kisah ini begitu kuat, hingga menjadikannya sebagai bagian penting dalam sejarah lisan Dieng.
Struktur Situs dan Fungsi Spiritual
Situs Tuk Bima Lukar dibangun dengan arsitektur sederhana namun penuh makna. Bangunannya terdiri dari tiga tingkatan undakan. Undakan paling atas digunakan untuk menaruh sesaji dan dianggap sebagai bagian yang paling suci. Di tingkat menengah, terdapat kolam penampungan air yang mengalir dari sumber utama.
Sementara pada undakan paling bawah terdapat dua buah pancuran, yang hingga kini masih mengalirkan air jernih tanpa henti.
Masyarakat setempat dan para pengunjung kerap menggunakan air dari pancuran tersebut untuk mencuci muka atau mandi.
Diyakini bahwa air dari Tuk Bima Lukar memiliki kekuatan spiritual yang dapat menjaga kecantikan, memberikan keberuntungan, dan membuat seseorang menjadi awet muda. Meski tidak semua orang mempercayainya secara harfiah, mitos ini tetap menjadi bagian penting dari daya tarik tempat ini.
Kaitan dengan Percandian Dieng
Tuk Bima Lukar tidak dapat dipisahkan dari kompleks percandian Dieng yang terletak tak jauh dari situs ini. Menurut informasi yang tercantum dalam papan petunjuk wisata setempat, mata air ini diyakini sudah ada sejak era Kerajaan Mataram Kuno.
Dahulu, tempat ini berfungsi sebagai petirtaan atau tempat penyucian diri sebelum seseorang memasuki area suci candi untuk beribadah.
Keberadaan Tuk Bima Lukar sebagai tempat pembersihan diri menunjukkan betapa pentingnya air dalam ritual keagamaan Hindu.
Hingga kini, tradisi penyucian dengan menggunakan air dari tempat ini masih dipertahankan oleh masyarakat sekitar, terutama saat perayaan atau upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan Hindu dan budaya lokal.
Lokasi yang Kerap Terlewat, Namun Penuh Makna
Meski letaknya berada di pinggir jalan dan agak tersembunyi, Tuk Bima Lukar kerap tidak disadari oleh sebagian wisatawan yang berkunjung ke Dieng.
Padahal, nilai sejarah dan aura spiritual yang dimilikinya sangat kuat. Situs ini bahkan tercatat sebagai salah satu objek wisata budaya yang dilindungi dan menjadi warisan penting dalam peta wisata Wonosobo.
Keberadaan Tuk Bima Lukar sering kali tenggelam oleh gemerlap tempat-tempat wisata populer lainnya di kawasan Dieng.
Namun bagi mereka yang tertarik dengan perjalanan spiritual, kisah pewayangan, dan peninggalan sejarah, mata air ini menawarkan pengalaman yang berbeda—sebuah pertemuan antara mitologi, sejarah, dan kenyataan.
Tuk Bima Lukar adalah lebih dari sekadar mata air. Ia adalah jejak dari narasi kuno yang hidup melalui tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat.
Di tempat ini, sejarah dan mitos berpadu, menciptakan lanskap budaya yang menawan sekaligus menenangkan.
Siapa pun yang berkunjung ke Tuk Bima Lukar akan merasakan kesejukan bukan hanya dari airnya, tetapi juga dari kisah panjang yang mengalir bersamanya—seperti Sungai Serayu yang terus mengalir membawa cerita dari masa lalu menuju masa kini.
***