
Kabarjawa – Jemaah Aboge di Kabupaten Probolinggo menjalankan tradisi keagamaan yang sudah diwariskan turun-temurun. Pada tahun 2025 ini, mereka melaksanakan Salat Idul Fitri lebih awal dibandingkan dengan mayoritas umat Islam di Indonesia.
Salat Id berlangsung pada Selasa, 1 April 2025, di Musala Al-Barokah, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Leces.
Sejak pagi hari, halaman musala dan rumah-rumah warga dipenuhi oleh para jemaah yang setia dengan perhitungan kalender Islam Jawa.
Mereka berkumpul untuk melaksanakan ibadah dengan penuh khusyuk sesuai dengan hitungan yang telah mereka anut sejak lama.
Metode Perhitungan Jemaah Aboge
Jemaah Aboge menggunakan sistem perhitungan Alif Rabu Wage (Aboge) yang berpedoman pada kitab Mujarobah dan kalender Jawa kuno.
Berdasarkan metode ini, 1 Syawal 1446 Hijriyah jatuh pada Selasa Pon, 1 April 2025. Penentuan tersebut mengikuti rumus “Waljiro” (Syawal Siji Loro), di mana hari pertama Idul Fitri jatuh pada pasaran kedua setelah 1 Muharam.
Perhitungan ini berasal dari tradisi turun-temurun yang telah diterapkan oleh nenek moyang mereka. Tahun ini, 1 Muharam atau 1 Suro bertepatan dengan Selasa Pahing (Je/Za Sahing). Oleh karena itu, 1 Syawal jatuh pada Selasa Pon sesuai aturan hitungan mereka.
Konsistensi dalam Menjalankan Ibadah
Bagi jemaah Aboge, menjalankan ibadah berdasarkan perhitungan ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bentuk konsistensi dan istiqomah dalam beragama.
Salah satu tokoh agama setempat, Ustaz Buri Bariyah, menegaskan bahwa meskipun berbeda dalam perhitungan kalender, tata cara salat, doa, dan ajaran Islam yang mereka jalankan tetap sama dengan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Menurut Ustaz Buri, metode perhitungan ini bukanlah hal baru, melainkan sudah diterapkan sejak lama. Keyakinan mereka terhadap hitungan Jawa kuno telah diwariskan secara turun-temurun dan terus digunakan hingga saat ini.
Perayaan Idul Fitri oleh jemaah Aboge di Kabupaten Probolinggo menunjukkan keberagaman dalam praktik keagamaan di Indonesia.
Meskipun ada perbedaan dalam perhitungan hari besar Islam, esensi ibadah dan nilai-nilai keimanan tetap terjaga. Perbedaan ini memperkaya keberagaman budaya dan tradisi Islam yang ada di Nusantara.(Kabarjawa)