
KABAR JAWA – Baru-baru ini, istilah Gowok mendadak ramai menjadi omongan di berbagai platform media sosial (medsos).
Penyebab utamanya adalah adanya pengumuman film terbaru berjudul Gowok: Kamasutra Jawa.
Film ini dijadwalkan tayang pada 5 Juni 2025 dan tak hanya menampilkan deretan aktor dan aktris ternama seperti Reza Rahadian, Raihaanun, Lola Amaria, Devano Danendra, dan Slamet Rahardjo.
Akan tetapi, kisahnya juga dilatarbelakangi dengan tradisi kuno Jawa yang jarang diketahui publik.
Maka tak heran jika banyak warganet penasaran, apa sebenarnya arti dari kata Gowok?
Arti Gowok dalam Tradisi Jawa Kuno
Istilah Gowok memiliki akar sejarah panjang dan pernah menjadi bagian dari semacam sistem pendidikan di masa lampau.
Gowok adalah sebutan bagi seorang perempuan dewasa yang ditugaskan untuk membimbing laki-laki muda sebelum memasuki kehidupan pernikahan.
Tugas gowok sendiri adalah mengajarkan nilai-nilai kedewasaan, tanggung jawab dalam membina rumah tangga, hingga urusan suami-istri.
Biasanya, perempuan yang berperan sebagai gowok berada dalam rentang usia 23 hingga 30 tahun, dan berasal dari kalangan ronggeng atau penari tradisional yang memiliki pengalaman hidup luas serta pemahaman tentang relasi pasangan.
Tak hanya menjadi pendidik, gowok juga berperan sebagai mentor yang membentuk karakter dan kesiapan psikologis laki-laki muda.
Dalam praktiknya, interaksi antara gowok dan laki-laki yang dibimbingnya disebut gowokan.
Lebih tepatnya yakni sebuah hubungan pembelajaran intensif yang bersifat privat.
Tujuannya agar si pria memiliki kesiapan mental, emosional, dan fisik untuk menjalani kehidupan pernikahan.
Asal Usul Nama Gowok
Catatan sejarah menyebutkan bahwa istilah Gowok sudah ada sejak abad ke-15 Masehi.
Ada pula narasi yang menyebut bahwa nama tersebut berasal dari sosok legendaris bernama Goo Wok Niang.
Ia dikisahkan datang ke Pulau Jawa bersama rombongan Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho.
Dalam perjalanan sejarah tersebut, Goo Wok Niang dikenal sebagai perempuan yang membawa pengaruh budaya dalam hal pendidikan pranikah bagi pria Jawa pada masa itu.
Dari sinilah lahir praktik sosial yang kemudian berkembang menjadi tradisi Gowokan, sebelum akhirnya terkikis oleh perubahan zaman dan nilai-nilai modern.
Film Gowok di Mata Dunia
Dalam konteks film, menariknya, sebelum Gowok: Kamasutra Jawa rilis resmi di Indonesia, karya sinematik ini telah lebih dulu diputar di kancah internasional.
Film ini berhasil masuk dalam kompetisi Big Screen Competition pada ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR) ke-54 yang diselenggarakan pada Februari 2025.
Masuknya film ini dalam festival bergengsi dunia menunjukkan bahwa kisah-kisah lokal yang diangkat dengan pendekatan artistik mampu menembus batas budaya dan menarik perhatian penonton global.
Film tersebut kini dinilai menjadi medium dalam memperkenalkan sisi-sisi budaya Jawa yang jarang terangkat, sekaligus menggugah cakrawala pengetahuan masyarakat akan adanya tradisi Gowok.
Perempuan Pembimbing Laki-laki Muda
Jika ditarik garis besar, Gowok termasuk simbol sistem pendidikan tradisional Jawa kuno yang menekankan pentingnya kesiapan mental dan moral sebelum membina rumah tangga.
Jadi, ketika orang bertanya “apa arti Gowok?”, jawabannya adalah seorang perempuan pembimbing pria yang hendak menikah.
Dan ia tergolong salah satu tradisi kuno yang kemungkinan saat ini sudah punah karena sensitif serta menuai pro kontra.***