
Yogyakarta, KabarJawa.com – Prestasi membanggakan diraih alumni Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Marcelo Diaz Octavianus. Lulusan angkatan 2018 tersebut berhasil meraih Juara I dalam Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026 melalui karya bertajuk Cahaya Pradipta, sebuah rancangan gerbang perbatasan yang menggabungkan lanskap alam Gunungkidul, filosofi budaya Yogyakarta, dan pendekatan arsitektur kontemporer.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendekatan desain yang berangkat dari konteks lokal mampu menghadirkan karya arsitektur yang inovatif sekaligus memiliki nilai budaya. Selain menjadi pencapaian pribadi bagi Marcelo, prestasi tersebut juga memperkuat kontribusi alumni UAJY dalam dunia arsitektur nasional.
Ide besar di balik Cahaya Pradipta tidak muncul dari ruang studio, melainkan dari pengalaman langsung saat Marcelo melakukan survei lapangan di kawasan Rongkop, Gunungkidul.
Ia mengaku sempat kesulitan menemukan konsep yang berbeda dari karya-karya lain. Namun, momen ketika melihat bukit kapur yang terbelah dan ditembus cahaya matahari menjadi titik awal lahirnya gagasan tersebut.
“Awalnya saya justru belum punya ide. Saya ingin membuat sesuatu yang anti-mainstream. Saat survei ke Rongkop, saya melihat bukit kapur yang terbelah dengan cahaya matahari yang menembus di tengahnya. Dari situ saya mendapatkan inspirasi. Cahaya tersebut seakan menyambut saya datang ke Jogja,” ujar Marcelo.
Pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi sebuah penanda perbatasan yang tidak sekadar berfungsi sebagai gerbang, tetapi juga menghadirkan pengalaman ruang yang memberikan kesan hangat kepada setiap orang yang memasuki wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam rancangan Cahaya Pradipta, Marcelo menempatkan cahaya sebagai simbol utama. Menurutnya, cahaya bukan hanya elemen visual, tetapi menjadi representasi keramahan masyarakat Yogyakarta yang terbuka bagi siapa pun yang datang.
“Saya ingin orang tidak hanya melihat keindahan gerbangnya, tetapi juga merasakan atmosfer alam yang menyatu dengan gerbang tersebut. Filosofi cahayanya adalah cahaya yang menyambut, seperti keramahan masyarakat Jogja yang selalu menerima siapa pun yang datang,” katanya.
Konsep tersebut dipadukan dengan lanskap alami Gunungkidul sehingga bangunan tidak berdiri sebagai objek yang terpisah, melainkan menjadi bagian dari lingkungan sekitarnya.
Salah satu tantangan terbesar Marcelo dalam proses perancangan adalah menghadirkan identitas Yogyakarta secara spesifik, bukan sekadar merepresentasikan budaya Jawa secara umum.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia memasukkan motif Batik Kawung pada panel aluminium yang digunakan dalam desain. Menurutnya, Batik Kawung dipilih karena memiliki makna keadilan dan kemakmuran sekaligus menjadi salah satu simbol budaya yang melekat pada Yogyakarta.

“Kesulitannya adalah bagaimana membuat bangunan yang unik tetapi tetap mengandung unsur budaya Jogja. Salah satunya saya mengangkat motif Batik Kawung pada panel aluminium karena memiliki makna keadilan dan kemakmuran serta menjadi salah satu identitas budaya Yogyakarta,” ungkapnya.
Pendekatan budaya tersebut kemudian dipadukan dengan penggunaan material modern, struktur modular, serta bentuk bangunan yang dinamis sehingga menghasilkan rancangan yang tetap relevan dengan perkembangan arsitektur masa kini.
Marcelo menilai budaya akademik di Program Studi Arsitektur UAJY memiliki peran penting dalam membentuk pola pikirnya sebagai arsitek. Selama menempuh pendidikan, para dosen mendorong mahasiswa untuk selalu menghasilkan karya yang memiliki pembeda serta berani menawarkan gagasan baru.
“Selama kuliah, dosen-dosen selalu menekankan apa bedanya karya kita dengan yang lain. Kami dituntut untuk berpikir out of the box dan selalu mencari sesuatu yang unik. Cara berpikir itu yang masih saya pegang sampai sekarang ketika berkarya di bidang arsitektur,” kenangnya.
Menurutnya, kebiasaan berpikir kritis dan kreatif tersebut menjadi bekal utama dalam mengikuti berbagai kompetisi desain.
Bagi Marcelo, kemenangan dalam Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026 tidak hanya menjadi prestasi individu.
Ia berharap pencapaian tersebut dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai profesi arsitek yang selama ini masih sering dipandang sebatas perancang bangunan besar.
“Harapan saya masyarakat semakin mengenal arsitek bukan hanya untuk proyek besar atau mahal, tetapi juga berperan menciptakan rumah yang nyaman, aman, dan berkualitas,” terangnya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai kompetisi sebagai media belajar sekaligus mengembangkan kemampuan profesional.
“Kalau ada sayembara, dari mana pun, ikuti saja. Kalau menang syukur, kalau belum juga tetap syukur karena itu bagian dari proses pengembangan diri. Selagi ada kesempatan, kenapa tidak diambil? Kesempatan tidak datang dua kali,” pungkasnya.***