
Kabarjawa – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Gresik bagian selatan mengakibatkan banjir parah rendam Driyorejo. Sejumlah jalan utama dan pemukiman warga terendam air dengan ketinggian mencapai hampir satu meter.
Hujan yang turun sejak sore hingga malam hari menyebabkan sistem drainase tidak mampu menampung tingginya debit air.
Akibatnya, beberapa wilayah mengalami genangan yang cukup serius, terutama di kawasan Jalan Sumput, perumahan, dan desa-desa sekitar.
Jalan dan Permukiman Warga Terendam
Banjir yang melanda kawasan ini tergolong lebih parah dibanding sebelumnya. Salah satu titik terdampak paling serius adalah Jalan Sumput, yang meskipun telah diperbaiki dan ditinggikan hingga 80 cm, tetap terendam sepenuhnya akibat tingginya volume air.
Tak hanya Jalan Sumput, beberapa kawasan pemukiman seperti Perumahan De Naila, Perumahan Sumput, serta Desa Tanjungan juga terdampak.
Di Desa Tanjungan, genangan air mencapai 15 cm hingga masuk ke dalam rumah warga. Sementara di Desa Sumput, tepatnya di RT 11, ketinggian air bahkan mencapai lutut orang dewasa.
Saluran Air Kecil dan Alih Fungsi Lahan
Salah satu penyebab utama banjir di Driyorejo adalah kapasitas saluran air yang terlalu kecil. Drainase yang ada tidak mampu menampung curah hujan tinggi, sehingga air meluap ke jalan dan permukiman warga.
Selain itu, pembangunan perumahan yang semakin marak di kawasan Mojosarirejo turut memperburuk kondisi. Dahulu, wilayah ini memiliki banyak area persawahan yang berfungsi sebagai resapan air alami.
Namun, seiring bertambahnya pembangunan, lahan tersebut berubah menjadi permukiman, mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan. Hal ini membuat aliran air dari Mojosarirejo mengarah ke Sumput, memperparah banjir di daerah tersebut.
Upaya Penanganan dan Harapan Warga
Pemerintah Desa Sumput telah mengajukan permohonan ke Dinas PUPR Kabupaten Gresik untuk memperbaiki sistem drainase, namun hingga kini belum ada tanggapan. Proposal perbaikan telah dikirim sejak Januari 2025, namun belum mendapatkan respon.
Sebagai langkah darurat, pihak desa telah membuka pintu bendungan (DAM) untuk mempercepat surutnya air. Dengan pembukaan DAM ini, diharapkan air yang menggenangi jalan dan pemukiman segera mengalir dan tidak bertahan dalam waktu lama.
Banjir yang terjadi di Driyorejo Gresik menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat terkait pentingnya sistem drainase yang memadai.
Selain itu, dampak dari alih fungsi lahan juga perlu diperhatikan agar tidak semakin memperparah banjir di masa mendatang. Dengan adanya tindakan cepat dan perbaikan saluran air, diharapkan kejadian serupa tidak terus berulang.(Kabarjawa)