
KabarJawa.com– Di antara lalu lintas kota dan hiruk pikuk kehidupan modern, Masjid Syuhada berdiri tegak sebagai penjaga ingatan.
Bangunan ini tidak sekadar memanggil jamaah untuk bersujud, tetapi juga mengajak setiap mata yang memandangnya untuk menengok kembali sejarah panjang perjuangan bangsa.
Kini, masjid yang menjadi saksi bisu heroisme para pejuang itu sedang menjalani proses renovasi besar.
Renovasi Masjid Syuhada Kotabaru
Namun, renovasi ini tidak menghadirkan wajah baru yang asing. Para pengelola justru mengajak bangunan ini pulang ke masa lalunya, tepat ke tahun 1952, saat Masjid Syuhada pertama kali menjejakkan kakinya di jantung Yogyakarta.
Renovasi tersebut menghadirkan nuansa romantis sekaligus penuh tanggung jawab. Para perencana tidak sekadar memperbaiki dinding atau mengganti struktur yang rapuh.
Mereka berusaha menghidupkan kembali jiwa bangunan sebagaimana cita-cita para pendirinya, termasuk gagasan besar dari Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis (Satker PPS) DIY, Haryo Satriyawan, menegaskan bahwa proyek ini memikul makna yang jauh melampaui urusan konstruksi.
Ia menyebut renovasi Masjid Syuhada sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan nilai perjuangan.
“Masjid Syuhada ini direnovasi supaya menjadi bangunan yang megah seperti pada saat awal dibangun dulu, tahun 1952. Jadi, kami mengembalikan kemegahannya pada saat di awal,” ujar Haryo.
Masjid Syuhada menyandang status Cagar Budaya Nasional. Status tersebut menempatkan bangunan ini sebagai pusaka bangsa yang tidak boleh diperlakukan sembarangan.
Setiap detail renovasi harus melalui proses panjang dan penuh kehati-hatian. Tidak satu pun keputusan diambil secara instan.
Haryo menjelaskan bahwa seluruh pekerjaan rehabilitasi dan renovasi harus mendapatkan persetujuan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.
Tim pelaksana tidak bisa asal mengelupas cat atau mengecat ulang tembok tanpa rekomendasi resmi. Setiap lapisan dinding menyimpan cerita, dan setiap goresan baru harus menghormati cerita lama.
“Tata cara pengelupasan cat atau pengecatan tembok pun harus melalui persetujuan,” jelasnya.
Kode Sejarah
Upaya mengembalikan wajah asli Masjid Syuhada bukan tanpa alasan. Bangunan ini menyimpan rancangan arsitektur yang sarat makna, patriotisme, dan simbol kebangsaan.
Soekarno tidak hanya memimpikan sebuah tempat ibadah. Ia menginginkan sebuah monumen spiritual untuk mengenang para syuhada yang gugur demi kemerdekaan.
Konon, sang Proklamator berharap masjid ini memiliki keindahan yang setara dengan Taj Mahal. Ia menanamkan pesan kemerdekaan ke dalam setiap elemen bangunan. Pesan itu tidak berteriak, tetapi berbisik lewat angka dan bentuk.
Masjid Syuhada menyimpan kode kecil yang menyatu rapi dengan arsitekturnya. Tujuh belas anak tangga utama menyambut jamaah sejak langkah pertama.
Delapan sisi tiang gapura berdiri kokoh mengapit pintu masuk. Empat kupel di bagian bawah dan lima kupel di bagian atas melengkapi harmoni bentuk.
Rangkaian angka itu membentuk simbol abadi Proklamasi 17-8-1945. Batu dan semen di masjid ini tidak hanya menopang bangunan, tetapi juga menopang ingatan kolektif bangsa.
Di ruang bawah, dua puluh jendela berjajar dengan rapi. Angka itu melambangkan 20 sifat wajib Allah.
Arsitektur Masjid Syuhada menyatukan nilai ketuhanan, kebudayaan, dan nasionalisme dalam satu tarikan napas. Bangunan ini mengajarkan bahwa iman dan cinta tanah air dapat berjalan berdampingan.
Sejak awal Januari 2026, para pekerja mulai mengisi halaman dan sudut-sudut masjid dengan aktivitas renovasi.
Meski begitu, pengelola memastikan denyut spiritual Masjid Syuhada tetap hidup. Renovasi tidak mengusik kekhusyukan ibadah.
Haryo menegaskan bahwa kegiatan peribadatan tetap berjalan normal. Jamaah masih melaksanakan salat lima waktu seperti biasa. Masjid Syuhada juga tetap menggelar salat Jumat tanpa jeda.
“Pembangunan Masjid Syuhada ini tidak mengganggu proses kegiatan peribadatan. Salat Jumat tetap berlangsung, begitu juga salat lima waktu,” tegasnya.
Renovasi ini mengajarkan bahwa merawat bangunan bersejarah berarti merawat ingatan, nilai, dan identitas. (ef linangkung)