
Yogyakarta, KabarJawa.com – Dulu kebaya hanya hadir sebagai pakaian yang digunakan pada acara-acara yang bersifat formal. Namun para perempuan hebat yang hadir dalam peringatan Hari Kebaya Nasional Ke-3 Tahun 2026 di Yogyakarta mengatakan bahwa kebaya lebih dari sekedar busana.
Mereka sepakat bahwa kebaya telah menjadi bagian dari identitas bangsa yang dibalik kain dan motifnya terdapat nilai sejarah, pendidikan karakter, ekonomi kreatif, hingga peluang diplomasi budaya Indonesia di tingkat global. Karena itu kebaya harus tetap dijaga kelestariannya namun harus bisa relevan bagi generasi muda.
Peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 sendiri digelar dengan mengusung tema “Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia”. Acara digelar meriah di Plaza Serangan Oemoem 1 Maret, Kawasan Benteng Vredeburg, Jumat (24/7/2026) dan mempertemukan komunitas perempuan berkebaya, pelaku budaya, akademisi, organisasi masyarakat, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum.
Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi yang haidr langsung dalam peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 mengatakan kebaya memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pakaian.
“Kebaya bukan sekadar pakaian. Kebaya adalah narasi panjang tentang peradaban Nusantara, yang merekam perjalanan sejarah, nilai kesopanan, estetika, kemampuan adaptasi budaya, sekaligus identitas perempuan Indonesia dari masa ke masa,” katanya.
Pengakuan UNESCO terhadap kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2024, menurutnya menjadi pencapaian penting. Namun, status tersebut juga membawa tanggung jawab yang lebih besar.
“Pengakuan UNESCO tersebut bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang semakin besar. Memiliki makna yang sangat penting serta dalam pengakuan tersebut tersirat bahwa kebaya bukan hanya sekadar produk sandang, melainkan keseluruhan sistem pengetahuan budaya yang melingkupinya,” terang Dian.
Karena itu, pelestarian kebaya tidak cukup hanya dengan mengenakannya. Pengetahuan tentang nilai, sejarah, keterampilan, dan ekosistem budaya yang mengiringinya juga perlu terus diwariskan.
Di tengah pengakuan dunia, tantangan terbesar justru berada pada keberlanjutan kebaya di generasi berikutnya. Dian menyebut regenerasi sebagai pekerjaan penting yang harus dilakukan bersama.
Menurutnya, kebaya tidak harus kehilangan jati diri agar dapat diterima generasi muda. Sebaliknya, kebaya perlu diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak muda.
“Regenerasi bukan berarti mengubah nilai kebaya, melainkan menghadirkan kebaya dalam bahasa zaman tanpa harus kehilangan jati dirinya. Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk mencintai kebaya melalui cara-cara yang sesuai dengan dunianya. Mereka akan menjadi duta budaya Indonesia yang mampu membawa pesona kebaya ke panggung dunia,” ujarnya.
Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat pun dinilai memiliki peran penting. Hari Kebaya Nasional diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan budaya yang terus hidup.
Di sisi lain, kebaya juga memiliki peran nyata dalam menggerakkan ekonomi kreatif. Ketua Panitia Hari Kebaya Nasional Ke-3, Yani Ambar Polah melihat satu kebaya sebagai bagian dari rantai ekonomi yang panjang.
“Tadi sudah disampaikan bahwa kebaya dari sehelai kain, sehelai benang yang dirajut, yang akhirnya akan menggerakkan dari semua komponen yang ada—baik itu dari pekerjaannya sendiri yang menjahit, pembatik, aksesori, dan sebagainya—sehingga di sinilah ekonomi kreatif bergerak. Kebaya merupakan simbol ekonomi kreatif,” katanya.

Di dalamnya terdapat banyak pelaku, mulai dari pembatik, penjahit, perancang busana, perajin aksesori, hingga pelaku usaha wastra Nusantara. Namun, kebaya juga dinilai memiliki nilai pendidikan karakter yang tidak kalah penting.
“Yang kedua, kebaya sebagai pendidikan karakter, di mana kita memakai kebaya diajarkan untuk selalu bertutur kata, beretika, santun, lembut, tetapi di balik kelembutan itu kita mempunyai kekuatan tersendiri,” tambah Yani.
Lebih jauh, Yani menuturkan bahwa kebaya juga dapat menjadi identitas yang dibawa masyarakat Indonesia ketika berada di luar negeri.
“Kebaya juga sebagai diplomasi bangsa, di mana kalau kita ke luar Indonesia akan selalu dilihat dengan mudah siapa dia—dia orang Indonesia dengan ciri khas kebaya yang kita pakai,” ucapnya.
Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong agar kebaya tidak hanya muncul dalam peringatan tertentu. Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati mengajak masyarakat menjadikan kebaya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Lucia menilai kebaya memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat, sekaligus merepresentasikan keindahan, kesopanan, dan keanggunan perempuan Indonesia.
Ia mengatakan upaya pelestarian kebaya dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mengenakan kebaya dalam beragam kesempatan, memperkenalkannya kepada generasi muda dan masyarakat internasional, hingga mendukung industri kebaya dan wastra Nusantara agar terus berkembang.
Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam menilai Hari Kebaya Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni.
“Acara ini bukan hanya sekadar perayaan seremonial semata, melainkan sebuah gerakan budaya nasional yang amat penting,” ucapnya.
Ia mengingatkan bahwa budaya bukan sesuatu yang hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu.
“Budaya tidak hanya warisan saja dari masa lalu, tapi budaya juga harus kita kembangkan bersama-sama,” imbuhnya.
Karena itu, menurutnya kebaya perlu terus hadir di ruang publik dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Antusiasme ratusan peserta juga terlihat jelas dalam peringatan Hari Kebaya Nasional 2026. Salah satunya terlihat dari penampilan 600 perempuan berkebaya yang memainkan angklung bersama.
Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam pun berharap, kebaya semakin dikenal luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai penjuru dunia.
“Semoga pesona kebaya Indonesia tidak hanya mekar di tanah air, tapi juga mampu menginspirasi dan menebar pesonanya hingga ke seluruh penjuru dunia,” pungkasnya.
Peringatan Hari Kebaya Nasional Ke-3 Tahun 2026 di Yogyakarta menjadi pengingat bahwa kebaya memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada lemari pakaian. Ia hidup dalam sejarah, tumbuh melalui kreativitas, menggerakkan ekonomi, membentuk karakter, dan dapat menjadi salah satu wajah Indonesia ketika berjumpa dengan dunia.***