
KABAR JAWA – Di tengah geliat dunia musik eksperimental dan elektronik yang terus berkembang, lahirlah GAUNG sebuah inisiatif kolektif yang tidak sekadar menghadirkan festival musik, tetapi juga membangun jaringan kerja lintas komunitas dan generasi.
Dimulai sejak tahun 2024 oleh tiga tokoh penting dari skena musik alternatif Yogyakarta yaitu Ari Wulu, Andreas Siagian, dan Wok The Rock, GAUNG menjelma menjadi wadah kreatif dan kolaboratif yang menyatukan semangat gotong royong dengan kerja artistik.
Ketiganya merupakan pelaku musik yang telah aktif sejak akhir 1990-an melalui berbagai kolektif seperti Gayam 16, Instrumentasia, dan Yes No Klub.
Memasuki tahun 2025, GAUNG memperluas timnya dengan kehadiran Leilani Hermiasih, seorang penyanyi, penulis lagu, dan peneliti yang turut memperkaya perspektif dalam penyusunan program.
Dengan formasi lengkap, GAUNG kini bertransformasi menjadi sebuah ruang kerja modular yang tidak hanya menyajikan pertunjukan musik, tetapi juga berfokus pada pendidikan, diskusi, riset, dan pemberdayaan komunitas.
Festival yang Dirancang Sebagai Rangkaian Ekosistem
GAUNG bukan festival dalam pengertian konvensional. Ia bekerja sebagai sistem terbuka yang mendistribusikan aktivitasnya sepanjang tahun.
Melalui pendekatan modular, GAUNG memfasilitasi berbagai bentuk kegiatan yang berlangsung di berbagai lokasi di Yogyakarta, melibatkan banyak pihak dalam proses kreatif kolektif.
Fokus utama proyek ini adalah membangun fondasi kerja budaya yang berkelanjutan dan merespons kebutuhan komunitas musik dengan pendekatan kontekstual.
Program-program GAUNG tersebar sepanjang tahun 2025 dan dirancang untuk membentuk satu ekosistem yang saling terhubung.
Dimulai dari Gaung Ignition yang digelar pada 27 Juli 2024 sebagai acara pengenalan, dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan utama yang menandai perjalanan GAUNG di tahun berikutnya.
Jelajah Program Utama GAUNG 2025
Gaung Rumakit (14 Maret 2025) menjadi forum terbuka bagi para pelaku musik elektronik dan eksperimental untuk berkumpul dalam semangat kenduri dan musyawarah. Di sinilah koordinasi dan refleksi kolektif atas jalannya program disusun secara bersama-sama.
Gaung RTFM (6–7 Mei 2025) adalah ruang diskusi publik yang menawarkan berbagai format interaktif seperti ceramah, debat, dan percakapan. Nama “RTFM” diambil dari frasa populer dalam forum daring, “Read The F**king Manual”, yang di GAUNG diartikan ulang sebagai ajakan untuk menciptakan panduan kolektif dalam praktik produksi musik, pengolahan suara, hingga pendekatan edukatif.
Pada edisi perdana tahun ini, GAUNG RTFM menghadirkan empat topik utama: bagaimana membangun karya musik kontemporer, manajemen suara dalam pertunjukan, eksplorasi sejarah musik elektronik, serta praktik edukasi alternatif di era digital.
Program ini bersifat terbuka bagi publik meski dengan kapasitas terbatas, dan menjadi salah satu momentum penting dalam memperluas wacana di komunitas.
Salon Gaung (7–11 Agustus 2025) menawarkan ruang pengembangan kapasitas melalui lokakarya intensif yang fokus pada keterampilan teknis produksi audio, penciptaan karya, dan tata kelola proyek.
Kegiatan ini digagas sebagai sarana penguatan keahlian praktis yang dilandasi dengan pemikiran kritis, dan dirancang agar dapat memberikan kontribusi langsung ke komunitas masing-masing peserta.
Gaung Gumaung (10–17 Agustus 2025) menjadi puncak perayaan dalam bentuk festival multidimensi. Di dalamnya terdapat panggung konser musik elektronik, area pameran, ruang dengar, pasar tiban, serta sesi jejaring antar kolektif.
Dengan berlangsung selama tujuh hari, program ini bekerja sama dengan berbagai komunitas kreatif lokal, memperkuat posisi GAUNG sebagai simpul kolaborasi lintas disiplin.
Merayakan Bunyi dan Pengetahuan Secara Kolektif
GAUNG tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang membangun pengetahuan bersama. Dengan menjadikan festival sebagai ruang pertukaran ide dan pengalaman, GAUNG memperlihatkan bagaimana skena musik bisa menjadi medium untuk dialog lintas latar belakang.
Baik itu lewat diskusi, lokakarya, atau pertunjukan, setiap program GAUNG dihadirkan untuk menciptakan resonansi baru dalam peta musik elektronik dan eksperimental di Indonesia.
Melalui kerja kolaboratif yang terbuka dan berkelanjutan, GAUNG terus menegaskan perannya sebagai catu daya penting dalam ekosistem budaya kontemporer Yogyakarta menghubungkan talenta, membangun narasi baru, dan memperluas jangkauan kerja budaya yang berakar pada solidaritas dan inovasi.***