
KabarJawa.com – Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan dengan perbincangan mengenai istilah “Hadeging Ratu”.
Banyak pengguna medsos yang penasaran dengan maknanya usai istilah ini disebut oleh adik Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Benowo dalam sebuah video yang kemudian viral itu.
Video tersebut beredar luas karena membahas pesan penting yang berkaitan dengan sosok pemimpin Keraton Surakarta.
Ia mengatakan bahwa resikonya besar jika bermain-main dengan Hadeging Ratu. Ucapannya ini membuat banyak orang bertanya-tanya soal apa sebenarnya maksud dari kalimat tersebut dan mengapa istilah itu terasa begitu sarat makna.
Hadeging Ratu Artinya Apa?
Secara etimologis, istilah “Hadeging Ratu” adalah kata yang berasal dari Bahasa Jawa. Terdiri dari dua kata utama, yakni “Hadeging” dan “Ratu”, keduanya memiliki makna yang berbeda namun saling melengkapi.
Kata “Hadeging” berasal dari akar kata hadeg yang berarti berdiri, bangkit, atau berdirinya sesuatu. Dalam konteks kebudayaan Jawa, kata ini sering digunakan untuk menyimbolkan lahirnya suatu kekuasaan atau berdirinya suatu pemerintahan.
Sementara itu, “ratu” berarti raja atau penguasa, yang dalam kebudayaan Jawa tidak selalu merujuk pada laki-laki, melainkan bisa juga pada pemimpin wanita atau bahkan makna simbolik yang menggambarkan pusat kekuasaan dan kehormatan.
Jika kedua kata ini digabungkan, maka Hadeging Ratu dapat diartikan sebagai berdirinya seorang raja atau lahirnya kekuasaan baru.
Dalam konteks yang lebih luas, istilah ini juga bisa dimaknai sebagai momen ketika sebuah kerajaan atau pemerintahan baru resmi berdiri, baik secara politik maupun spiritual.
Makna Hadeging Ratu dalam Konteks Keraton
Merangkum dari berbagai sumber, diketahui bahwa dalam sejarah dan budaya Jawa, istilah ini memiliki makna yang sakral.
Di Keraton Surakarta Hadiningrat, dikenal sebuah tradisi tahunan yang disebut Wilujengan Hadeging Keraton, yaitu upacara selamatan untuk memperingati hari berdirinya keraton.
Upacara ini biasanya dilaksanakan dengan penuh khidmat, diiringi doa bersama serta ritual adat yang menandai rasa syukur atas keberlangsungan pemerintahan dan budaya keraton.
Karena itu, ketika KGPH Benowo menyinggung istilah Hadeging ratu, hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya keraton.
Ucapan itu juga dapat dimaknai sebagai bentuk pengingat agar tidak ada pihak yang mempermainkan proses suksesi atau peralihan kekuasaan.
Filosofi di Balik Ucapan KGPH Benowo
Jika diperhatikan lebih dalam, ucapan KGPH Benowo bukan hanya sekadar komentar mengenai tahta, melainkan juga mengandung nilai-nilai kebijaksanaan Jawa yang tinggi.
Dalam filosofi Jawa, setiap kedudukan, terutama yang menyangkut kepemimpinan, bukanlah hasil ambisi pribadi, melainkan amanah yang diberikan oleh kekuatan yang lebih tinggi.
Dari sini, muncul tafsir bahwa istilah Hadeging Ratu tidak hanya sekadar kalimat biasa, tetapi mengandung filosofi mendalam tentang kekuasaan, legitimasi, dan takdir dalam tradisi Jawa.***