
KABAR JAWA – Di Yogyakarta, sebuah peristiwa yang lebih dari sekadar peringatan berlangsung dengan semangat yang begitu kuat: Napak Tilas Djalan Dewantara.
Ratusan orang berkumpul bukan hanya untuk mengenang tokoh besar pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga untuk mengalami kembali dan menghidupkan nilai-nilai perjuangannya.
Kegiatan ini menjadi semacam perjalanan batiniah, bukan sekadar jalan kaki menuju makam, namun sebuah refleksi mendalam tentang pendidikan dan kemanusiaan.
Perjalanan dimulai dari Museum Dewantara Kirti Griya menuju Taman Wijaya Brata, tempat peristirahatan terakhir Ki Hadjar Dewantara.
Di sepanjang jalan, para peserta tidak hanya melangkah secara fisik, tetapi juga diajak menapaki pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara melalui kutipan-kutipan bijaknya yang dibacakan sembari berdiskusi ringan.
Aulia, seorang peserta asal Cirebon, menggambarkan kegiatan ini bukan hanya sekadar sowan kepada seorang tokoh besar, melainkan sebuah “sowan laku” perjalanan untuk menilai ulang makna sejati dari pendidikan.
Ia mengaku bahwa pengalaman ini menggugah pikirannya untuk mempertanyakan apakah sistem sekolah saat ini benar-benar mendidik, atau sekadar mempersiapkan siswa untuk ujian.
Di tengah museum, terdapat sebuah instalasi edukatif yang unik dan simbolik bernama Kelas Tanpa Meja. Ruang ini tidak memiliki kursi, papan tulis, atau struktur formal lainnya.
Sebagai gantinya, pengunjung duduk di atas tikar, berdiskusi, membaca buku, dan menyimak poster-poster edukatif. Tujuannya adalah menciptakan suasana belajar yang cair, terbuka, dan merdeka melintasi usia dan latar belakang.
Menurut Shintia, Ketua Panitia dari Komunitas Cakra Dewantara yang menjadi penggerak acara, model seperti ini seharusnya dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah formal. Ia menegaskan bahwa sekolah mestinya menjadi ruang yang membangkitkan rasa ingin tahu, bukan sekadar tempat menumpuk nilai dan angka.

Salah satu ruang yang paling hidup adalah Sesarehan Pendidikan. Di sinilah terjadi pertukaran gagasan antar komunitas pendidikan dari berbagai daerah.
Meski disebut pasar, ini bukan tempat jual-beli barang, melainkan pasar ide dan pemikiran. Buku-buku, zine, dan diskusi kilat tentang metode pendidikan alternatif menjadi sajian utama.
Aktivitasnya pun beragam dari pembacaan puisi, pertunjukan musik tradisional, tarian, teater, hingga kelas terbuka di alam yang mengajak peserta belajar langsung dari lingkungan sekitar.
Ki Tikno, seorang pegiat literasi dan seni dari Tamansiswa, menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi tanggung jawab kolektif masyarakat, bukan semata tugas sekolah dan guru.
Puncak acara digelar di Pendapa Agung Taman Siswa, yang mengusung konsep kesetaraan. Tidak ada panggung megah atau kursi khusus bagi pejabat.
Semua orang duduk sejajar siswa, seniman, guru, hingga warga sekitar menyaksikan pertunjukan seni kolaboratif yang menyentuh hati.
Musik, tarian, dan puisi menjadi wadah ekspresi kebersamaan. Filosofi Jawa “Adigang-adigung ora perlu, sing penting guyub rukun” menjadi prinsip utama: tak perlu merasa lebih tinggi, yang penting adalah hidup rukun dan saling menghargai. Semangat ini mencerminkan nilai-nilai asli Taman Siswa, yaitu kesetaraan dan kebersamaan dalam belajar.
Selama acara berlangsung, suasana Museum Dewantara Kirti Griya dipenuhi perbincangan mendalam. Anak-anak muda, guru, seniman, hingga masyarakat umum menyuarakan keresahan dan harapan tentang sistem pendidikan Indonesia.
Banyak yang menyadari bahwa pendidikan hari ini masih belum menyentuh esensinya. Murid diajarkan untuk mengejar angka, bukan mengenal diri.
Guru terjebak dalam tumpukan administrasi, hingga lupa untuk hadir sepenuh hati di hadapan murid-murid mereka. Favian, salah satu panitia, mengatakan dengan tegas bahwa pendidikan bukan sekadar proyek atau laporan. Pendidikan adalah kehidupan yang perlu disayangi dan dipandu dengan cinta.
Meski Pekan Dewantara 2025 telah usai, gaungnya masih terasa. Sekolah-sekolah masih menjadi medan perjuangan panjang.
Namun, selagi masih ada ruang seperti ini ruang yang menghidupkan kembali semangat dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara maka harapan untuk pendidikan Indonesia masih menyala.
Ki Hadjar tidak cukup hanya dikenang setiap tanggal 2 Mei. Gagasan dan semangatnya harus terus dihidupkan, dijalankan, dan diwujudkan dalam praktik sehari-hari di ruang kelas, di rumah, dan di tengah masyarakat.
Seperti yang diyakini oleh para penggiat di Pekan Dewantara:
“Pendidikan adalah proses mencintai manusia.”
Dan selama cinta itu masih ada, pendidikan Indonesia masih punya masa depan.***