
Kabarjawa – Pasar Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi saksi kericuhan pagi ini akibat perbedaan harga jual daging ayam.
Seorang pedagang bernama Tri Wahyudi diduga menjual dengan harga jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran, sehingga menimbulkan kemarahan pedagang lainnya.
Aksi ini mencerminkan ketegangan yang terjadi dalam persaingan bisnis di pasar tradisional, terutama terkait stabilitas harga dan persaingan usaha.
Ketegangan Akibat Perbedaan Harga
Peristiwa ini terjadi di salah satu lapak daging ayam di belakang Pasar Wates. Sejumlah pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Ayam Pasar Wates menggeruduk lapak milik Tri Wahyudi karena dianggap menjual daging ayam dengan harga lebih rendah dari standar pasar.
Para pedagang yang mayoritas ibu-ibu meluapkan kekesalan mereka dengan mendatangi lapak Tri Wahyudi dan meminta agar ia mengikuti harga pasaran.
Harga standar daging ayam di Pasar Wates berkisar antara Rp 34.000 hingga Rp 35.000 per kilogram. Namun, Tri Wahyudi menjualnya dengan harga Rp 28.000 per kilogram, jauh di bawah harga pasar.
Hal ini menimbulkan kegelisahan di antara pedagang lainnya yang mengaku mengalami penurunan omzet hingga 60 persen akibat perbedaan harga yang signifikan tersebut.
Reaksi Paguyuban Pedagang
Ketua Paguyuban Pedagang Ayam Pasar Wates, Zidni Rohmah, menyatakan bahwa para pedagang telah memberikan peringatan kepada Tri Wahyudi agar menyesuaikan harga jualnya.
Namun, Tri tetap bertahan dengan harga murahnya. Pihak paguyuban juga telah melaporkan permasalahan ini kepada dinas terkait, tetapi tidak mendapat tindakan yang konkret.
Zidni menambahkan bahwa kehadiran Tri Wahyudi yang berasal dari Bantul juga dinilai mengganggu stabilitas distribusi harga di Pasar Wates. Ia menegaskan bahwa para pedagang setempat telah berusaha menjaga harga agar tetap stabil sesuai kesepakatan.
Pembelaan Tri Wahyudi
Menanggapi aksi protes tersebut, Tri Wahyudi menegaskan bahwa harga yang ia tetapkan masih dalam batas wajar, yakni sekitar Rp 30.000 hingga Rp 32.000 per kilogram. Ia menjelaskan bahwa dirinya hanya bekerja sebagai karyawan dan memperoleh pasokan ayam langsung dari juragan di Bantul, yang memang memiliki harga lebih murah dibandingkan Pasar Wates.
Tri juga mengungkapkan bahwa ia mampu menjual habis sekitar 50 ekor ayam per hari dengan harga yang lebih rendah.
Ia pun merasa heran mengapa di Pasar Wates terjadi aksi penolakan, sementara di lapaknya yang lain di Jombokan, Tawangsari, Pengasih, tidak ada masalah.
Kericuhan yang terjadi di Pasar Wates mencerminkan ketegangan yang kerap muncul dalam dunia usaha, khususnya di sektor perdagangan tradisional.
Perbedaan harga yang signifikan dapat memicu konflik antar pedagang, terutama ketika ada pihak yang merasa dirugikan.
Dalam hal ini, perlu adanya regulasi dan solusi dari pihak berwenang agar persaingan tetap sehat tanpa merugikan salah satu pihak.
Akibat aksi protes tersebut, Tri Wahyudi akhirnya memutuskan untuk membawa seluruh dagangannya dan pindah ke lokasi lain.(Kabarjawa)