
KabarJawa.com – Peristiwa memilukan terjadi di Pondok Pesantren Syalafiyah Syafi’iyyah Syekh Abdul Qodir Jaelani yang berlokasi di Dusun Rawan, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Pada Rabu (29/10) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, atap bangunan asrama putri tiba-tiba ambruk ketika para santri tengah beristirahat di dalam kamar.
Sontak, suasana malam yang tenang seketika berubah menjadi kepanikan ketika reruntuhan menimpa para santriwati di dalam asrama tersebut.
Jumlah Korban dan Kondisi Terkini
Insiden ini mengakibatkan total 19 santriwati menjadi korban. Dari jumlah tersebut, 1 orang santri meninggal dunia, 4 lainnya mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara 14 santri lainnya menderita luka ringan akibat tertimpa reruntuhan atap dan genteng.
Berdasarkan laporan terbaru, korban meninggal diketahui merupakan santriwati berinisial P, warga Dusun Rawan, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki.
Kabarnya pihak BPBD Provinsi Jawa Timur dan BPBD Kabupaten Situbondo langsung bergerak cepat ke lokasi kejadian untuk melakukan assessment, evakuasi korban, serta berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait.
Dugaan Awal Penyebab Ambruknya Bangunan
Berdasarkan laporan sementara, insiden ini terjadi setelah wilayah Besuki diguyur hujan deras disertai angin kencang.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut diduga menjadi penyebab awal yang turut berperan dalam melemahkan struktur atap bangunan yang kemudian roboh pada dini hari.
Meski begitu, penyebab pasti ambruknya atap asrama belum dapat dipastikan. Saat ini, pihak kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk memastikan apakah ada faktor lain yang turut berkontribusi terhadap keruntuhan bangunan.
Tindakan Pihak Kepolisian dan Pemerintah
Untuk mendapatkan hasil penyelidikan yang objektif, kabarnya pihak kepolisian berencana mendatangkan ahli bangunan yang akan meneliti secara teknis struktur asrama tersebut.
Tim Inafis Polres Situbondo juga telah dikerahkan guna memeriksa reruntuhan dan mengumpulkan bukti terkait penyebab pasti mengapa bangunan itu bisa ambruk hingga menimbulkan korban jiwa.
Selain upaya penyelidikan, pemerintah daerah bersama pihak pondok pesantren tengah melakukan langkah darurat untuk memperbaiki fasilitas yang rusak dan memastikan keamanan bagi santri lainnya.
Sementara itu, para korban luka telah mendapat penanganan di puskesmas serta rumah sakit terdekat, dan keluarga korban meninggal telah menerima pendampingan dari pihak berwenang.
1 Meninggal, Belasan Luka
Jadi kesimpulannya, total korban ambruknya atap ponpes Situbondo ada 19. Dari jumlah tersebut, satu meninggal dunia.
Sementara, lainnya mengalami luka-luka baik itu berat maupun ringan. Dan hingga kini, pihak berwajib masih menyelidiki lebih dalam agar mendapatkan informasi mengenai penyebab pasti insiden ponpes ambruk tersebut.***